Ima Suyanti, Relawan Orang Miskin yang Sakit Parah

Ima Suyanti, Relawan Orang Miskin yang Sakit Parah
RELAWAN : Inilah Ima Suyanti (kanan), saat berfoto bersama salah satu pasien tumor mata yang didampinginya belum lama ini. (IMA SUYANTI FOR RADAR LOMBOK)

Nama Ima Suyanti  tidak asing bagi orang-orang pegiat sosial di NTB. Wanita yang akrab dipanggil Ima ini mengabdikan dirinya jadi relawan warga miskin yang sakit.


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


Hari Senin kemarin (3/7), merupakan hari pertama kerja bagi  PNS. Namun tidak bagi Ima Suyanti, wanita asal Masbagik, Lombok Timur ini sudah terlihat sangat sibuk di Kota Mataram. Banyak hal yang diurus sehingga membuatnya bolak-balik Lombok Timur dan Mataram.

Saat ditemui, wajah Ima terlihat lelah. Namun kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu mengandung semangat. “Saya ke Mataram untuk urus pasien yang sakit keras, bantu dia yang tidak punya biaya berobat,” ucapnya kepada Radar Lombok, Senin kemarin (3/7).

Sejak 8 tahun lalu, aktivitasnya tidak jauh dari membantu orang-orang sakit dari keluarga tidak mampu. Itu pula yang membuat dirinya bergabung menjadi relawan Dompet Amal Sejahtera Ibnu Abbas (DASI) dan Endri Foundation.

Awal kiprahnya menjadi relawan, ketika wanita kelahiran 17 September 1979 ini mertuanya mengidap  tumor. Kepala sang mertua harus  dioperasi ke RSUD Sanglah, Bali karena di NTB belum bisa ditangani.

Biaya yang dibutuhkan sangat besar. Prosesnya juga begitu rumit. Sementara, setiap hari banyak masyarakat yang sakit keras dengan kondisi ekonomi tidak mampu. “Coba lihat sekeling kita sekarang saja, banyak orang sakit tapi tidak punya uang untuk berobat,” ucap Ima yang merupakan sarjana komputer ini.

Itulah yang membuat dirinya tidak mengenal lelah ingin meringankan beban pasien dan keluarganya. Ketika upaya membantu itu berhasil dan melihat langsung senyum dari bibir pasien, kepuasan bathin yang didapatkan membawa kebahagiaan.

Rasa puas yang didapatkan Ima, membuatnya ringan tangan memberikan pertolongan. Ibu dari 3 orang anak ini bahkan rela mencari orang-orang sakit ke pelosok desa. “Saya yang alami susahnya urus (kartu) BPJS itu, walaupun ada (kartu) BPJS juga tapi tetap butuh uang banyak untuk berobat. Jangan sampai ada keluarga pasien yang lebih memilih putus asa dan membiarkan pasien meninggal dunia,” katanya.

Memasuki tahun 2017 ini, ratusan orang telah dibantu. Sudah tidak terhitung kenalan baru dan keluarga baru yang didapatkan. Keluarga Ima juga mengerti pandangan hidupnya, apabila banyak membantu orang maka Tuhan juga akan membantu masalahnya. Menjadi relawan, bagi Ima juga sebagai bekal di akhirat. Meskipun terkadang banyak duka yang dialami meski berbuat baik. “Tidak selalu niat baik kita mendapat balasan baik dari manusia. Tapi saya yakin Tuhan akan membalasnya setimpal, buktinya rezeki keluarga kami juga lancar,” ujarnya.

Pernah, dalam perjalanannya menjadi relawan, merasa putus asa. Ima tidak tahu lagi harus berbuat apa. Namun, Tuhan selalu memiliki jalan dalam membantu hambanya. Tahun 2015 lalu, seorang pasien bernama Nuraini asal Masbagik mengalami tumor mata. Sudah 4 kali dioperasi namun tidak berhasil juga. Pihak rumah sakit di Mataram, waktu itu juga putus asa.Pihak rumah sakit tidak bisa menerima pasien tersebut karena sudah tidak mampu dan harus dirujuk ke RSUD Sanglah, Bali. Keluarga pasien menjadi marah bahkan melakukan aksi unjukrasa di rumah sakit. “Uang tidak ada, donasi juga tidak  ada waktu itu. Saya benar-benar putus asa dan bingung harus ngapain lagi. Tapi alhamdulillah saat kita putus asa, ada Tuhan yang Maha Kuasa membantu,” tuturnya.

Saat ini, Ima  sedang membantu dan mengawal 4 pasien dari keluarga miskin. Namun, ia berkomitmen akan tetap kuat sebagai relawan demi menyelamatkan orang yang sakit dari keluarga miskin. “Masalahnya pemerintah itu ya, tidak mau bantu kalau tidak kita bantu pasien duluan,” tandasnya.(*)

BACA JUGA :  Jaran Kamput, Kesenian Rakyat yang Hampir Punah