Harga Pakan Tinggi, Peternak Ayam Petelur Merugi

Satgas Pangan Mulai Awasi Telur Masuk di Karantina

PETERNAK TELUR: Harga pakan semakin mahal dan masuknya telur Bali, Jawa membuat peternak semakin terjepit. (DEVI HANDAYANI / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Tingginya harga pakan ternak ayam petelur disertai banjirnya telur asal Bali dan Jawa masuk ke NTB membuat peternak unggas bangkrut. Pasalnya, di saat harga pakan ternak melambung, pemerintah daerah justru membiarkan bebas masuk telur luar daerah NTB, tanpa ada pembatasan.

Akibatnya harga jual telur ayam peternak rakyat dalam daerah terancam bangkrut, karena serbuan telur luar NTB yang harga jualnya murah. Peternak ayam petelur lokal pun mendesak pemerintah daerah segera mengawasi telur masuk dari luar NTB sesuai dengan Surat Edaran (SE) Gubernur NTB tentang pembatasan telur luar masuk NTB.

Peternak ayam petelur di Lombok Timur mengeluhkan dengan kondisi saat ini. Harga pakan sudah mencapai Rp 435 ribu per zak. Dengan harga yang tinggi tersebut justru tidak dibarengi dengan harga telur yang bagus. Tetapi justru semakin anjlok harganya di tingkat peternak, karena serbuan telur luar NTB, seperti dari Jawa dan Bali.

“Harga pakan sekarang Rp435 ribu per zak. Sebelumnya Rp 415 ribu, Rp 350 ribu, Dan harganya terus naik,” kata salah seorang peternak di Desa Tirtanadi, Labuan Haji Lombok Timur H Zainuddin, Minggu (10/10).

Harga telur saat ini Rp 35 ribu perterai, sebelumnya harga telur masih berkisar

Rp 45 ribu per terai. Anjloknya harga jual tidak sebanding dengan harga pakan yang terus melambung tinggi membuat peternak menjadi merugi.

BACA JUGA :  Waspada Penipuan Pendaftaran Subsidi Listrik Melalui Website

“Kondisi penjualan seperti sekarang ini, membuat peternak rugi besar,” ucapnya. Dikatakan, untuk pakan lumayan kesulitan untuk mendapatkannya. Terlebih harga pakan naik, sedangkan harga telur anjlok. Anjloknya harga telur ini karena kalah saing dengan telur Bali dan Jawa. Di mana telur Bali memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan telur lokal.

Selain itu, produksi di Jawa dan Bali juga melimpah sementara penjualannya juga anjlok disebabkan hotel dan restoran yang biasa membeli telur di daerah tersebut banyak yang tutup dan tidak operasional terdampak pandemi Covid-19. Banjirnya produksi di Jawa dan Bali, oleh pengusaha dari daerah tersebut, melemparnya ke NTB dengan harga sangat murah, sehingga merugikan peternak lokal yang ada di NTB.

“Kalau pakan itu pakai yang dibeli terus di campur jagung sama konstrat. Itu saja sudah nambah biaya produksi,” ungkapnya.

Padahal NTB akan membangun pabrik pakan. Hanya saja, peternak ayam petelur justru tidak ada yang mengetahui bahwa pemerintah membangun pabrik pakan. Di mana pabrik pakan ini sebagai antisipasi menekan tingginya harga pakan.

“Tidak tahu ada pabrik pakan, tujuannya buat apa? Baru tau saya ada pabrik pakan di sini, selama ini tidak pernah dengar,” katanya.

Pemerintah daerah diminta segera mengambil tindakan dengan kondisi sekarang ini. Pasalnya, jika terus begini maka peternak akan semakin mengalami kerugian. Terlebih dengan mengurangi pasokan telur dari luar, lantaran masuknya dari luar daerah mematikan usaha peternak lokal. “Penjualan kita anjlok, ayam ada 1.700 ekor dengan produksi 50 terai per hari,” sebutnya.

BACA JUGA :  PPKM Berlanjut, Pengusaha Semakin Terpuruk

Terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB H Khairul Akbar mengatakan dalam waktu dekat ini Satuan Tugas (Satgas) Pangan NTB akan mulai menempatkan petugas di Pelabuhan dan Karantina untuk mengawasi masuknya produk peternakan dari luar NTB, termasuk telur.

“Setiap telur ayam yang masuk ke NTB akan diawasi ketat dan harus mendapatkan rekomendasi dari Gubernur sesuai dengan SE,” kata Khairul Akbar.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Perekebunan (Distanbun) Provinsi NTB Muhmmad Riadi, mengatakan untuk SILO dan corn drayer di STIP dibangun oleh Dinas Pertanian, sebenarnya dari awal sudah di desain dan komplit semuanya di tahun 2020. Hanya saja, karena pandemi Covid-19 banyak recofusing anggaran, salah satunya untuk listrik serta pengadaan genset. Waluapun barang sudah selesai dan sudah diserahterimakan, tetapi belum bisa operasional karena tidak ada listriknya.

“Tapi kita sudah selesai tender, sekarang sedang dikerjakan untuk pemasangan listrik. Ada pengadaan kubikel dan trafo sama jaringan. Mudahan akhir Oktober tahun ini sudah mulai operasional,” harapnya. (dev)