Jadi Idola Mahasiswa, Target Doktor Linguistik Termuda

CALON DOKTOR : Ni Wayan Prami Wahyudiantari sebagai calon doktor termuda (Sudir/Radar Lombok)

Ni Wayan Prami Wahyudiantari adalah salah satu dosen muda di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram. Selain cantik, ia cerdas dan tetap mengutamakan pendidikan. Saat ini ia tengah menempuh S3 di Universitas Udayana jurusan Linguistik.

 

 


SUDIRMAN-MATARAM


 

Ia dikenal sebagai dosen yang disiplin selama ini. Perempuan kelahiran 8 Juni 1987 mudah bergaul. Ia disenangi mahasiswanya. Ketekunan dan kedisiplinan membuatnya sukses di dunia akademik. Saat menempuh pendidikan S1 tahun  2005-2009 di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Mataram, ia mendapat hasil cumlaude dengan IP 3,50.” Prestasi ini yang membuat saya berkesempatan melanjutkan S2 di Universitas Negeri Surabaya sekaligus diangkat sebagai dosen tetap di IKIP Mataram. Saya menerbitkan sebuah buku yang berjudul Practise Your Vocabulary Mastery,” ungkapnya saat ditemui Radar Lombok belum lama ini.

Prami dikenal sebagai dosen dengan banyak prestasi. Sejak duduk di bangku sekolah ia memang aktif di organisasi. Setelah meraih gelar master, ia melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.  Ia masuk sebagai calon doktor Lingustik di Universitas Udayana tahun 2014. “ Saya dapat beasiswa dari DIKTI sekaligus menjadi mahasiswi doktor linguistik termuda angkatan 2014. Saya target bisa jadi doktor termuda,” ungkapnya.

Ia mengakui rutinitas yang padat tidak membuatnya denga kewajibannya sebagai seorang istri bagi suaminya. Sebab bagaimanapun juga atas dukungan keluarganyalah ia bisa seperti saat ini. “ Tidak mudah membagi waktu antara tugas sebagai seorang dosen, mahasiswa doktor dan ibu rumah tangga. Oleh karena itu dibutuhkan “time management” dan komitmen yang kuat dalam menjalankan setiap tahapannya. Saya harus bisa memprioritaskan mana yang harus dilakukan dan dikerjakan terlebih dahulu tanpa menelantarkan tugas yang lainnya,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, siapa saja jika punya keinginan dan hasrat yang kuat untuk melakukan sesuatu dan disertai dengan fokus, maka orang tersebut akan menuai keberhasilan dalam hidup. Namun setinggi apapun pendidikan dan sehebat apapun jabatan, seorang perempuan katanya, tidak boleh melupakan kodrat dan kewajibannya sebagai seorang istri yang harus menghormati suami dan menomorsatukan keluarga. “Saya selalu berdoa dan bersyukur atas segala anugrah yang Tuhan. Karena kesuksesan adalah kombinasi antara kerja keras dan do’a,” pungkasnya.(*)