Harga Tembakau Disesuaikan dengan Kualitas

Pemprov Justru Klaim Petani Untung

Harga Tembakau Disesuaikan dengan Kualitas
SIDAK : Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, H Husnul Fauzi melakukan inspeksi mendadak (Sidak) proses jual-beli tembakau di salah satu perusahaan Lombok Timur, Senin (22/10). (IST/RADAR LOMBOK)

SELONG – Para petani tembakau di Lombok Timur memprotes penetapan grade tembakau yang masuk ke perusahaan mitra yang dianggap tidak transparan dan membuat petani rugi. Suara lantang juga diteriakkan oleh Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) yang menuntut pemerintah maksimal melakukan pengawasan aktivitas pembelian tembakau petani oleh perusahaan. Sampai saat ini pola kemitraan antara petani dan perusahaan pembeli tembakau diakui belum berjalan rapi.

BACA : APTI Temukan Kecurangan Pembelian Tembakau

Perusahaan sendiri memberikan pernyataan soal ini. Misalnya yang disampaikan oleh Direktur PT Sadhana, Kuswanto Setia Budi, kemarin. Sadhana adalah salah satu mitra petani tembakau di Lombok Timur. Kuswanto mengakui saat ini ada penurunan harga tembakau. Turunnya harga  disebabkan oleh kualitas tembakau hasil panen petani yang menurun dibandingkan saat awal panen lalu. “ Ada beberapa sebab harga tembakau petani turun. Salah satunya hasil pengopenan kurang baik akibat panas yang terlalu tinggi, tetapi harga yang kami berikan masih menguntungkan petani kami,” katanya.

Ia menjawab tudingan permainan grade. Ia menjamin perusahaannya tidak melakukan seperti itu. Penentuan grade diklaim dilakukan dengan transparan dan dapat dilihat oleh petani. “ Secara kebetulan tembakau yang kita beli juga merupakan tembakau hasil petani binaan kita sendiri. Jadi saya tidak ingin membuat petani saya kecewa yang sudah bermitra puluhan tahun. Saya pastikan untuk petani di bawah binaan saya rata-rata petani untung,” ungkapnya.

Sementara itu kemarin, sejumlah petani tidak puas dengan harga dan grade tembakau yang dipatok mitra.

Salah satu petani tembakau asal Desa Batu Putek Kecamatan Sakra, Rahmat, memilih membawa pulang kembali tembakaunya daripada menjual dengan harga yang tidak sesuai dengan kualitas tembakaunya. Awalnya ia memasukkan tembakau ke perusahaan yang punya gudang di Sakra. “ Saya heran saja, pada saat melihat harga tembakau saya kok anjlok sekali. Padahal daun pertama ketiga dari tembakau ini harganya Rp 40 ribu per kilogram. Sementara dengan warna yang sama dengan daun yang lebih bagus harganya mentok Rp 35 ribu per kilogram. Seharusnya lebih tinggi,” katanya sambil menaikkan tembakaunya ke mobil.

Harga tembakau yang dipatok gudang katanya, paling tinggi mencapai Rp 37 per kilogram. Tidak seperti harga minggu pertama bulan Oktober yang rata-rata mencapai Rp 45 ribu perkilogram. “Kalau disini harga paling tinggi yang saya dengar dari teman- teman yang menjual paling tinggi Rp 37 ribu, tapi itu grade yang paling bagus,” akunya.

Petani ini mengaku coba-coba menjual di tempat ini dan tidak puas dengan cara pemberian grade tembakau yang dianggap tidak transparan. “Jadi petani hanya boleh melihat grade tembakau ini pada saat tembakau selesai ditimbang. Seharusnya grade itu diberikan pada saat tembakau di periksa oleh petugas grade, yang kemudian hasil grade itu ditempel, bukan setelah ditimbang, makanya banyak petani yang kecewa,”katanya.

Sejak ia menjadi binaan salah satu perusahaan yang gudangnya ada di Terara, grade tembakau selalu diberikan setelah selesai diperiksa.

Salah satu petugas grade enggan memberikan keterangan soal ini. “ Ini kualitasnya jelek, kalau masalah grade ini kita ketuhui nanti saja,” katanya sambil menulis grade tembakau yang tidak boleh dilihat oleh siapapun sebelum dilakukan penimbangan.

1
2
Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut