Humas Polda Sambangi Sekolah Satu Atap Suela

MATARAM–Kepolisian Daerah (Polda) NTB menyambangi sekolah satu atap 4 Suela yang berada di Desa Mekar Sari Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur.

Kabid Humas Polda NTB AKBP Tribudi Pangestuti mengatakan, kedatagan pihaknya ke SMP Satu Atap 4 Suela dalam rangka memberi bentuan berupa alat tulis  dan Megaphone untuk menunjang proses belajar mengajar di sekolah itu. Bantuan diberikan lantaran kondisi sekolah itu sangat memprihatinkan.

Pantaun Radar Lombok, sekolah ini kondisinya memang sangat memprihatinkan. Dinding sekolah menggunakan pelepah daun kelapa dan atapnya menggunakan terpal. Namun begitu, guru dan murid di sekolah ini terus bertahan dan semangat menimba ilmu.

“Saya benar-benar bangga dengan anak-anak ini. Dengan tekadnya yang kuat mampu bertahan seperti ini,” ungkapnya, Selasa (6/9).

Kepala SDN 6 Perigi yang sekaligus menjadi Kepala SMP Satu Atap 4 Suela, Sobirin SPd, menyambut baik kedatangan dari rombongan Humas Polda NTB. Ia mengaku sangat berterima kasih dengan kedatangan para polisi dan Polwan yang sudah memberikan beberapa bantuan kepada siswa-siswi SMP Satu Atap 4 Suela.

“Saya tadi mimpi apa kok tiba-tiba ada kunjungan dari polisi dan Polwan Polda NTB dan memberikan sejumlah bantuan kepada anak-anak. Saya benar-benar bersyukur dan berterima kasih,” ungkapnya haru.

Bantuan yang diberikan jajaran Polda NTB, jelasnya, akan menambah motivasi belajar anak didik di sekolah ini. Bukan tidak mungkin dari banyak peserta didik yang ada akan bercita-cita sebagai polisi.

Ia menceritakan, sekolah SMP Satu Atap 4 Suela ipertama kali berdiri pada tahun 2012. Sekolah ini didirikan lantaran rasa prihatin terhadap anak yang berada di pelosok yang banyak nikah di bawah umur. Melihat kondisi seperti itu, timbul keinginan membuat SMP Satu Atap meskipun hanya bermodal keinginan.

Sementara itu, salah satu guru yang mengajar di SMP Satu Satap, Susnia Susilawati SPd yang berasal Desa Pematung, Kecamatan Sakra Barat Kabupaten Lombok Timur mengatakan, untuk dating ke sekolah ini dibutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam. Ia rela berangkat pagi dari rumahnya hanya untuk mengajar dan mendapat honor Rp 100 ribu per bulan. Namun demikian, niat dan tekadnya mengajar tidak pernah surut.

“Saya hanya berharap kepada pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat untuk membantu anak-anak kita yang saat ini membutuhkan ruang kelas dan berbagai fasilitas lainnya. Semoga apa yang kita lihat saat ini bisa membuka mata hati pemerintah,” tutupnya.(cr-wan)