IFSCA Latih KWT Membuat Kompos dari KOHE

IFSCA Latih KWT Membuat Kompos dari KOHE
PELATIHAN: Manager Program IFSCA Lombok Utara Lukman Taufik bersama tiga pemateri (di depan) memberikan pelatihan kepada KWT terkait pembuatan kompos dari KOHE.(IFSCA KLU UNTUK RADAR LOMBOK)
Advertisement

TANJUNG–Sebanyak 31 peserta perwakilan kelompok wanita tani (KWT) se-Lombok Utara mendapat pelatihan pembuatan kompos melalui Program East Indonesia Innovative Farming Systems and Capability for Agribusiness Activity (IFSCA) atau Inovasi Sistem Pertanian dan Kemampuan untuk Kegiatan Agribisnis.

Pelatihan berlangsung di Dusun Tanak Muat, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Kamis (12/3) lalu. Manager Program IFSCA Lombok Utara Lukman Taufik mengungkapkan, pelatihan ini sebagai salah satu upaya peningkatan kapasitas dan keterampilan petani dalam budi daya hortikultura hingga tahun kelima program pemberdayaan petani ini berjalan. Pelatihan pembuatan kompos ini memanfaatkan kotoran hewan (KOHE). “Ini sebagai salah satu upaya dalam peningkatan kapasitas dan keterampilan para tani perempuan,” ungkapnya, Senin (16/3) kemarin.

Kompos ini bisa digunakan untuk meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman sehingga petani mampu menyediakan buah dan sayuran yang memenuhi kriteria 3K (kuantitas, kualitas, dan kontinuitas) dalam menyuplai sejumlah hotel maupun segmen pasar lainnya. “Selain untuk tanaman, pembuatan kompos dari KOHE ini juga diharapkan akan memberikan pengaruh bagi penyehatan maupun kebersihan lingkungan, dan kotoran hewan yang ada akan mempunyai nilai jual tinggi yang bisa dijadikan alternatif dalam upaya peningkatan pendapatan rumah tangga keluarga,” harapnya.

Pelatihan ini mendatangkan empat pemateri atau fasilitator. Yakni Lalu Taufik Rahman (PPL), Mulyadi, Edy Hariyadi Sofiyan, dan Sinarni (pendamping). Ketiga pemateri memaparkan bahwa KOHE dapat diolah menjadi pupuk dengan metode pengomposan menjadi pupuk kompos. Kompos dari KOHE merupakan pupuk organik yang mengandung unsur hara lengkap yang diperlukan oleh tanaman dan terbebas dari bahan-bahan kimia sehingga hasil pertanian aman dikonsumsi manusia.

Terkait dengan proses pengomposan yaitu menurunkan C/N ratio bahan organik hingga sama dengan C/N tanah (<20). Dijelaskan, ada sejumlah manfaat pupuk kompos KOHE; di antaranya memperbaiki struktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan, memperkuat daya ikat tanah berpasir sehingga tanah tidak berderai, menambah daya ikat tanah kepada air dan unsur-unsur hara tanah, memiliki unsur hara yang lengkap, membantu proses pelapukan bahan material. “Kandungan bahan organik di dalam tanah diperkirakan sekitar 1 persen. Di lahan yang ditanami, kandungan organik lahan tersebut semakin lama semakin berkurang. Untuk mengatasinya paling tidak setahun sekali lahan tersebut perlu diberi tambahan bahan organik seperti kompos,” paparnya.

Ditegaskan, pemberian kompos selain berguna dalam penyuburan tanah khususnya di lahan kering, juga dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik yang harganya semakin mahal. Kompos dapat memperbaiki struktur tanah. Struktur tanah yang baik dapat menjadi medium yang baik untuk pertumbuhan akar sehingga terjadi perbaikan sistem perakaran. “Perbaikan sistem perakaran dan ditunjang oleh meningkatnya kandungan unsur hara dalam kompos akan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman,” imbuhnya. (flo/adv)