Jadi Bisnis Unggulan, Sebagian Hasilnya untuk Penderita Stunting

Jadi Bisnis Unggulan
SOSIAL ENTERPRENUER : Mawar Juniata (pakai kaca mata) bersama kaum ibu-ibu yang melakukan gerakan menanam daun kelor di halaman rumah masyarakat.(HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

GIAT MAWAR JUNIATA MERACIK DAUN KELOR MENJADI OBAT LUKA

Mawar Juniata sebenarnya adalah perempuan perantau asal Provinsi Aceh. Namun berkat usahanya kini ia mampu memberdayakan masyarakat tempat tinggalnya di Dusun Gondang Timur Desa Gondang Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara.

MAWAR Juniata tak hanya berbakat berbisnis. Namun dalam kesehariannya, ia adalah instruktur senam zombi. Perempuan periang ini sudah mengabdikan dirinya kepada masyarakat KLU sejak tahun 2016 pada fokus peningkatan pelayanan publik dalam program Kompak. Di lingkungan pemda sudah dikenal sebagai pendamping setiap kegiatan pelayanan publik. Selain fokus dalam program bantuan Australia itu, ia juga lebih leluasa melakukan pengabdian di luar aktivitas formalnya tersebut. Tak sedikit yang mengetahui geliat di balik pengabdiannya sehari-harinya tersebut. 

Namun, di tengah masyarakat kaum ibu-ibu, ia lebih terkenal sebagai Mawar pembisnis racikan daun kelor. Popularitasnya di sebagian kaum ibu-ibu itu berawal dari pengabdiannya secara pribadi yang ingin membantu kaum ibu-ibu bisa mendapatkan penghasilan tambahan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Sebenarnya di tengah masyarakat sudah dikenal setahun lebih ini setelah mengajak pengembangan daun kelor. Kalau pengabdian di KLU sebenarnya sudah lama di lingkungan pemda fokus pelayanan publiknya,” tutur Mawar kepada Radar Lombok, kemarin (1/12). 

Ia menuturukan, temuan racikan daun kelor ini berawal dari kecelakaan yang dialami pada bulan Maret 2018 berlokasi di Pusuk, Pemenang. Kala itu luka yang dialaminya cukup parah, karena ia mengakui mengkonsumsi obat medis agak alergi. Ia pun mencoba browsing internet dan menemukan daun kelor sebagai obat tradisional penyembuh luka.

Baru kemudian ia menghubungi temannya asal Jogjakarta untuk mengirimkan bubuk daun kelor untuk obat lukanya. Kala itu juga, Mawar merasakan khasiat obat daun kelor ini. Lukanya langsung kering namun belum sembuh total. Ia pun ingin kembali memesan obat tersebut, namun kehabisan ongkos kirim. “Saya mau beli lagi di teman itu tapi kehabisan uang ongkir, akhirnya saya berpikir mencari di internet bagaimana cara meraciknya di samping itu juga saya tanya teman itu,” tuturnya. 

Tepatnya bulan Juni 2018 sudah mencoba mengolah sendiri dengan membeli daun kelor di Pasar Tanjung. Kelor itu lalu dicuci dan dijemur selama dua hari. Setelah itu diblender menjadi bubuk daun kelor. Nah, bubuknya itulah yang harus dioleskan di luka tanpa dicampuri bahan lainnya. Atau, bubuk ini juga bisa diminum langsung dengan campuran 2 sendok makan bubuk daun kelor dicampur 1 liter air putih. Campuran ini dimasak untuk kemudian diminum. “Bisa juga dibuat menjadi jus. Itu tekun saya lakukan setiap hari sehingga luka saya cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali seperti sekarang,” jelasnya sembari melihat bekas lukanya yang sudah sembuh. 

Mawar kemudian iseng-iseng meng-aploud di facebook pribadi sebagai bentuk pemberitahuan kepada masyarakat akan khasiat dari daun kelor. Teman-temannya dari luar daerah akhirnya banyak yang mencoba memesan. Dari pesanan itu akhirnya Mawar mencoba memproduknya dengan kebutuhan kelor 50 kg per minggu. Karena setiap minggunya ada yang pesan 20-30 botol ukuran 60 gram dengan harga Rp 55 ribu, masker kelor dengan berat 50 gram Rp 50 ribu per bungkus. ‘’Yang meminta itu dari Jakarta Selatan, Tangerang, Aceh, Medan, Sulawesi, Pekan Baru, Kalimantan, Jawa Barat, dan Lombok. Dari sanalah banyak memesan,” ungkapnya. 

Semakin hari semakin banyak permintaan, Mawar pun kesulitan bahan baku. Di tengah masyarakat KLU sangat terbatas menanam daun kelor, dari sanalah Mawar mengajak kaum ibu-ibu melakukan gerakan menanam daun kelor. Ia siap membelinya dengan harga Rp 10 ribu per kg lebih mahal dari pada harga di pasar. Sekarang sudah ada kelompok ibu-ibu yang ikut dalam gerakan itu, ada satu hektare permukiman masyarakat di Dusun Gondang Timur Desa Gondang Kecamatan Gangga melakukan penanaman daun kelor itu. “Sekarang pagar-pagar tembok yang hancur itu diubah menjadi pagar daun kelor,” terangnya. 

Dari bisnis racikan daun kelor itu Mawar memperoleh omzet Rp 8 juta per bulan. Dari informasi disampaikan masyarakat itu sekarang berbondong melakukan gerakan itu. Dari omzet diperoleh, Mawar menyisihkan 2,5 persen dari hasil penjualan didonasikan kepada anak-anak stunting dan kurang gizi di KLU. Mawar memberikannya enam bulan sekali atau dua kali dalam setahun. “Penyerahan donasi disampaikan melalui Dinas Kesehatan KLU,” ungkapnya. 

Apa yang dilakukan itu menjalankan sosial enterprenuer dengan harapan bisa membantu kaum perempuan di KLU agar bisa menyekolahkan anak-anaknya selalu sehat. Sekarang masyarakat harus mengetahui bahwa daun kelor tidak hanya bisa dimasak sebagai lauk sayur pada saat makan saja namun lebih dari pemanfataannya. “Kita harapkan juga ada potensi lainnya yang bisa difasilitasi oleh pemerintah kepada kaum perempuan yang tidak bekerja itu,” harapnya. (**)