Hidupkan Wisata MICE di DSP Mandalika, Kemenparekraf Sosialisasi CHSE

SOSIALISASI CHSE: Kemenparekraf RI menggelar sosialisasi panduan CHSE untuk para pelaku usaha wisata, khususnya penyelenggara MICE di DSP Mandlika, Lombok, NTB, Selasa (23/2/2021).

MATARAM-Upaya menghidupkan kembali sektor pariwisata di lima destinasi super prioritas (DSP), termasuk DSP Mandalika, Lombok, Provinsi NTB, yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, melalui Direktorat Wisata MICE Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events), menggelar sosialisasi program Cleanliness, Health, Safety and Environmental sustainability (CHSE), atau Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan serta Kelestarian Lingkungan, yang berlangsung di Hotel Aruna Senggigi, Selasa (23/2/2021).

Kegiatan sosialisasi CHSE diikuti 140 peserta, terdiri dari 60 peserta online dan 80 offline, yang berasal dari Dinas Pariwisata Provinsi NTB, maupun Dinas Pariwisata 10 kabupaten/kota di NTB, para Ketua Asosiasi Kepariwisataan (Asita, HPI, ASPPI, GIPI, Astindo), para Manager Hotel dan Restoran, Event Organizer, Travel Agent, Desa Wisata, dan Media.

“Sosialisasi CHSE ini sekaligus hendak menunjukkan kesiapan kita (Indonesia) dalam menyambut kedatangan para wisatawan, meskipun masih di tengah pandemi Covid-19. Khususnya di lima destinasi super prioritas, termasuk Mandalika. Terutama untuk penyelenggaraan kegiatan Meeting, Incentive, Convention, Exibition (MICE),” kata Koordinator Pengembangan Jejaring dan Kapasitas Wisata MICE Kemenparekraf, Titik Lestari, dalam sambutan ketika membuka kegiatan.

Lebih lanjut disampaikan Titik, sosialisasi juga bertujuan untuk menyamakan persepsi atau pemahaman para stakeholder, terutama para pelaku usaha wisata, terkait isi buku panduan CHSE untuk MICE yang telah disusun. “Tentu penerapannya juga disesuaikan dengan kearifan lokal daerah masing-masing,” jelasnya.

Selain sosialisasi, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, juga dilakukan simulasi penerapan CHSE, dengan berkunjung ke sejumlah destinasi yang ada di pulau Lombok.

“Hari ke dua dan ke tiga, peserta khususnya media akan diajak mengunjungi sejumlah destinasi wisata, seperti ke sentra gerabah di Desa Banyumulek, sentra tenun di Desa Sukarara, pantai Kuta, pantai Tanjung Aan, Bukit Merese, Desa Wisata Bon Jeruk, air terjun Benang Setokel dan air terjun Benang Kelambu di Desa Batukliang,” ujar Titik.

Sementara itu, salah satu narasumber yang juga Trainers Kemenparekraf, Aldo Lendy Sumolang menyampaikan bahwa panduan CHSE untuk MICE telah diterbitkan pihak Kemenparekraf, yang tentunya mengacu pada protokol kesehatan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), organisasi kesehatan dunia (WHO), dan lainnya.

“Secara garis besar, ada tiga hal dalam buku panduan CHSE ini yang harus diketahui, yaitu bagaimana pihak penyelenggara MICE di masa pandemi ini bisa melakukan pencegahan, deteksi, dan penanganan,” jelas Aldo.

Untuk mendapatkan panduan CHSE ini, para stakeholder atau pelaku usaha wisata dapat mengunduh gratis melalui link http://chse.kemenparekraf.go.id/handbook.

“Kemudian kepada pelaku wisata yang usahanya belum bersertifikasi CHSE, agar segera mengurus sertifikasi CHSE, dan akan difasilitasi secara gratis oleh Kemenparekraf,” sarannya.

“Namun yang jelas, tujuan akhir dari panduan CHSE ini, agar penyelenggara MICE melakukan upaya memutus rantai penularan Covid-19. Mulai dari aspek pencegahan, deteksi dan penanganan,” pungkas Aldo. (gt)