Jadi Sentra Bawang Merah Nasional, Bima Butuh Dukungan

MATARAM—Dalam upaya mewujudkan Kabupatan Bima dan Sumbawa sebagai salah satu pusat sentra bawang merah nasional, perlu dukungan konkrit dari berbagai pihak. Mulai dari sektor hulu hingga hilir yang saling terintegrasi dan berbasis sistem informasi yang akurat.

Sektor Hulu selain perlu adanya pengaturan masa tanam, di sisi lain diperlukan penguatan kelembagaan pertanian. Sedangkan di sisi hilir, diperlukan teknologi pasca panen yang efisien, usaha 'memotong' mata rantai distribusi yang panjang, dukungan tata kelola penyimpanan (cold storage) atau resi gudang dan Insentif harga yang berimbang.

"Perlu penanganan komprehensif dan dukungan semua pihak agar program pemerintah yang telah menjadikan Kabupaten Bima sebagai sentra produksi bawang merah nasional berhasil, mencakup bantuan peningkatan produksi, pemasaran dan modal usaha tani agar tidak lagi bergantung pada rentenir," ungkap Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Farouk Muhammad, dalam rilis persnya saat memimpin pertemuan terkait pengembangan Kabupaten Bima dan Sumbawa sebagai sentra pusat bawang merah nasional di Gedung DPD RI Jakarta, beberapa waktu lalu.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut Sekretaris Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian Sayid Taufik, Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Euis Saedah, Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan Syahrul Mamma, Sekretaris Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor (IPB) Awang Maharijaya, dan EVP Bisnis Program Pangan dan Kemitraan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tri Wintarto.

Farouk Muhammad menambahkan, seiring dengan kebijakan pemerintah bahwa tahun 2016 impor bawang merah segar tidak lagi diizinkan, maka menjadi sebuah tantangan bagi Pemerintah Daerah (Pemda) Bima dan Sumbawa berupaya secara serius meningkatan kualitas dan kuantitas produksi bawang merah.

"Pembinaan dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) petani harus terus ditingkatkan termasuk untuk sarana dan teknologi yang dibutuhkan" jelas putra asli Bima ini. 

Dalam pertemuan tersebut, Sekretaris Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian Sayid Taufik memaparkan kontribusi Bima dan Sumbawa terhadap produksi bawang merah secara nasional mencapai sepuluh persen. Untuk tahun 2016 saja share bawang merah Kabupaten Bima dengan luas tanam 12.102 Ha dan luas panen 10.158, dihasilkan produksi 106.663 Ha atau hampir setara 124 ribu ton. Adapun Kabupaten Sumbawa, dengan luas tanam 2.606 Ha dan luas panen 2.085 Ha mampu memproduksi 21.890 Ha atau setara 23,9 ribu ton. Adapun, alokasi anggaran 58 Miliar (7 persen) di Bima merupakan total anggaran Dirjen Hortikultura.

"Kementerian pertanian berkomitmen untuk tidak melakukan impor di tahun 2016, karenanya kami memberi perhatian khusus kepada Bima sebagai salah satu sentra bawang nasional," ucapnya.

Sementara itu perwakilan Bank BRI Tri Wintarto menyampaikan, bahwa selama ini pihaknya telah menyalurkan pinjaman kepada petani bawang merah Bima mencapai 1000 orang. Mereka juga menyediakan berbagai macam Kredit Usaha Rakyat (KUR) baik mikro maupun retail dengan bunga yang relatif rendah sebesar 9 persen. Selain itu, BRI juga menginisiasi Kartu Tani dan sistem Informasi Pertanian Indonesia (SIPI) sebagai sarana memudahkan para petani bawang merah menjual hari produksi mereka.

"Bank BRI keberadaan cabang-cabangnya ada hingga pelosok, tentu secara alamiah siap memberikan bantuan kepada para petani bawang merah di Bima dan Sumbawa," tandasnya. Seraya menambahkan,  Kabupaten Bima dan Sumbawa, ditetapkan oleh pemerintah sebagai salah satu daerah sentra bawang merah nasional guna memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor. (yan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid