Hindari Polemik Nama Bandara, Polda Gelar Silaturahmi Bersama Tokoh NW dan NU

Acara silaturahmi dan doa bersama di Polda NTB, Rabu (6/12).(Dery Harjan/Radar Lombok)

MATARAM – Guna terus memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat pasca polemik pergantian nama bandara, Polda NTB menggelar silaturahmi dan doa bersama dengan para tokoh ulama perwakilan Nahdatul Wathan, dan Nahdatul Ulama di lapangan tennis Polda NTB, Rabu (6/1).

Kapolda NTB Irjen Pol Mohammad Ikbal menyampaikan bahwa peran ulama sangat penting dalam menghadirkan keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Ulama menjadi garda terdepan dalam membantu kami menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, “ujarnya.

Ikbal menyampaikan bahwa belakangan ini banyak dinamika yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Baik berkaitan dengan politik, sosial, ekonomi dan budaya. “Pilkada ada dinamika, kejahatan jalanan ada dinamika, eksekusi lahan ada dinamika, pergantian nama bandara pun ada dinamika. Hampir setiap hari kita dihadapkan dengan dinamika,” ungkap jendral bintang dua tersebut.

Oleh sebab itu kata Ikbal, pihaknya berharap dukungan dari semua pihak agar bisa terus menghadirkan keamanan dan ketertiban masyarakat.
 “Kami tidak bisa bekerja dengan maksimal apabila tidak dibantu oleh semua stakeholder dan semua elemen, sekaligus yang paling penting adalah doa dan peran para ulama, para tuan guru,” ungkap mantan Kadiv Humas Polri ini.

Senada dengan Kapolda NTB, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah juga menuturkan bahwa beberapa tahun terakhir NTB dihadapkan dengan persoalan serius.
Di masa awal kepemimpinannya, perekonomian NTB pada kwartal III tahun 2018 paling rendah se-Indonesia, karena bencana gempa bumi sehingga kontraksi ekonomi berada di angka 13,39 persen.
” Saya mengetahui nilai ekonomi sebesar itu, bikin merinding. Yang terbayang adalah kemiskinan, pengangguran tidak bisa dibendung,” ungkap sapaan Dr Zul itu.

Namun berkat kebersamaan permasalahan tersebut ternyata bisa dilalui.
Ekonomi masyarakat kata Zul, terus membaik.
Tidak lama setelah ekonomi mulai membaik tanpa diduga ternyata datang lagi masalah yang lebih serius yaitu pandemi Covid-19.
Ekonomi masyarakat pun kembali terganggu.
Bahkan bukan hanya ekonomi saja tetapi mengancam keselamatan masyarakat.
“Hanya saja kita selalu berpikir bahwa ada hikmah dibalik musibah,”ungkap Zul.

Hal itu pun terbukti. Dimana ditengah pandemi Covid-19 ternyata NTB mampu menghadirkan inovasi-inovasi baru yang dapat menunjang kesejahteraan masyarakat.
“Adanya pandemi Covid-19 menyadarkan kita bahwa tidak selamanya kita bergantung dari luar.
Banyak hal yang ternyata bisa kita hasilkan sendiri. Tidak hanya masker ternyata NTB mampu banyak hal. Termasuk di bidang teknologi dan lainnya,”ujar Zul.

Hal ini kata Zul tidak terlepas dari dukungan dari semua pihak.
Zul berkeyakinan bahwa jika bersama maka setiap permasalahan pasti bisa dilalui.
Untuk itu ia berharap agar kebersamaan di NTB ini bisa dijaga betul.
Masyarakat kata Zul, tidak boleh berkonflik hanya karena nama bandara. Nama bandara merupakan wewenang dari PT Angkasa Pura.
“Pergantian bandara terus terang merupakan wilayah BUMN kita. Sama seperti ITDC. Oleh karena itu ketika itu milik BUMN tentu mereka punya role of the game di dalam internal mereka sendiri. Ketika GM (General Manager) atau Dirut-nya yang ada disini tidak bisa mengambil keputusan sendiri tentu akan berkonsultasi dengan Kementerian BUMN. Jika Kementerian BUMN tidak bisa sendiri tentu akan berkonsultasi dengan Kementerian Perhubungan. Begitu seterusnya,”jelasnya.

Perwakilan Nahdlatul Ulama (NU) NTB TGH. Ma’rif Makmun Diranse menyampaikan, terkait persoalan penggantian nama Bandara Internasional Lombok (BIL) pihaknya meminta agar sama-sama menempatkan faktor kedamaian sebagai faktor utama.
Sesuai tema acara hari ini adalah ummat bersatu NTB damai.
“Persoalan bandara jangan diributkan, jangan sampai membenturkan pemuka-pemuka atau pimpinan NU dan NW. Karena mereka adalah sahabat atau teman,” ujarnya.

 “Di antara kami ada hubungan emosional, ada hubungan silsilah keguruan, dan lain-lain. Karenanya, kami warga Nahdlatul Ulama meminta agar permasalahan nama bandara, jangan dikait-kaitkan dengan NU dan NW,” lanjut pimpinan Ponpes Manhalul Ma’arif Darek itu.

Sedangkan perwakilan organisasi Nahdlatul Wathan (NW) TGH Yusuf Makmun mengatakan, dalam kehidupan pasti beriringan dengan masalah. Namun permasalahan tidak semestinya menjadikan tercerai berai. Pihaknya berharap perbedaan yang ada khususnya terkait nama bandara disikapi dengan arif dan bijaksana. “Semoga perbedaan jangan menjadikan suatu masalah, karena sudah sewajarnya dalam hidup pasti ada masalah, mari jadikan perbedaan menjadi sebuah kebersamaan,” katanya.

Terkait penggantian nama bandara, pihaknya meminta agar dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya serta merupakan tugas pemerintah bersama instansi terkait lainnya.
 “Soal nama bandara, kami menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah,” tandasnya.

Tampak hadir dalam acara silaturrahmi dan doa bersama di Lapangan Tenis Mapolda NTB tersebut, Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI A Rizal Ramdhani, M.Han, Ketua DPRD NTB Baiq Isvie Rupaeda, Ketua MUI NTB, Prof H Syaiful Muslim, para tokoh agama dan masyarakat (togama) serta tokoh pemuda Lombok Tengah. (der)