Inisiatif Dianawati Mengembangkan Potensi Gula Aren Hingga Tembus Pasar Luar Daerah

TUNJUKKAN: Dianawati saat menujukkan gula aren hasil produksinya yang telah dikembangkan selama ini.(BUDI RATNASARI/RADAR LOMBOK)

Ada banyak cara untuk bisa berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama tanpa harus keluar daerah. Inilah yang dilakukan seorang pemudi asal Dusun Keselet Desa Pringgajurang Utara Kecamatan Montong Gading Kabupaten Lombok Timur. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Mataram ini mampu menelurkan gagasan dengan mengembangkan potensi alam di kampungnya.


DIANAWATI hanya berbekal kepekaan dan kepedulian dalam mengembangkan lingkungan. Melihat air nira yang menjadi salah satu sumber potensi di lingkungannya, Dianawati harus memutar otak dan meluangkan banyaknya. Usahanya ternyata membuahkan hasil, ia berhasil membangun semangat warga kampungnya dengan mengembang air nira menjadi gula aren.

Mula-mula, gadis cantik ini hanya berbekal pengalamannya sebagai mahasiswa saat duduk di bangun Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Ia acap mengikuti program kreativitas mahasiswa kewirausahaan (PKMK) selama tiga tahun berturut-turut. Berkat kepedulian serta kreativitasnya, ia kemudian mengaplikasikan pengalamannya di lingkungannya di Dusun Dusun Keselet, Desa Pringgajurang Utara Kecamatan Montong Gading. Ia mencoba mengembangkan gula aren menjadi produk gula semuta dengan nilai jual cukup menjanjikan.

Diana sendiri terinspirasi banyaknya aren di kampungnya. Namun demikian, masyarakat sekitar belum bisa memanfaatkan secara maksimal. Masyarakat masih menjadi air nira menjadi gula aren dengan cara monton. Jika dijual, hasilnya pun tak cukup menjanjikan secara ekonomi. ‘’Itulah yang kemudian menginspirasi saya untuk mengembangkan gula aren. Hasil dari lomba PKMK tahun 2019 saya aplikasikan di rumah untuk membuat gula semut,” tutur Dianawati kepada Radar Lombok baru-baru ini.

Awalnya, usaha Dianawati tak semulus yang dibayangkan. Banyak kendala yang harus dihadapi, terutama urusan modal yang menjadi soalan klasik para pengusaha pemula. Tahun 2020, ia kemudian kembali mengikuti lomba PKMK di kampus. Hasilnya cukup menggembirakan, Dianawati berhasil keluar sebagai pemenang. Ia menjadi juara disertai uang saku.

Sebagai gadis yang berpikiran maju, uang saku tak digunakan untuk foya-foya melainkan dimanfaatkan untuk modal usaha. Dianawati lantas menambah modal usahanya yang sudah mulai berjalan. Ia semakin serius mengembangkan potensi gula aren menjadi berbagai macam produk gula aren yang sudah ada menjadi berbagai macam produk turunan gula aren lainnya. ‘’Salah satunya kami membuat produk jenis kopi Lombok berbahan dasar gula aren. Produk lainnya yang dihasilkan di antaranya gula aren cair dan gula batok aren,’’ tambah dara manis ini.

BACA JUGA :  Mengenal Zakki Ahmad, Crosser NTB

Sadar usahanya berkembang dan tak bisa dilakukan sendiri, Dianawati kembali memutar otak untuk melajukan roda usahanya. Ia kemudian menghimpun para perempuan yang ada di lingkungannya. Mengumpulkannya dalam wadah kelompok tani wanita (KTW). Wadah ini kemudian fokus mengembangkan potensi gula aren.

Setelah menginisiasi wadah itu, Dianawati kemudian kembali membentuk kelompok usaha bersama (KUBe). Pengurus dan anggotanya tetap kaum hawa di kampungnya. Melalui wadah ini, para perempuan di kampungnya yang tergabung dalam lembaga itu akan lebih bisa fokus pada pengemasan dan pemasaran gula aren hasil produksi mereka KTW. Kini, total ada 10 orang yang tergabung keanggotaan KUBe dan 30 orang warga sekitar lainnya terhimpun dalam KWT. Mereka tetap dibina setiap harinya. “Karena sistemnya bina masyarakat sehingga yang diutamakan adalah warga desa sehingga perlu para petani dihimpun. KWT dan KUBe ini dibentuk satu kesatuan yang tujuannya untuk memajukan sekitar Dusun Keselet,” imbuhnya.

Lebih jauh Dianawati menuturkan, awal berdirinya usaha ini adalah target pasarnya lebih kepada ekonomi menengah ke atas. Namun melihat tingginya peminat produk dari gula aren ini, maka terus dilakukan inovasi baru. Harus dibuat produk yang bisa dijangkau semua kalangan, termasuk kelas ekonomi menengah ke bawah. Mengingat, peminat gula aren ini tidak hanya kaum muda dan para pecinta kuliner tapi juga warga lokal sudah banyak yang memesan. Mulai dari pengemasan hingga harga jual akan disesuaikan dengan daya beli masyarakat. Sehingga target pasar tidak hanya kaum milineal saja, namun semua kalangan bisa tersentuh.

BACA JUGA :  Tawarkan Paving Block dari Sampah

Adapun menurutnya setiap tempat memiliki ciri daerah masing-masing, termasuk gula aren. Di mana gula aren di Lombok Timur tidak sama degan gula aren di daerah lain. Di Lombok Timur gula semut yang dibuat harus menggunakan nira jenis premium. Jika tidak menggunakan gula aren premium, gula semut yang dihasilkan tidak terbentuk sempurna dan kurang berkualitas. Mulai dari warna hingga rasa aren yang terbentuk akan berbeda dengan kualitas premium.
Bukan kaleng-kaleng jangkauan pasar hasil produksi warga binaan kelompok tani ini sudah tembus pasar luar daerah. Di samping itu sudah lebih dulu menggandeng sejumlah platform bisnis di beberapa wilayah di NTB. Di Kota Mataram misalnya sudah banyak produk gula semut dan kopi aren yang dijual di Sasaku serta beberapa tempat wisata, homestay dan lainnya.

Ke depan diharapkan akan lebih banyak masyarakat yang ikut pembinaan. Tidak hanya warga Desa Pringgajurang. Lebih luas masyarakat di Kawasan Hutan Lindung Taman Nasional Gunung Rinjani juga bisa terserap. Mengingat potensi pangan yang ada di kawasan tersebut sangat berlimpah namun belum dimanfaatkan secara maksimal oleh warga akibat keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. “Jika permintaannya tingngi, ke depan akan dilakukan pembinaan ke dusun yang lain. Bekerja sama dengan TNGR dan dinas yang terkait untuk bersama-sama membangun perekonomian masyarakat,” katanya.

Rencananya kualitas dan pengemasan produk yang sudah ada akan ditingkatkan. Volume produksinya juga bakal ditambah lagi. Bahkan tidak hanya menghasilkan produk berbahan dasar gula aren. Selama tiga bulan terakhir, kelompok tani yang dibina Diana juga sedang mengembangkan jamur tiram serta beberapa produk olahan lain hasil tanaman pangan masyarakat sekitar juga dikembangkan. “Ke depan akan dilakukan uji coba bagaimana produk aren ini bisa memiliki varian rasa buah seperti rasa stroberi dan lainnya. Termasuk mengelola produk yang lain seperti olahan pisang. Kita tahu sekitar Sikur merupakan sentra pisang,” tutupnya. (
BUDI RATNASARI-LOMBOK TIMUR)