Hj Baiq Isvie Rupaeda, Wanita Pertama yang Menjadi Ketua DPRD NTB

Hari ini, sejarah politik akan terjadi di gedung DPRD Provinsi NTB. Untuk pertama kalinya, seorang  perempuan menduduki jabatan tertinggi sebagai Ketua DPRD.  Hj Baiq Isvie Rupaeda berhasil menduduki jabatan tertinggi itu.

 


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


 

Jarum jam telah menunjukkan pukul 13.20 Wita kala Radar Lombok menyambangi Hj Baiq Isvie Rupaeda, Kamis kemarin (14/7). Wanita karier kelahiran 1 September 1962 ini memiliki kesibukan segudang di Partai Golkar. Hidupnya memang telah diwakafkan untuk partainya, sejak puluhan tahun lalu, wanita yang akrab disapa Isvie ini secara totalitas berpartai di Golkar.

Kini,  Isvie akan dilantik menjadi Ketua DPRD NTB menggantikan H Umar Said. Tidak mudah bisa sampai pada tahap pelantikan, berbagai manuver politik dan intrik menghiasi perjalanannya. Namun Isvie masih kokoh dan berhasil melaksanakan amanah partai dengan baik.

Orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang sangat disiplin. Pekerjaan apapun yang diberikan pasti bisa berjalan baik. Isvie juga dikenal tegas, yang sering disalah artikan sebagai sikap kaku dan kejam.

Perjalanan karier politik hingga menjadi Ketua DPRD layak didapatkannya. Sejarah pun akan mencatat, Isvie merupakan wanita pertama yang menjadi pimpinan para politikus Udayana. Sejak kecil, ia memang kerap kali mencetak sejarah-sejarah dalam hidupnya.

Isvie kecil lahir dan besar di  Kota Selong, Lombok Timur. Ia dibesarkan dari keluarga politikus. Ayah kandungnya Lalu Muslihin adalah politisi  yang merupakan Bupati Lombok Timur pertama definitif.

Hidup di lingkungan keluarga yang kaku dan penuh disiplin, membuat jiwa Isvie kecil memberontak. Ketika masih sekolah di SDN 2 Pancor misalnya, ia melawan tradisi anak perempuan yang tidak dibebaskan keluar bermain. Namun Isvie nekat dan memaksa, akhirnya juga dibelikan sepeda.

Waktu itu, hanya ia sendiri anak perempuan di Lombok Timur yang memiliki sepeda. Tidak perduli larangan orangtua, Isvie kerap kali mengayunkan sepedanya menempuh jarak puluhan kilometer. "Masa kita tidak boleh bermain keluar gara-gara perempuan, tidak mau saya begitu," tuturnya bercerita.

Namun meskipun begitu, dari 7 saudara kandung satu ibu dan satu bapak serta 7 saudara lainnya dari lain ibu, hanya Isvie yang dididik keras oleh sang ayah. Setiap hari, Isvie harus membaca majalah Tempo dan buku-buku tentang orang hebat. Semua itu dibaca dengan suara nyaring yang berlangsung sampai sekolah di SMPN 1 Selong.

Ketika menginjak usia remaja dan duduk di bangku sekolah SMAN 1 Selong, sang ayah semakin menanamkan pemikiran-pemikirannya. Isvie seolah dijadikan sebagai pewaris darah politik sang ayah. Namun, Isvie sendiri ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). "Saya kan maunya jadi PNS, malah pernah saya ditawari jadi anggota DPRD sama orangtua. Tidak mau saya waktu itu," katanya.

Dari segi akademik, Isvie  dikenal berprestasi. Saat kuliah,  ia lalu mengambil jurusan hukum di Universitas Mataram (Unram) untuk Strata I (S1) dan juga S2.

Saat menjadi mahasiswa, Isvie besar di organisasi kemahasiswaan. Ia jago debat dan tidak pernah mau mengalah. Isvie selalu memberontak jika perempuan dipandang sebelah mata. "Saya malah dianggap egois dulu, karena tidak pernah mau kalah kalau berdebat. Malah saya disarankan agar jadi politisi sama dosen, tapi saya maunya jadi PNS," kenangnya.

Usai menuntaskan pendidikan hukumnya, Isvie sebenarnya sempat menjadi tenaga honorer di Kantor Camat Selong. Dengan nama besar sang ayah, tidak sulit baginya untuk menjadi PNS. Namun setelah bekerja di kantor camat, jiwanya kembali memberontak. Setiap hari kerjaan lebih banyak duduk dan makan pelecing.

Ia tidak menyangka, begitu membosankannya bekerja hanya dengan duduk-duduk saja. Ibunya, Hj Baiq Zubaedah menyarankan agar Isvie menjadi seorang guru saja seperti dirinya. Akhirnya pada tahun 1988, Isvie mulai menjadi dosen. Tetapi lagi-lagi, dosen saja tidak membuatnya puas hingga membentuk Lemabaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan juga mulai melirik partai politik dengan bergabung menjadi Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI).

Berada di dalam partai Golkar, jiwa pemberontaknya kembali tumbuh karena wanita dipandang sebelah mata. Golkar waktu itu kurang memberikan ruang terhadap wanita, Isvie tidak bisa tinggal diam melakukan gerakan-gerakan politik hingga akhirnya diberikan kepercayaan menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mulai tahun 1999.

Kesibukannya di partai politik semakin tinggi, Isvie akhirnya mengambil keputusan untuk menghentikan semua aktivitas di luar seperti dosen dan juga konsultan hukum. Ia berhenti menjadi dosen Unram pada tahun 2004 dan fokus ke politik mencalonkan diri sebagai Caleg DPR-RI. "Tapi ya Allah, mungkin itu masa-masa pahit saya dalam politik. Saya nyalon DPR pusat tahun 2004 gagal, kemudian tahun 2009 gagal juga. Terus saat nyalon jadi DPRD Provinsi alhamdulillah berhasil," tuturnya.

Untuk bisa menjadi anggota DPRD, jaringan partai, keluarga dan organisasi sangat membantunya. Bahkan, di kalangan para aktivis nama Isvie sudah sangat melekat. Ia juga pernah menjadi Majelis Pembina Cabang (Mabincab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lombok Timur pada tahun 2011-2013.

Isvie memiliki mimpi-mimpi besar yang harus diperjuangkan. Mimpi itu, ingin melihat masyarakat NTB bisa hidup sejahtera. "Makanya sekarang saya ingin bisa bermitra dengan Pemprov untuk mewujudkan itu," ucapnya.

Dari semua saudaranya, hanya Isvie yang terjun di panggung politik. Kakak maupun adik-adiknya lebih memilih profesi lain seperti pengusaha, pegawai bank, kontraktor dan lain-lain. "Saya juga tidak tahu kenapa, mungkin almarhum ayah saya memang ingin ada anaknya yang mewarisi trah politik. Makanya sejak kecil saya yang lebih didik keras," ujarnya.

Kini, almarhum ayahnya bisa bangga dengan Isvie yang mampu menjadi Ketua DPRD. Bersyukurnya, pencapaian saat ini masih bisa disaksikan langsung oleh ibunda tercinta Hj Baiq Zubaedah yang tinggal di Lombok Timur. (*)