Hingga 2021, Program Impor Sapi Belum Terealisasi

Hj Budi Septiani (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Pemerintah Provinsi NTB telah menggandeng salah satu investor untuk program impor sapi Australia. Tahun 2019 lalu, investor nasional pimpinan CV Indo Farm datang ke Provinsi NTB. Sudah bertemu dengan Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah, dan juga meninjau kesiapan pemerintah daerah. Salah satunya mengunjungi langsung Pelabuhan Lembar di Lombok Barat, yang akan digunakan sebagai lokasi bongkar muat.

Namun hingga memasuki tahun 2021, belum ada perkembangan dari rencana impor sapi tersebut. Padahal, berbagai persiapan telah dilakukan. “Belum ada infonya. Katanya investornya sakit,” ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi NTB, Hj Budi Septiani, kepada Radar Lombok, Minggu (17/1).

Awalnya, impor sapi dari Australia akan mulai dilakukan tahun 2020 oleh CV Indo Farm. Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek milik Pemprov NTB sudah siap diberikan untuk dikelola investor. RPH Banyumulek dulunya dikelola PT Gerbang NTB Emas (GNE). Namun tidak bisa dioptimalkan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu. Salah satu kendala yang dihadapi, tingginya biaya operasional RPH.

Lantas, bagaimana kejelasan terkait investor tersebut? Apakah batal melakukan impor sapi? Budi juga belum bisa memberikan kepastian. “Belum tahu, mungkin belum bisa juga impor karena terkendala Covid-19,” duganya.

Selain Pemprov, ada pula Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi NTB yang menggandeng investor untuk impor sapi Australia. Namun hingga saat ini masih dalam tahap persiapan. Impor sapi yang diinisiasi HKTI juga molor dari target. Rencana awal, pada akhir Desember 2020 lalu sudah mulai dilakukan impor perdana. Namun molor ke Januari-Februari 2021.

Saat ini, program impor sapi HKTI juga belum dimulai. Dan impor perdana dijadwalkan molor ke bulan Mei. “Insha Allah bulan Mei 2021 mulai impor,” jelas Sekretaris HKTI Provinsi NTB, Iwan Setiawan yang dikonfirmasi.

HKTI NTB telah menandatangani kerja sama dengan PT Mineral Energi Mulia (MEM), yang merupakan anak perusahaan dari PT Karya Hoqi untuk impor sapi. Ada pula kontrak kedua dengan PT Karya Hoqi sendiri selaku pemodal.

Dalam kontrak kerja sama antara HKTI NTB dengan PT MEM, jelas tertulis HKTI NTB akan didropkan 10 juta sapi bakala (brahma) secara bertahap dalam jangka waktu 5 tahun. Angka 10 juta ekor sapi tersebut merupakan jumlah kuota yang diberikan oleh Kementerian Pertanian RI kepada PT Karya Hoqi untuk memenuhi pasar ekspornya ke Timur Tengah. Artinya PT Karya Hoqi melimpahkan seluruh kuotanya untuk HKTI NTB.

Mekanisme kerja sama, HKTI NTB akan membeli sapi dari anak perusahaan PT Karya Hoqi, yaitu PT MEM sebanyak jumlah kuota tersebut. Setelah didatangkan dari Australia, sapi akan dipelihara di NTB sekitar 3 bulan. Barulah kemudian disembelih, dipacking di Lombok, dan diekspor ke Timur Tengah, serta berbagai negara. “Untuk persyaratan-persyaratan impor sapi udah selesai, tinggal persiapan IKHS,” kata Iwan Setiawan.

Disampaikan, HKTI saat ini sedang mempersiapkan Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS) di Desa Cendi Manik Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. “Insha Allah kita akan selesaikan IKHS dulu. Sekaligus RPH-nya disana,” terangnya.

Lombok Barat dipilih menjadi sentral program tersebut, karena dinilai representatif. “Banyak akan kita rekrut SDM nanti. Di Lotim nanti hanya penggemukan di masyarakat, kelompok tani. Untuk sentralnya di Lobar,” ucap Iwan Setiawan. (zwr)