Ingin Dirikan LPTQ untuk Anak Yatim

Muhammad Faisal
Muhammad Faisal (Ahmad Yani/Radar Lombok)

Awalnya  tidak ada keinginan menjadi hafidz. Namun dengan dorongan dan dukungan teman dan keluarganya, Muhammad Faisal kini sudah hafal 30 juz ayat-ayat suci Alquran.


Ahmad Yani — Mataram


Muhammad Faisal adalah alumni Madrasah Aliyah Khusus (MAK) NW Anjani. Faisal – panggilan akrabnya, baru menamatkan sekolah tahun ini di MAK NW Anjani. Ia pun tahun ini akan melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi.

Dengan modal hafal Alquran 30 juz, kian memudahkan langkah dirinya untuk menimba ilmu di perguruan tinggi. Ia pun berharap bisa memperoleh beasiswa pendidikan melalui jalur hafidz.  Apalagi  banyak perguruan tinggi menyediakan beasiswa pendidikan bagi mahasiswa menjadi hafidz. “Saya tidak ingin terlalu memberatkan orang tua,” kata pemuda asal Pringgabaya, Lombok Timur ini kepada Radar Lombok, kemarin.

Ia pun sangat bersyukur mampu menjadi seorang hafidz. Menurutnya, banyak kemudahan dan keuntungan diperoleh dirinya ketika menjadi penghafal Alquran. Dengan bekal sebagai hafidz  menjadi modal sangat berharga bagi dirinya dalam menggapai masa depan.

Ia menuturkan, awalnya tidak pernah terlintas pada dirinya keinginan menjadi seorang hafidz. Namun, sejak dirinya menimba ilmu di MAK NW Anjani tiga tahun lalu, ia mendapati banyak teman dan sahabat sebaya dengan dirinya sudah mampu menjadi hafidz. Dirinya pun terinspirasi dengan hal tersebut. Meskipun untuk menjadi seorang hafidz tidak mudah dan gampang. Kendala dan hambatan harus siap dilawan. Namun dengan dorongan dan dukungan kuat dari teman dan keluarga terutama orang tua, Faisal pun makin meneguhkan niat dan meningkatkan semangat dirinya untuk menjadi seorang hafidz.

Ia mulai menghafal Alquran sejak duduk dibangku kelas I MAK. Dengan keteguhan, ketekunan, komitmen dan keikhlasan dirinya, Faisal tempo dua tahun sudah hafal 30 juz. Setiap saat, waktu luangnya   digunakan untuk menghafal Alquran. Saat kebanyakan rekan sebaya dirinya  menghabiskan waktu untuk bermain dan bercengkrama, Faisal lebih memilih menghapal Alquran. ” Saya biasa waktu usai salat Subuh dan salat Asar untuk waktu menghafal,” tuturnya.

Bukan berarti, semua bukan tanpa hambatan dan tantangan. Tantangan terbesar dari diri sendiri. Rasa malas, bosan dan jenuh, menjadi tantangan yang harus dilawan. Dengan selalu mengingat kerja keras orang tua membiayai pendidikan dirinya, menjadi motivasi  dirinya  terus melanjutkan hafalan Alquran.  Terlebih, ia sudah berikrar dihadapan orang tua untuk menjadi hafidz Alquran. Ia pun tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya.

Ikrar di hadapan orang tua menjadi hafidz, kini sudah terbayarkan. Namun persoalan tidak lantas selesai.  Sekarang dirinya dihadapkan pada kewajiban dan tantangan  bagaimana mempertahankan hafalannya.

Ia pun tidak menghendaki hafalan Alquran dimiliki tersebut hilang begitu saja. Banyak hafidz tidak mampu mempertahankan hafalannya, akibat tidak ada komitmen dan konsistensi mempertahankan hafalan tersebut. Oleh karena itu, Ia selalu berusaha menyisihkan waktu bagaimana menjaga dan mempertahankan hafalannya. ” Ini sekarang menjadi PR  (pekerjaan rumah) saya kedepan,” imbuhnya.

Pada bulan suci Ramadan kali ini, Ia pun dipercaya  sebagai pembimbing bagi – bagi rekannya  mengikuti Ramadan menghafal Alquran diselenggarakan Lembaga Pendidikan  Tahfidz Alquran (LPTQ) Syaikh Zainuddin NW AnjaniLombok Timur.

Dengan modal sebagai hafidz, Faisal pun memiliki cita – cita mulia. Ia berharap kedepan bisa mendirikan LPTQ untuk mencetak lebih banyak generasi islam mampu menghafal Alquran di kampung halamannya. Terutama diprioritaskan bagi anak yatim. ” Saya bercita – cita ingin membangun LPTQ diperuntukkan bagi anak yatim,” pungkasnya.(*)

BACA JUGA :  Temukan Instalasi Asap Cair, Hingga Mesin Pembakar Sate