Izin Impor Sapi HKTI Belum Rampung

SAPI : Program impor sapi HKTI NTB belum berjalan hingga saat ini. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi NTB sejak tahun lalu berkoar-koar akan melakukan impor sapi Australia sebanyak 10 juta ekor. Namun hingga saat ini, ternyata masalah izin belum juga dituntaskan. 

Banyak masyarakat yang mulai mempertanyakan program tersebut. Pasalnya, sudah ribuan orang mendaftar untuk bisa mendapatkan jatah sapi sesuai ketentuan yang diberlakukan. 

Sekretaris HKTI Provinsi NTB, Iwan Setiawan yang dimintai kejelasannya, belum bisa memastikan kapan impor perdana bisa dilakukan. “Tinggal menunggu beberapa perizinan di Kementan,” terangnya kepada Radar Lombok, Senin (15/3).

Impor sapi yang akan dilakukan HKTI, jauh molor dari target. Rencana awal akhir Desember 2020 lalu sudah mulai dilakukan impor perdana. Namun molor ke Januari-Februari 2021. Kini hingga Maret, tak kunjung juga melakukan impor. 

Menurut Iwan, adanya pandemi Covid-19, menjadi salah satu penyebab molornya impor sapi dilakukan. Mengingat, terdapat beberapa regulasi yang berubah. “Ada perubahan terkait pandemi tentang sapi impor,” ucap pria yang bekerja di Pemerintah Kabupaten Lombok Timur ini. 

Jenis izin-izin apa saja yang sebenarnya belum selesai diurus di Kementerian Pertanian (Kementan)? Iwan tidak memberikan penjelasan rinci tentang hal itu. Kesan yang diberikan, Iwan juga kini tidak begitu bersemangat berbicara tentang impor sapi tersebut. Apalagi bisa memberikan kepastian kapan impor sapi direalisasikan. “Kita masih menunggu sampai bulan April ini dari Kementan,” kata tenaga kesehatan (Nakes) yang kini bekerja di BPBD Lotim ini. 

HKTI NTB telah menandatangani kerja sama dengan PT Mineral Energi Mulia (MEM), yang merupakan anak perusahaan dari PT Karya Hoqi untuk impor sapi. Ada pula kontrak kedua dengan PT Karya Hoqi sendiri selaku pemodal. 

Dalam kontrak kerja sama antara HKTI NTB dengan PT MEM, jelas tertulis HKTI NTB akan didropkan 10 juta sapi bakala (brahma) secara bertahap dalam jangka waktu 5 tahun. Angka 10 juta ekor sapi tersebut, merupakan jumlah kuota yang diberikan oleh Kementan kepada PT Karya Hoqi untuk memenuhi pasar ekspornya ke Timur Tengah. Artinya PT Karya Hoqi melimpahkan seluruh kuotanya untuk HKTI NTB.

Mekanisme kerja sama, HKTI NTB akan membeli sapi dari anak perusahaan PT Karya Hoqi yaitu PT MEM, sebanyak jumlah kuota tersebut. Setelah didatangkan dari Australia, sapi akan dipelihara di NTB sekitar 3 bulan. Barulah kemudian disembelih, dipacking di Lombok, dan diekspor ke Timur Tengah serta berbagai negara.

Iwan juga menyampaikan, HKTI saat ini terus melakukan persiapan. Diantaranya mempersiapkan Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS) di Desa Cendi Manik Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. “Insha Allah kita akan selesaikan IKHS dulu. Sekaligus RPH-nya disana,” terangnya. 

Lombok Barat dipilih menjadi sentral program tersebut karena dinilai representatif. “Banyak akan kita rekrut SDM nanti. Di Lotim nanti hanya penggemukan di masyarakat, kelompok tani. Untuk sentralnya di Lobar,” ucap Iwan Setiawan. (zwr)