Hari Sumpah Pemuda: Saatnya Pemuda Ambil Peran

Oleh: Lalu Muhamad Helmi Akbar

Mengingat 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda berarti mengingat semangat kaum muda di masa lampau. Dalam upaya meraih kemardekaan, para pemuda secara kolektif berkumpul mengadakan kongres. Sadar bahwa perjuangan tidak akan selesai dengan konsep kedaerahan, mereka kemudian memilih jalan berhimpun membentuk kongres. Eksodus pemikiran inilah yang menjadi tonggak awal pergerakan besar kepemudaan yang memberikan dampak signifikan atas nama ‘perjuangan’. Tujuannya, menyatukan pemuda dalam satu payung organisasi. Seiring seirama, sejalan dalam derap langkah pergerakan. Kongres Pemuda pertamapun terwujd pada 1926.

Dua tahun berselang, pada 1928, kongres pemuda dua sukses terlaksana. Semengat mereka untuk terus berkumpul dan menghimpun perjuangan kemerdekaan tak tergerus meskipun menempuh perjalanan jauh. Sejarah mencatat, kongres pemuda ini telah melahirkan gagasan visioner yang hingga kini lazim disebut dengan langgam “Sumpah Pemuda”. Semangat senasib sepenanggungan pemuda kala itu menjadi benih memupuk semangat perjuangan.

Kini, 93 tahun setelahnya, semangat itu mesti tetap dirawat dan dijaga. Indonesia memang telah merdeka, tetapi aktualisasi makna kata ‘merdeka’ itulah yang menjadi pekerjaan rumah yang mesti dijawab. Pemuda, wajib mengambil peran dalam hal ini.

Sepanjang sejarah, angkatan muda selalu memiliki kesadaran akan Indonesia yang lebih baik.

Gerakan kaum muda Indonesia masa kini adalah penerus para pendahulu mereka. Dalam perjalanan sejarah bangsa, kaum muda selalu memainkan peran penting dan revolusioner. Dalam sejarah, gerakan kaum muda yang berjuang melawan generasi tua yang mapan tercatat dalam momen-momen genting dan penting. Maka muncullah penamaan seperti angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1978, dan – tentu saja – 1998.

Pada 2019, gelombang unjuk rasa anak muda di berbagai wilayah terhadap serangkaian rancangan undang-undang kontroversial, dipandang sebagai “protes mahasiswa terbesar sejak 1998”. Unjuk rasa itu menunjukkan bahwa anak muda masih memiliki pandangan politik kritis dan keyakinan atas keberdayaan politik mereka, meskipun dalam dua dekade terakhir mereka sering dituduh apatis.

Pergerakan ini seolah-olah membawa pesan bahwa perjuangan para pendahulu mereka demi kebebasan dari penindasan, keadilan dan kebenaran masih penting dan justru semakin mendesak hari-hari ini.

Salah satu faktor pendorong gerakan kaum muda yang selalu ada dari masa ke masa adalah kesadaran dalam angkatan. Pemuda selalu jadi wujud paling esensial dan gagasan bahwa era baru yang progresif, Indonesia yang lebih baik, dapat dicapai; dan mereka memiliki tanggung jawab untuk memimpin dalam perjuangan yang sedang berlangsung untuk masa depan yang lebih baik. Kesadaran angkatan muda terbukti menjadi kekuatan pendorong perubahan nyata dalam sejarah Indonesia.

BACA JUGA :  POTENSI TERAMATI HILAL 1 RAMADHAN 1443 H DI PULAU SERIBU MASJID

Gerakan pemuda di sepanjang sejarah Indonesia telah menyumbangkan visi yang jelas tentang perubahan progresif dan bagaimana perubahan itu dapat dicapai.

Kini, kondisi politik dan peluang-peluang yang ada membentuk berbagai peran pemuda, khususnya pemuda berpendidikan di setiap era. Pemuda ialah orang-orang pertama yang mengembangkan rasa memiliki takdir bersama dan keberdayaan bersama sebagai sebuah generasi. Mereka merasa lebih tercerahkan dibanding generasi orang tua mereka yang feodal dan terpecah-pecah secara etnis. Mereka seirama dengan perkembangan progresif di panggung dunia – termasuk kebangkitan nasionalisme dalam satu keyakinan dan kesetiaan bersama “satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa”.

Dikotomi pemikiran kaum tua dan kaum muda

Studi dan kajian ilmiah menunjukkan bahwa dalam konteks pemikiran dan pergerakan, pemuda selalu bertempur melawan generasi tua yang sudah mapan. Kontradiksi itu nyata, para elite politik tua elit selalu berusaha membatasi peran pemuda. Saat pemuda mengritik, elit politik tua membungkam. Saat pemuda memperjuangkan kesetaraan gender, elit politik tua bertahan dengan patriarki. Salah dua dari sekian paradoks yang ada dan nyata.

Relasi yang kurang mesra antara kelompok tua dan kaum muda inilah yang menghadirkan arus perubahan yang impoten, kontra-produktif. “Saat elite politik tua mulai berbicara tentang pemuda-pemudi, sudah seharusnya pemuda mulai curiga. Yang mereka bicarakan adalah hidup dan kepentingan mereka, bukan apa yang akan dan nyata dihadapi pemuda”.

Bagaimana seharusnya pemuda menjawab tantangan yang ada?
Dua persoalan mendasar yang mesti dijawab pemuda adalah; kemiskinan dan kebodohan. Dua persoalan inilah yang merupakan akumulasi dari persoalan-persoalan lain yang muncul. ini seumpama mata rantai. Betul bahwa bicara kemiskinan berarti bicara soal perut. Dan kebodohan tentu ada pada tataran yang lebih filosofi dari hanya sekadar soal perut, tapi isi kepala. Namun, dua hal ini sejatinya resiprokal.

Belenggu kemiskinan membentuk karakter masyarakat yang tidak sehat, khususnya secara fisik. Mengakarnya kebodohan seperti virus jahat bagi jernihnya psikir, pikiran. Hal ini membentuk identitas dan prilaku masyarakat yang apatis, tidak objektif, dan susah menemukan keadilan serta kesejahteraan. Dan hinggapnya kenyataan ini di tubuh masyarakat akan menjadi tantangan serius bagi pemuda.

BACA JUGA :   URGENSI MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA SDIT AL ISLAM SUNTU BIMA MELALUI KEGIATAN MENGGAMBAR

Salah satu jalan terjal yang dapat dilakukan pemuda untuk mengatasi persoalan ini adalah lewat jalur politik. Namun, jalan ini bukan tanpa hambatan. Setidaknya, ada tiga hal yang mesti dijawab pemuda jika hendak mengambil jalan ini.

Pertama, fenomena menguatnya gerontokrasi. Ini adalah suatu sistem yang dikendalikan atau diatur oleh orang-orang tua. Meski tidak bisa dinafikan terdapat anak-anak muda yang tampil di pentas politik atau jabatan publik, sejatinya itu pun lebih banyak sebagai subordinat politisi tua atau bagian dari klan politik. Politisi muda yang bukan bagian dari klan politik mesti mendaki dan merangkak dari bawah. Banyak dari mereka masih terseok-seok untuk mendapatkan posisi strategis, baik di internal parpol maupun di jabatan-jabatan publik.

Kedua, Kedua, apatisme politik milenial. Survei CSIS yang dirilis pada awal November 2017 menyebutkan bahwa hanya 2,3 persen generasi milenial yang tertarik dengan isu sosial-politik. Ironisnya, isu sosial politik juga menjadi yang paling tidak diminati oleh generasi milenial.

Ketiga, sebagaimana fenomena umum, mengguritanya praktik oligarki menjadi salah satu tantangan anak muda hari ini untuk berkecimpung dalam politik. Dengan menguatnya praktik politik semacam ini, anak muda yang memiliki gagasan dan modal politik harus berjuang ekstra untuk menjebol tembok oligarki. Ini tentu tidak mudah. Selain mesti menyiapkan stamina dan sumber daya politik, anak-anak muda ini sudah pasti harus pula memiliki strategi politik untuk berhadapan dengan kekuatan oligarki.

Bukan waktunya pesimistis
Tiga tantangan di atas setidaknya yang menjadi masalah bagi pemuda hari ini jika ingin menceburkan diri dalam dunia politik.
Momentum peringatan Sumpah Pemuda nampaknya relevan menjadi cambuk penyemangat, di samping dijadikan spirit agar terus berjuang mewujudkan politik yang berorientasi pada kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Persoalan dan tantangan pasti ada. Namun, tak ada persoalan dan tantangan yang tak mempunyai jalan keluar.

Sastrawan Pramodya Ananta Toer pernah berkata, “Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa.” Itu sebabnya, kehadiran dan kiprah pemuda dalam panggung politik sudah tentu dinanti oleh publik.

Setiap zaman tentu bergerak dinamis yang kadang sulit ditebak serta memiliki tantangan yang berbeda dengan kerumitan yang berlainan pula. Satu-satunya jalan bagi pemuda hari ini untuk mengubah dan memberi dampak pada perubahan itu hanya satu: merebut kekuasaan.