Indonesia Usung Tiga Isu Prioritas Kesehatan di G20

DIALOG: Tangkapan layar Sekjen Kemenkes Kunta Wibawa Dasa Nugraha, Direktur Pasca-Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama, dalam agenda 2022 CSIS Global Dialogue yang diikuti dari Zoom di Jakarta, Rabu (27/4/2022). (ANTARA/ANDI FIRDAUS)

JAKARTA (ANTARA)—Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan (Sekjen Kemenkes) Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengatakan Indonesia mempersiapkan tiga isu prioritas untuk dirundingkan dalam Forum G20.

“Agenda Indonesia setelah pandemi adalah menjadi tuan rumah G20. Ada tiga isu prioritas,” kata Kunta Wibawa Dasa Nugraha dalam agenda 2022 CSIS Global Dialogue yang diikuti dari Zoom di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan isu yang diangkat dalam upaya memperkuat arsitektur kesehatan global itu dikemas dalam beberapa program dan inisiatif.

Pertama, membangun ketahanan kesehatan global melalui mobilisasi sumber finansial untuk upaya pencegahan dan penanganan pandemi melalui kegiatan preventif, promotif dan kuratif.

BACA JUGA :  Menkes Promosikan Gunung Rinjani Dalam Pertemuan G20 di Lombok

“Kami juga mengoptimalkan sharing data genomik melalui sumber yang terpercaya,” katanya.

Kedua, harmonisasi protokol kesehatan berstandar global. “Contohnya kita ingin punya standar sistem deteksi yang sama di setiap negara. Jadi hanya scan QR code bisa dibaca sistemnya di berbagai negara,” ujarnya.

Ketiga, memperluas cakupan industri farmasi global untuk pencegahan dan persiapan dalam merespons ancaman pandemi.

“Pendistribusian secara merata dan berkeadilan vaksin, pengobatan, diagnostik ke negara berkembang,” katanya.

Selain itu, kata Kunta, Indonesia juga mendorong transfer pengetahuan terkait data hingga mekanisme riset antarnegara.

BACA JUGA :  Pengamat: Presidensi G20 Harus Bisa Tekan Risiko Krisis Pangan

Pada acara yang sama, Direktur Pasca-Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan virus diperkirakan akan terus berkembang, tapi seiring waktu tingkat keparahan berkurang secara signifikan.

“Varian virus yang muncul di masa depan tidak memiliki keparahan yang signifikan tanpa perlu meningkatkan secara berkala atau mengubah signifikan vaksin yang ada saat ini,” katanya.

Namun kemungkinan terburuk akan muncul varian yang lebih ganas dan mematikan dengan kemampuan menghindari dari vaksin, terutama dialami kelompok rentan. “Ini akan membutuhkan perubahan signifikan pada vaksin yang ada saat ini,” katanya. (Andi Firdaus/Zita Meirina)