Investasi Raffi Ahmad di RPH Banyumulek Terancam Gagal

Khaerul Akbar (RATNA / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Rencana artis sekaligus pengusaha Raffi Ahmad untuk berinvestasi senilai Rp 75 miliar untuk pengelolaan Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek terancam gagal. Pasalnya, hingga kini komitmen investasi dari pihak Raffi Ahmad tak kunjung terealisasi, meski sudah melakukan identifikasi dan survey lapangan oleh timnya beberapa bulan yang lalu.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi NTB, Khaerul Akbar mengaku sudah menanyakan kembali keseriusan Raffi Ahmad terkait kelanjutan rencana investasi mereka di RPH Banyumulek. Mengingat ada beberapa investor yang juga melirik investasi RPH tersebut. Hanya saja, sampai sekarang belum ada tanggapan dan kepastian yang menggembirakan dari pihak Raffi Ahmad sampai saat ini.

“Dengan Raffi Ahmad belum apa-apa, hanya masih kaitan mereka survey saja. Rencana survey dan belum ada hasil, bisa jadi tidak jadi saja bilang,” ungkap Khairul Akbar, Selasa (7/6).

Infomasi terakhir yang didapatkan Pemprov soal kejelasan investasi pembangunan pabrik pengolahan daging sapi ini, pihak Raffi Ahmad tetap berkomitmen untuk melakukan investasi sektor peternakan di NTB. Saat ini tengah menunggu keputusan pimpinan perusahaan selesai melakukan analisa usaha terkait untung dan rugi investasi di NTB.

Sebelumnya, RPH Banyumulek Lombok Barat dikelola oleh PT Siar Nusa Tenggara, menggantikan PT GNE yang pada tahun 2020 memilih mundur. Kemudian pada Desember 2021, PT Siar Nusa Tenggara juga enggan melanjutkan kerja sama pengelolaan RPH yang merupakan aset Pemprov NTB tersebut.Tetapi akhirnya sampai Desember 2021 diverifikasi dan sudah dirapatkan dengan PT Siar  Nusantara tidak ada kelanjutannya. Kemudian datang lagi dari GWC yang juga nanti mau investasi di RPH Banyumulek.

BACA JUGA :  Rp 44 Miliar untuk Kelompok Ternak Ayam Petelur

Dikatakan Khaerul, investor asal Jakarta, yaitu GWC (Global Wakaf Corporation), saat ini tengah melirik potensi RPH Banyumulek Lombok Barat. Sementara yang sudah berjalan adalah mini feedmill. Kendati demikian secara hukum investasi belum bisa dilakukan, karena masih menunggu pemutusan kontrak dengan pengelola RPH Banyumulek yang lama, dalam hal ini pihak PT Siar Nusa Tenggara

“belum bisa berjalan (investasi GWC), karena di syaratkan terlebih dulu oleh biro hukum, bahwa RPH ini pengelola yang lama harus diselesaikan dulu urusannya, paling tidak undur diri atau ada jawaban dari pemerintah baru ke proses selanjutnya,” jelasnya

Kendati memang arah Pemprov  lebih kepada pihak GWC dibanding Raffi Ahmad. Namun  jika nantinya pihak Raffi Ahmad sudah menunjukkan komitmen investasi mereka. Bisa jadi pola investasi pengelolaan RPH Raffi Ahmad dengan GWC ini menggunakan sistem inkubasi didalamnya. Artinya mereka bisa mengelola aset pemprov selama kurang lebih 1 hingga 2 tahun kedepan. Jika sudah berhasil baru kemudian investor membayar aset Pemprov dan sebagainya.

BACA JUGA :  Penerbangan Australia - Lombok Dibuka Bisa Dongkrak Kunjungan Wisman

“Raffi Ahmad kalau pun jadi, GWC ini bisa nebeng dengan Raffi Ahmad, dengan pola memotongnya 50-100 ekor sapi perhari. Tapi bisa tidak kebutuhan kita mencukupi dan ini perlu analisa juga,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disnakkeswan NTB L Muhammad Yusri menyebut, Raffi Ahmad telah lama menyampaikan ketertarikannya untuk berinvestasi di sektor peternakan di NTB.
Tim Raffi Ahmad juga sudah mendatangi sejumlah kelompok penggemukan sapi di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, pasar hewan Masbagik Lombok Timur, dan beberapa tempat jagal di Kota Mataram.

Nantinya, pabrik pengolahan daging sapi milik Raffi Ahmad ini akan berfokus pada produk akhir daging sapi. Adapun produk yang ingin dibuat, seperti cornet beef, sosis, nugget dan lainnya.

“Perusahaan raffi ahmad itu nanti fokus ke produk hilirnya, seperti cornet beef dan nugget. Untuk pemotongannya bisa mencapai 50 hingga 100 ekor per hari” sebutnya. (cr-rat)