Masih Dirawat di Rumah Sakit, Ini Data Korban Bentrok Monjok-Taliwang

Pemkot Tanggung Biaya Pengobatan

Korban Bentrok Monjok-Taliwang
DIRAWAT : Korban bentrok Monjok-Taliwnag saat dirawat di Puskesmas Karang Taliwang dan RSUD Kota Mataram kemarin. (Sudir/Radar Lombok)

MATARAM – Puluhan korban perang kampung antara Kampung Karang Taliwang dengan Monjok masih dirawat intensif di RSUD Kota Mataram, Puskesmas Taliwang dan di RSUP NTB. Beberapa korban terkena luka parah di bagian paha, dada, tangan, bahkan bagian kepala akibat sabetan sejata tajam dan anak panah.

Dari data yang ada, warga yang mengalami luka-luka yakni dari Karang Taliwang yang dirawat di Puskesmas Karang Taliwang ada Badarudin (55 tahun, luka pada kepala kena panah), Masrul (43 tahun, luka dada kanan karena senapan angin), Indra (40 tahun, luka pada dada kiri), Abdul Gani (38 tahun, luka pada kaki kiri),  Akmal (40 tahun, luka pada pinggang kanan kena senapan angin). Selain itu, ada beberapa warga  yang dirawat di RSUD Kota Mataram bernama Hamzan (39 tahun, luka paha kiri terkena tombak), Ismayadi (37 tahun, luka pada pundak kanan terkena panah), Hairul Hamdani (17 tahun, luka pada kaki kanan kena panah), Muslim (42 tahun, mengalami luka di bawah kelopak mata kanan kena panah).

Direktur RSUD Kota Mataram HL. Herman Mahaputra mengatakan, sejumlah pasien mengalami luka serius. Bahkan ada beberapa yang harus menjalani operasi ringan seperti pengangkatan peluru rakitan maupun bekas sabetan senjata tajam.

Bahkan beberapa korban masih ada yang tertancap panah beracun sehingga dikhawatirkan terkena infeksi. “ Kita tetap stand by, bahkan berkoordinasi dengan Puskemas baik Puskesmas Selaparang maupun Karang Taliwang,” katanya.

Sedangkan korban asal  Monjok terdiri dari Sahrul Hadi (29 tahun, terkena panah di bahu kanan), Amir (29 tahun, terkena panah di kaki), Roni (38 tahun, terkena anak panah beracun di bagian tangan, Dafal (48 tahun, terkana sabetan senjata tajam di pelipis), Marzuki (luka pada bagian pergelangan tangan kanan), Muhammad Yusril Indra Saputra (17 tahun, mengalami luka panah pada bahu kanan), Ikhwan alias Wandi (40 tahun, mengalami luka panah pada perut), dan Adam yang terluka akibat panah di bagian leher.

Dua rumah yang rusak parah yakn milik Hj. Nurhayati Murad warga Karang Taliwang. Pemilik berdomisili di Gang Panda 1 No. 15 Lingkungan Monjok Perluasan. Satu lagi milik H. Ridwan yang dibakar massa.

Kemarin nampak korban sedang dirawat di ruang IGD Puskesmas Karang Taliwang. Kodisi dua lingkungan terus dipantau aparat. Bahkan dua mobil Dalmas Polda NTB serta aparat gabungan TNI bersiaga di sekitar lokasi.

Pemerintah Kota Mataram menanggung biaya pengobatan seluruh korban bentrok warga Monjok dengan warga Taliwang yang terjadi Minggu (21/1). Dari data  yang diterima koran ini, total korban luka dari kedua belah pihak sebanyak 16 orang.”Semua biaya perawatan korban akan ditanggung oleh Pemkot Mataram,” kata Lalu Martawang. Asisten I Pemkot Mataram kemarin.

Ia mengklaim Pemkot terus berusaha hadir di tengah masyarakat. Korban luka sekarang sedang dirawat di RSUD Kota Mataram. Dari pihak warga Monjok jumlahnya 9 orang, sedangkan korban dari warga Taliwang dirawat di RSUP NTB berjumlah 7 orang.

Dijelaskan Martawang, rata-rata korban mengalami luka-luka  akibat anak panah dan senjata api rakitan. Pemkot menyimpulkan ternyata dua kelompok warga memang sudah menyiapkan diri untuk berkonflik. Sehingga begitu ada gejolak sedikit dengan sangat mudah mereka saling serang menggunakan perlengkapan yang mereka miliki.

Sebagai bentuk tindakan tegas Pemkot, dilakukan sweeping senjata.” Kita akan lakukan sweeping senjata di kedua belah pihak,” tegasnya.

Sementara itu manajemen RSUD Kota Mataram membenarkan ada warga Monjok yang masih dirawat. Jumlah mereka 5 orang.” Masih ada dirawat 5 orang korban,” ungkap Kasubag Humas RSUD Kota Mataram Lalu Hardimun.

Semua biaya korban ditanggung oleh Pemerintah Kota Mataram. Sebagian besar mengalami luka akibat dari senjata api dan anak panah.

Sedangkan di RSUP NTB jumlah korban 10 orang dan sudah diberikan perawatan intensif. Bahkan sudah ada sebagian yang pulang.” Hari ini sudah ada sebagian yang pulang,” ungkap Humas RSUP NTB Solikin. Untuk biaya perawatan pihaknya belum mendapatkan konfirmasi langsung dari Pemkot Mataram. Kalau memang ada kesiapan Pemkot Mataram itu akan lebih bagus lagi. Karena korban konflik tidak ditanggung oleh BPJS.

Kapolres Mataram AKBP Muhammad mengimbau warga Monjok dan Karang Taliwang menyerahkan secara sukarela senjata tajam (Sajam) mereka sebelum pihak kepolisian melakukan razia. Karena kalau polisi melekukan razia dan ada ditemukan Sajam, maka warga akan diproses hukum.” Sebelum kami razia sebaiknya  warga menyerahkan sendiri Sajam milik mereka,” ungkap Kapolres.

Dalam rapat tertutup yang digelar di kantor Wali Kota Mataram kemarin, salah satu yang dibahas masalah pelaksanaan sweeping senjata tajam. Nanti aparat akan turun.” Rapat hari ini juga membahas persiapan  sweeping,” katanya.

Sweeping akan dilakukan oleh kepolisian dan Pemkot karena keputusan ini sudah menjadi keputusan bersama. Dalam rapat ada dua keputusan yang disepakati warga yakni pembangunan posko terpadu dan dilakukan sweeping Sajam. Sebelum dilakukan razia Kapolres mengimbau warga secara sukarela menyerahkan Sajam mereka.” Kalau ada yang ditemukan masih menyimpan akan ditindak tegas dan diproses secara hukum,” tegasnya.

Polda NTB mengeluarkan maklumat agar bentrok tidak terjadi lagi. Maklumat tersebut ditandatangani langsung oleh Kapolda NTB Brigjen Pol Firli. Maklumat tersebut sebagai tindakan tegas yang dilakukan kepolisian untuk mengantisipasi konflik susulan. “ Iya kita sudah keluarkan maklumat,” ungkap Kapolda saat dikonfirmasi di Mapolda NTB kemarin (22/1).

Maklumat tersebut terkait dengan himbauan untuk menyerahkan senjata tajam, senjata api dan bahan peledak. Ada tiga poin yang dititikberatkan dalam maklumat tersebut. Pertama, diperintahkan kepada seluruh warga masyarakat yang masih membuat, menerima, mempergunakan, memguasai, memiliki, membawa, menyimpan dan menggunakan senjata api dan bahan peledak ilegal agara segera menyerahkan ke aparat penegak hukum. Kedua, masyarakat yang masih membawa, menggunakan, memiliki, membuat dan memiliki persediaan senjata tajam agar diserahkan kepada aparat penegak hukum.

Kecuali dalam pengertian senjata tajam nyata-nyata digunakan untuk pertanian, pekerjaan rumah serta barang pusaka. Ketiga, bahwa apabila ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dilanggar, maka pelakunya dapat dikenakan sanksi pidana. “ Ini kan melanggar hukum Undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 dengan ancaman 15 tahun penjara. Artinya kita harus lihat dan petakan apakah konflik di Monjok dan Karang Taliwang itu karena mereka memiliki senjata. Kalau itu penyebabnya, ya kita akan melakukan razia.

Tapi sebelum itu, saya sudah buat maklumat supaya mereka menyerahkan senjata rakitan, senjata tajam yang membahayakan. Karena ini undang-undangnya ada dan kita lakukan penegakan hukum. Siapapun yang memiliki senjata api dan senjata yang digunakan tanpa hak kita lakukan penegakan hukum,” katanya.(dir/ami/gal)

BACA JUGA :  Polda Dalami Motif Pelaku Skimming