Harga Tembakau Anjlok

TEMBAKAU: Inilah kondisi tembakau para petani yang saat menanam banyak mati dan sekarang harganya turun. (DOKUMEN/RADAR LOMBOK)

PRAYA) – Musibah bertubi-tubi dialami petani tembakau di Lombok Tengah. Pada awal musim tanam tahun 2021, mereka memiliki kendala kekeringan. Kemudian di pertengahan musim tanam, mereka dihadapkan dengan hujan hingga membuat tembakau mereka banyak mati.
Kini, permasalahan ketika panen kembali muncul. Harga jual tembakau mereka mengalami penurunan drastis. Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) mengklaim jika turunnya harga tembakau ini, karena kualitas tembakau petani kurang bagus. Panen daun bawah diangap berpengaruh terhadap kualitas tembakau.

Hal ini disampaikan Kabid Perkebunan Distanak Lombok Tengah, Zainal Arifin, turunnya harga tembakau tergantung great. Karena perusahaan tembakau memiliki rujukan dalam menentukan harga, mulai harga untuk great tertinggi hingga terendah. “Kalau harga tergantung kualitas dan ini yang perlu kita klarifukasi, apakah kualitasnya sama atau tidak dengan sebelumnya. Untuk menguji kualitas ini, biasanya perusahaan tembakau seperti PT Bentoel dan PT Djarum mengundang petani mitra, pemerhati hingga pemerintah untuk menentukan kualitas dan harga tembakau,’’ ujar Zainal Arifin kepada Radar Lombok.

BACA JUGA :  Pencuri Tas Warga Belanda Diamuk Warga

Perusahaan juga sudah memaparkan harga berdasarkan great. PT Bentol misalnya membeli hingga great teringgi 47.000/kg dan great terendah di bawah 7.500/kg. Sementara PT Djarum biasa membeli dengan harga Rp 41.000/kg untuk great tertinggi dan Rp 16.000 untuk great terendah. ‘’Memang kalau dibandingkan harga dengan panen sebelumnya ada penurunan. Kondisi sekarang karena kualitas masih belum maksimal panen kita. Karena sekarang masih tahap awal produksi daun bawah. Mudahan daun tengah dan atas nantinya bisa menutupi harga agar petani tidak merugi,” harap Zainal.

Zainal mengaku, meski harga tembakau turun tapi petani bisa tetap dapat untung. Pasalnya, dalam satu hektare lahan pertanian biasa menghabiskan dana Rp 50 sampai Rp 60 juta. Biasanya setiap lahan per hektarenya bisa menghasilkan dua ton lebih. “Makanya bisa saja petani mendapatkan Rp 80 juta dari modal Rp 50 juta,” terangnya.

BACA JUGA :  Dewan Loteng Tetapkan Perda LKPJ 2016

Lebih jauh disampaikan Zainal, untuk luas lahan tanaman tembakau virginia ada sekitar 8.978 hektare dan tembakau rajangan 216 hektare. Petani tembakau ini lebih dominan berada di Kecamatan Janapria dan Kecamatan Praya Timur. “Kita dari luas lahan ini mampu menghasilkan 17.000 ton tembakau dan paling dominan menanam di Kecamatan Praya Timur 3885 hektare dan Kecamatan Janapria 3167 hektare,” sebutnya.

Para petani ini menjual tembakaunya juga sangat mudah. Mengingat ada 23 perusahaan tembakau yang datang membeli langsung tembakau mereka. “Tapi karena ini awal panen dan kondisinya tembakau membuat harga menjadi murah. Tapi kalau masalah harga memang great yang berbicara,” pungkasnya. (met)