Izzul Ogah Agresif, Lebih Memilih Jadi Penyeimbang

Ngobrol dengan Bakal Calon Bupati Lobar

HM. Izzul Islam
CALON : Bakal Calon Bupati Lobar, H. M. Izzul Islam berbincang dengan Bakal Calon Wakil Bupati Lobar pendampingnya, TGH. Khudori Ibrahim di kediamannya. Khudori yang datang dengan menyetir sendiri itu mengagetkan Izzul karena tanpa diberitahu sebelumnya. (ZUL/RADARLOMBOK)

HM. Izzul Islam bisa dipastikan akan berkompetisi menjadi Calon Bupati Lombok Barat berdampingan dengan TGH. Khudori Ibrahim pada Pilkada Lobar 2018. Namun dari kemungkinan tiga Calon Bupati Lobar yang akan ditetapkan KPU, Izzul nampak santai. Bahkan tim pemenangan diakui belum dibuat.


ZULKIFLI-GIRI MENANG


Ditemui di kediamannya di Desa Sandik Kecamatan Batulayar, Selasa (23/1), Izzul tampak kurang sehat. Mengenakan kaos oblong hitam, sesekali dia terbatuk. Pria kelahiran Lobar 15 November 1970 ini mengaku tengah sakit batuk. Mungkin saja kata dia karena cuaca atau kesibukan menerima tamu yang terus datang.Tetapi meskipun tamu yang menyatakan dukungan terus berdatangan, tidak tampak muka masam dari pria berbadan atletis ini. Bahkan kemarin di sela-sela menerima tamu, dirinya masih sempat membicarakan soal rencana Kejuaraan Nasional Menembak bersama Pengurus Perbakin NTB yang akan digelar di lapangan tembak yang dibangunnya.

Izzul bersama Khudori sendiri mendaftar dengan kendaraan PDIP dan PKB. Pas-pasan sembilan kursi seperti syarat minimal jumlah kursi dukungan partai di DPRD Lobar yang dipersyaratkan KPU Lobar. Dia pun mengaku sampai saat ini belum membentuk tim pemenangan. Karena memang untuk membuat tim pemenangan itu tidak semudah yang dibayangkan. “Membuat tim tidak semudah yang kita bayangkan, bisa kita ‘rusak’ dari tim sendiri,” terangnya.

Sehingga untuk tim lanjutnya, tentu nanti dari para sahabat, teman dekat yang akan diserahkan kepercayaan. Dia sendiri merencanakan setelah pencabutan nomor urut pada 13 Februari 2018, baru akan dipublikasikan tim. Namun untuk sementara, PDIP yang akan membuat tim pemenangan di internalnya dahulu. PKB mungkin juga nanti akan membuat tim pemenangan sendiri, karena tidak dipungkiri sulit partai itu ketemu. “Ya mudah-mudahan bisa ketemu,” terangnya.

BACA JUGA :  Prof Sunarpi Gandeng Faurani di Pilkada NTB

Adapun untuk tim kampanye, diakuinya sudah didaftarkan secara resmi di KPU. Tim dipimpin oleh TGH. Munadjib, tokoh agama di Kecamatan Gunung Sari. “Habis tuan guru ‘diambil’ orang. Saya punya TGH. Munadjib saja, kita masukkan dia di tim resmi di KPU, sebagai juru kampanye. Tetapi (TGH. Munadjib) tidak perlu terlalu agresif, cukup dengan doa dan senyum,” jelasnya.

Selain itu juga diakuinya, komunikasi saat ini sudah dilakukan dengan H. Lalu Sajim Sastrawan, Calon Bupati Lobar yang dahulu berdampingan pula dengan TGH. Munadjib pada Pilkada Lobar 2008. Di mana Sajim pada Pilkada Lobar 2018 ini juga berkeinginan maju menjadi Bakal Calon Bupati Lobar, tetapi tidak mendapatkan partai. Selain itu juga kata dia, komunikasi dilakukan dengan Bakal Calon Bupati Lobar, TGH. Hasanain Juaini yang juga gagal melaju karena kurang dukungan partai. “Kalau sama-sama berpikir Lobar, ayo bantu kita, apalagi tujuan kita sama, bukan hanya karena menjadi bupati saja baru kita bisa berpikir dan berbuat untuk Lobar. Bahkan dari luar itu yang banyak idenya,” jelasnya.

Seperti diketahui saat ini selebaran kampanye hitam sudah menyebar di tengah masyarakat menjelek-jelekkan paket yang akrab disebut Zul-Khair ini. Dikatakan, dirinya tidak reaktif dan agresif. Tetapi pihaknya sudah melaporkan kepada Bawaslu dan juga Polres Lobar. Bahkan Senin malam (22/1) beber Izzul sudah dikumpulkan sekitar 200 orang pendukung, guna diminta untuk tidak menanggapi, menyikapi atau mencari-cari orang yang menyebarkan. Karena kalau ditanggapi lanjutnya, bisa terjadi perang. “Walaupun misalnya hati ini sudah (panas), kita pura-pura minta sabar, tetapi sebenarnya ingin nerkam. Tetapi kalau kita duluan emosi, orang ikut (emosi), karena yang disebut itu Gunung Sari dan Batu Layar, makanya saya suruh sabar. Kadang-kadang munafik juga kita, makanya batuk ga sembuh-sembuh, karena panas terus,” ujarnya dengan gelak tawa.

Kemudian lanjut mantan Wakil Bupati Lobar ini, dirinya memilih tidak terlalu reaktif dan menggebu-gebu. Khawatirnya, kalau menggebu-gebu, imbasnya adalah masalah keamanan. Selain memang dirinya berkeinginan menjadikan Pilkada di Lobar ini sebagai contoh, bahwa tidak ada pelibatan massa yang berujung pada kekerasan dan intimidasi. “Makanya saya jaga diri, tidak terlalu muncul, kalau kita terlalu maksakan diri, itu akibatnya bisa lain. Apalagi sekarang ada medsos, facebook. Itu yang kadang-kadang saya sering kali negur kawan-kawan sendiri. Sudahlah kita jangan ikut keras jawaban-jawabannya,” ujar mantan anggota DPR RI ini.

Di Lobar sendiri kata dia, beragam sukunya. Pendukung Zul-Khair juga beragam. Setidaknya dengan dukungan Partai Perindo yang memiliki kepengurusan dari kecamatan hingga desa, pasti ada suara. Belum lagi dari partai pengusung, sahabat dan lainnya. Para pendukung inipun dijaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Saya berhitung, kenapa saya tidak terlalu agresif. Sekali kalau saya agresif, nanti pendukung-pendukung saya lebih agresif lagi. Salah sedikit bisa running,” tegas pria yang memilih tidak menggunakan tim survei atau konsultan politik ini.

Zul-Khair sendiri lanjut Ketua Muaythai NTB ini mengaku lebih menjadi penyeimbang di antara dua paslon lainnya. Waktu enam bulan ini diyakininya cukup panjang untuk berkampanye. Kendatipun diakuinya saat ini aturannya terlalu ketat. Salah sedikit bisa didiskualifikasi. Misalnya saja terkait politik uang. “Kita merasa tidak leluasa, takutnya orang berbuat (politik uang), kita yang dituduh. Bisa saja orang mengorbankan diri, bilangnya dari kita. Makanya saya tidak mau terlalu terpancing. Misalnya kadang-kadang (diinfokan) ini bagi-bagi uang di sini, (tujuannya) supaya saya ikut. Saya tidak akan melakukan itu, saya akan tetap menjaga stabilitas keamanan di Lobar. Kita niatnya memperbaiki, bukan buat keributan,” jelasnya.

Zul-Khair sendiri di situs KPK tecatat sebagai Bakal Paslon terkaya. Kekayaan Izzul yang berstatus terverifikasi Rp 29.898.737.436,-. Kemudian Khudori Rp 8.787.009.683,-. Untuk ukuran mantan pejabat dan yang memang sudah memiliki kekayaan sejak kecil, karena dari kelas 6 SD juga sudah mulai jual beli sapi dan bisnis, nilai Rp 29.898.737.436,- itu jauh berkurang. Sekitar 10 tahun lalu itu kekayaan mencapai ratusan miliar. Hal inipun lantas menjadi persoalan tersendiri saat melaporkan ke KPK sebagai syarat pencalonan di KPU. “KPK kaget, kenapa berkurang sebanyak itu. Jadi berkurang saja capek dijelaskan. Apalagi misalnya bertambah,” jelasnya.

BACA JUGA :  Survei SMRC Pilkada Lobar, Fauzan Khalid belum Terkalahkan

Diceritakannya, melapor kekayaan di KPK sangat menguras tenaga. Karena dirinya harus merincikan kekayaan yang sudah sangat banyak berkurang. Selain memang dirinya lupa, sudah menjual ke mana saja aset-aset yang ada. KPK pun meminta rinci buktinya. Tetapi memang selain dijual, banyak juga yang dihibahkan sana sini untuk pembangunan masjid, dan KPK juga meminta bukti surat hibah di Kementerian Agama. Belum lagi yang disumbangkan sana-sini. KPK juga sangat aktif bahkan sampai mengakses ke Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN), sehingga di sana diketahui juga aset-aset yang tidak dilaporkannya. “Ditanya kenapa tidak dimasukkan dilaporkan, saya jawab karena mau dijual. Untuk apa? Karena mau kampanye. Itu saya sampai ditelepon malam-malam oleh KPK untuk ngecek. Meskipun orang kita yang mengurus (laporan) ada di sana,” jelasnya.

Sebegitu rincinya pertanyaan dan verifikasi dari KPK tambahnya, sampai-sampai dibuat surat pernyataan bahwa apabila ada kekeliruan akan diperbaiki. Karena memang waktu yang mepet, sementara tanda terima laporan kekayaan dari KPK itu dibutuhkan untuk diserahkan ke KPU Lobar. “Jadi nanti kalaupun ditakdirkan menang, saya tetap bilang Innalilllah, karena masalahnya lebih banyak lagi,” tandasnya. (*)