Hotel Melati Selalu Jadi Sasaran Razia

Ganggu Tamu, Aparat Dianggap Diskriminatif

HOTEL-MELATI
RAZIA : Sejumlah pasangan diduga mesum hasil razia penyakit masyarakat (pekat) di hotel melati Kota Mataram beberapa waktu lalu. (Dok/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Para pengelola hotel kelas melati di Kota Mataram mengeluhkan razia penyakit masyarakat (pekat) yang dilakukan aparat selama ini yang hanya menyasar hotel kecil. Sementara hotel berbintang tidak didatangi. Tindakan aparat yang diskrimanif membuat image hotel-hotel kecil negatif dan berimbas pada tingkat keterisian kamar.

Salah satu yang mengeluhkan kondisi ini adalah pemilik Hotel Alengka, Nyoman Ananda Sujana. Ia mengatakan, jika razia dilakukan secara terus-menerus, maka bukan tidak mungkin penginapan kelas melati akan gulung tikar.”Kondisi lagi sepi ini, kalau hotel melati terus dirazia, tentu saja kenyamanan tamu akan terganggu. Mereka yang datang dan kemudian terkena razia, tentunya kapok datang lagi ke hotel,” ungkapnya, Sabtu (4/5).

Dijelaskannya, tidak semua tamu di hotel kecil adalah pelaku prostitusi dan sejenisnya. Banyak dari mereka yang memang datang sengaja berlibur bersama keluarga. Hotel kecil diminati karena harga menginap yang lebih murah dibanding hotel kelas atas.”Jadi tolonglah kami lagi sepi ini jangan diperparah lagi,” cetusnya.

BACA JUGA: Tren Pelajar “Bobo Sore” Makin Marak

Sementara itu, ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Gusti Lanang Patra, memaklumi apa yang disuarakan pemilik hotel melati. Hanya saja ia juga tidak menyalahkan pihak pemerintah atau aparat yang melakukan razia.”Yang penting ada koordinasi dan dilakukan dengan mekanisme yang baik. Kami memaklumi mungkin karena sekarang bulan ramadan dan hal itu biasa dilakukan untuk mengurangi penyakit masyarakat,” ungkapnya.

Terkait dengan bebasnya pemilik hotel menerima tamu yang tidak jelas statusnya, Putra mengatakan bahwa  pihak hotel tidak mungkin meminta tamu yang datang memperlihatkan buku nikah. “ Itu privasi sekali, khawatirnya orang tersinggung dan ogah datang ke hotel. Apalagi para wisatwan. Kan gak mungkin selalu membawa buku nikah,” jelasnya.

Patra berujar bahwa pihak manajemen hotel sudah memiliki langkah antisipasi untuk mengurangi segala tindakan asusila, antara lain dengan menerapkan beberapa aturan bagi tamu, seperti tamu wajib menyerahkan kartu pengenal (identitas) yang bisa dipertanggungjawabkan.

”Setiap manajemen hotel pasti punya karyawan yang tugasnya sebagai filter, memeriksa para tamunya. Percayakan saja pada pengelola hotel. Kalau itu razia miras, senjata tajam atau aksi teroris, kami siap melaporkannya,” tandasnya.

Sejak beberapa hari menjelang ramadan, tim gabungan Pemkot serta aparat TNI dan Polri memang sering mengamankan pasangan tidak resmi dari sejumlah hotel kelas melati di Kota Mataram dan sekitarnya.

Menurut  Kabag Ops Poles Mataram, Kompol Taufik, razia itu semata diberlakukan demi menjaga kondusivitas di Kota Mataram. Sebab pihaknya pihaknya acap kali menerima keluhan dari masyarakat soal bisnis prostitusi yang kian merebak.”Upaya yang kami lakukan tujuannya untuk mengurangi penyakit masyarakat terutama masalah prostitusi,” jelasnya.

Taufik mengatakan razia yang digelar oleh pihaknya tidak melulu terhadap hotel melati namun juga hotel berbintang. Namun ia tidak menafikan jika selama ini lebih sering merazia hotel melati.”Kami tentu tidak sembarang melakukan razia, hotel yang kita razia selama ini itu karena ada laporan  yang diterima terkait adanya praktik prostitusi,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa razia yang digelar sifatnya insidentil, tidak dilakukan secara berkala.

Terakhir, Taufik berharap para pemilik hotel mengindahkan kultur dan norma masyarakat sekitar, tidak semata mementingkan bisnis.(cr-der)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid