Harga PCR Turun Tak Berdampak bagi Industri Pariwisata

INDUSTRI PARIWISATA: Harga PCR turun tak berdampak bagi industri pariwisata, salah satunya perhotelan. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Penurunan harga polymerase chain reaction (PCR) menjadi Rp 495.000 untuk wilayah Jawa-Bali, dan Rp 525.000 untuk luar Jawa-Bali berlaku 17 Agustus kemarin. Sayangnya, meskipun harga diturunkan tidak berdampak pada industri parisatawa. Pasalnya, tamu yang datang masih dibebankan biaya tinggi.

Sekarang ini saja untuk melakukan perjalanan masuk atau keluar NTB syaratanya harus PCR dan sudah vaksin. Sementara biaya PCR cukup tinggi, sehingga membuat para tamu enggan untuk bepergian karena besarnya biaya dikeluarkan. Sebelumnya, diharganya Rp 900.000/PCR. “PCR itu salah satu untuk orang berlibur atau tidaknya, kembali situasi sekarang ini. Sekarang kalau dia PCR murah, tapi hasilnya positif juga sama saja,” kata Ketua DPD Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) Provinsi NTB, Dewantoro Umbu Joka, Kamis (19/8).

Diakui memang turunnya harga PCR membantu pariwisata juga, hanya saja paling utama persoalan pandemi Covid-19 ini. Di mana kasusnya masih tinggi, jangankan harga turun atau pun gratis jika kondisi pandemi masih berlangsung ditambah pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Bahkan belum ada kejelasan sampai kapan akan diperpanjang. “Sekarang tiba-tiba PPKM diperpanjang lagi, kepastian tidak ada sampai kapan. Siapa yang mau beli paket wisata yang tidak ada kepastian begitu. Itu juga masalah, tentu secara ekonomi membantu tapi belum maksimal,” terangnya.

BACA JUGA :  Aparat Gabungan Razia Kos-kosan Di Mataram

Diharapkan setelah PPKM diperpanjang ini tidak ada lagi dan akhir tahun kasus Covid-19 sudah benar-benar menurun karena vaksin sudah berjalan. Pasalnya, sekarang  ini persyaratan melakukan perjalan sudah bertambah, PCR dan vaksin. Meskipun harga PCR murah tetapi harus tetap sudah di vaksin.  “Iya sia-sia murah karena mereka tetap saja menambah cost (biaya). Untuk pariwisata ya agak susah karena menyangkut daya beli. Orang habis nganggur, langsung berwisata kan tidak masuk akal juga,” ungkapnya.

Senada diungkapkan Ketua Senggigi Hotel Association I Ketut Murta Jaya Kusuma, tidak berpengaruh yang signifikan meski harga tes PCR diturunkan. Karena untuk yang ke Lombok harus menggunakan PCR, sementara tamu-tamu lokal di Lombok tidak perlu menggunakan PCR. Jadi ini lebih masyarakat yang berpergian ke luar. “Belum ada efeknya, walupun harganya turun untuk PCR. Kalau pun turun harganya masih Rp 500 ribu,” ujarnya.

BACA JUGA :  Selaparang Juara Umum MTQ Tingkat Kota Mataram ke-27

Sementara, sekarang ini untuk di hotel untuk staycation (meningap) lebih kepada segmen lokal saja dengan promo-promo menarik dilakukan. Sedangkan tamu domestik ini melihat kebijakannya, misalnya dari Jawa ke Bali hanya menggunakan swab antigen 1 x 24 jam, tetapi kenapa ke Lombok masih menggunakan PCR. Padahal kasus covid di Bali lebih tinggi disbanding Lombok. “Kalau bisa menggunakan rapit antigen tidak usah PCR bisa saja industri pariwisata bergerak. Syarat perjalan kan vaksi, itu sudah oke dan antigen saja itu akan membantu. Tapi kalau masih sama saya piker agak susah,” jelasnya. (dev)