Hidup Sebatang Kara, Doa Terijabah Lewat Pasukan Bersajadah Hijau

PUNYA RUMAH: Dandim 1620/WB Lombok Tengah, Letkol Inf Is Abul Rasi saat memberikan bantuan sembako dan rumah kepada papuq Nasib.

Penderitaan hidup papuq (nenek) Nasib asal Dusun Bunsimbah Desa Gemel Kecamatan Jonggat, seakan lengkap selama ini. Selain hidup miskin, wanita renta 76 tahun itu juga harus menjalani getirnya kehidupan sendirian tanpa sanak keluarga.


SAPARUDDIN-PRAYA


SUARA sapu lidi terdengar bergerak pelan ketika koran ini mengunjungi rumah papuq Nasib di Dusun Bunsimbah Desa Gemel Kecamatan Jonggat.  Suaranya beriringan dengan gemercik air sungai yang mengalir tak jauh dari rumahnya. Suara itu semakin pelan hingga bebeberapa saat kemudian terhenti ketika koran ini menyapanya. Wanita tua lantas menoleh sambil mengangkat tangan ke keningnya. Ia berusaha memperhatikan sosok koran ini yang tak lazim baginya.

Sejurus kemudian, barulah wanita dengan rambut putih itu melepas senyumnya. Giginya tak lagi tampak satu pun. Senyumnya itu sekaligus menyiratkan parit-parit di wajahnya, menandakan bahwa ia tak lagi muda. Maklum, umurnya ternyata sudah 76 tahun.

[postingan number=3 tag=”features”]

Tanpa basa basi papuq Nasib lantas menunjukkan rumah barunya. Meski belum jadi saat koran ini mengunjunginya akhir pekan lalu, tapi kegembiraan di wajahnya tak terpungkiri. Ia mengaku baru sekarang ini dalam seumur hidupnya memiliki rumah layak. Beberapa bahan bangunan sudah tampak terpajang di dekat bangunan rumah barunya. Seperti tumpukan batu bata, spandek biji, paralon, daun pintu, dan kloset.

Sebelumnya, papuq Nasib hanya tinggal di gubuk reyot. Rumahnya beratapkan asbes, dinding bedek (anyaman bambu), dan berlantaikan tanah. Di rumah itu, ia harus menjalani kehidupan selama sebatang kara sejak tahun 1987. Tepatnya, tiga tahun setelah ia menikah dengan mendiang suaminya di Praya.

Waktu itu, papuq Nasib melahirkan seorang anak yang kemudian meninggal dunia. Setelah itu, ia diceraikan mendiang suaminya hingga kemudian pulang ke kampung halamannya. Keluarganya kemudian membangunkannya rumah seadanya di tanah warisan seluas 2 are. Sejak itu, ia tinggal di gubuk reyot dengan bantaran sungai di kampungnya.

Sembari itu, ia mengaku pantang melupakan ibadah. Ia terus berdoa kepada Tuhan agar suatu saat ia diberikan tempat tinggal yang layak.

Alhasil, doanya diijabah Tuhan. Lima malam sebelum pasukan Kodim 1620/WB Lombok Tengah datang membantu memperbaiki rumahnya. Ia bermimpi didatangi sekelompok pasukan menggunakan sajadah warna hijau. ‘’Keesokan harinya ada dua orang datang memotret rumah saya. Dan tiba-tiba keesokan harinya ada 11 tentara datang membawa bantuan dan memperbaiki rumah saya,’’ tuturnya dengan mengucap syukur.

Dandim 1620/WB Lombok Tengah, Letkol Inf Is Abul Rasi yang dikonirmasi mengaku, bantuan itu diberikan pihak murni atas dasar kemanusiaan. Ia mengaku turun langsung memberikan bantuan kepada papuq Nasib. Di sambaing bantuan bedah rumah, pihaknya juga membawakan makanan untuk papuq Nasib. “Sebelumnya ada anggota yang sempat lihat dan mengambil gambar. Anggota itu sempat menceritakan dan saya merasa sedih dan rumah itu layak dimasukkan dalam program bedah rumah,” ungkapnya.

Untuk rumah papuq Nasib sendiri dibangun seluas 8,25 x 3 meter. Ruma itu dilengkapi dengan teras, kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan toilet. Untuk memperlancar proses pembangnan, pihaknya sudah memerintahkan Danramil 06-1620 Jonggat agar segera berkoordinasi dengan para tukang setempat. Sehingga bisa diketahui berapa anggaran atau dana yang akan dibutuhkan untuk secepatnya menyelesaikan pembangunan rumah tersebut. “Ini adalah salah satu program Kodim 1620 terhadap masyarakat yang tidak mampu, dan mudah-mudahan nantinya ini tercatat sebagai amal ibadah,” harapnya. (**)