Ibunda dr Mawardi Meninggal Dunia

SELONG—Tidak terendusnya jejak mantan Dirut Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) NTB, dr. H. Mawardi Hamry, yang hilang secara misterius sejak dua bulan lalu, mulai memakan korban jiwa. Hj Raehanah, ibundanya dr Mawardi Hamri meninggal dunia, minggu kemarin,  akibat beban psikologis memikikirkan putra kesayangannya tersebut.

Sejumlah keluarga korban kepada Radar Lombok mengatakan, sejak hilangnya mantan Dirut RSUP yang juga Wakil Ketua PB NW ini membuat ibundanya sakit.
"Nenek mulai terserang komplikasi penyakit sejak dr. Mawardi Hamry hilang," tandas Andi, salah seorang cucu almarhumah Hj. Raehanah Minggu kemarin (5/6).

Dikatakan, kendati neneknya berusia 81 tahun, selama ini kesehatannya sangat baik. Bahkan almarhum sangat periang, dan tidak mengalami penyakit yang menghawatirkan.

Merosotnya kesehatan almarhumah, yaitu sejak mengetahui putranya hilang. Karena sedih, depresi dan tekanan psikologis membuat kesehatan Hj. Raehanah drop, dan jatuh saat akan mengambil air wudhu tanggal 31 Mei lalu.

“Saat berdiri almarhum tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri tanggal 31 Mei lalu, dan kami larikan untuk mendapat perawatan di RSUP Provinsi. Selama 5 hari berada di rumah sakit almarhum tidak sadarkan diri, hingga akhirnya Tuhan mengambilnya ke pangkuannya," ujarnya.

Sebelum meninggal lanjut Andi, neneknya selalu optimis dr. Mawardi akan pulang ke rumahnya di Desa Kotaraja, Lombok Timur. Bahkan setiap selesai salat, almarhum selalu duduk depan teras rumahnya karena merasa dr. Mawardi masih hidup.

Tapi sampai akhir hidupnya, putra kesayangannya itu tak kunjung pulang. "Kami sekeluarga sangat prihatin dengan musibah ini, dan semoga paman kami dr. H Mawardi cepat pulang," ungkapnya.

Sementara H. Suparman Hamri menandaskan, wafatnya ibundanya karena memikirkan dr. Mawardi. Sejak kehilangan salah satu putranya, kondisi kesehatan almarhumah turun drastis. “Tuhan berkehendak lain, Hj. Raehan meninggal sebelum anaknya bisa pulang ke pangkuannya," sebutnya lirih.

Kakak kandung H. Mawardi Hamri ini berharap agar mantan Dirut RSUP Propinsi NTB itu segera bisa pulang. Keluarga sangat menantikan, meski ibundanya meninggal karena memikirkan Mawardi yang selama menjadi salah satu tulang punggung keluarga.

H. Suparman juga mengapresiasi Kapolda NTB bersama seluruh jajaran kepolisian di daerah ini, Polres hingga Polsek yang telah maksimal melakukan pencarian.
"Kami dari keluarga sangat berterima kasih kepada Kapolda NTB dan Bapak Kapoles dan Kapolsek, yang telah maksimal melakukan pencarian," ujarnya.

Kendati adiknya belum ditemukan, Suparman Hamry merasa optimis dr. Mawardi akan bisa ditemukan dalan kondisi apapun. Selain mengapresiasi kerja polisi, pihak keluarga juga telah berusaha melakukan pencarian melalui jasa orang pintar (dukun) yang memiliki pendapat yang berbeda.

Banyak yang mengatakan dr. Mawardi Hamry masih hidup tapi yang lain mengatakan dia sudah meninggal. "Semua usaha dan ihtiar sudah dilakukan keluarga untuk memcari dr Mawardi baik melalui bantuan aparat kepolisian hingga minta bantuan yang diluar akal sehat yakni  perdukunan," keluhnya.

Dipihak lain, jajaran Pemprov NTB dianggap kurang maksimal mencari salah satu pejabat NTB ini. Harusnya gubernur dan jajarannya reaktif begitu mengetahui hilangnya dr. Mawardi. "Kami kira Pemprov kurang maksimal. Kesannya dr Mawardi hilang begitu saja, padahal dia seorang pejabat di NTB," kritik Nirman, warga Praya, Loteng.

Menurutnya, bila pejabat di NTB ini bergerak cepat, tinggal memerintahkan seluruh jajarannya. Manfaatkan para bupati, camat, lurah/kades dan  semua kepala lingkungan dan RT diwilayahnya masing masing. "Bila semua potensi itu digerakkan, dan semisal dr. Mawardi masih berada di NTB pasti ditemukan. Kecuali yang bersangkutan diluar wilayah ini ," ulasnya.

Kalau misalnya dr. Mawardi kabur keluar daerah, Pemprov bisa memanfaatkan media dengan mengumumkan atau menaruh fotonya di media TV dan koran nasional. Dengan begitu, salah seorang pejabat dan tokoh NW ini cepat ditemukan. (ulu)

BACA JUGA :  Dewan Pertanyakan Pencarian dr Mawardi