Harga Murah, Tambak Garam Beralih Jadi Tambak Ikan

Tambak Garam
PENJUAL GARAM: Tampak salah satu penjual garam asal Desa Pijot, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur. (JANWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG — Sejumlah tambak garam petani di Desa Pijot, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), kini telah berubah fungsi menjadi tambak ikan. Pasalnya, sejak beberapa bulan yang lalu, harga garam mulai anjlok, sehingga satu-satunya cara untuk bertahan hidup, yakni dengan mengubah tambak garam menjadi tambak ikan.

Itu dilakukan, agar para petani garam tidak hanya bergantung pada produksi garam saja pada saat musim panas. Sementara di musim hujan, petani justeru menganggur. “Meski sekarang sudah musim panas, tetapi kita belum melakukan kegiatan produksi garam. Selain karena masih menunggu panen ikan, juga harga garam sangat murah. Makanya sekarang banyak petani yang merubah tambaknya menjadi kolam ikan,” kata H Mawardi, salah satu petani garam asal Kedome, Kecamatan Keruak, Senin kemarin (13/5).

BACA JUGA: Penjualan Tiket Pesawat Anjlok 50 Persen

Menurutnya, ada dua kemungkinan usaha yang dipilih petani garam di Kecamatan Keruak ini, selama musim hujan, dengan harga garam yang turun. Yaitu melakukan budi daya ikan bandeng dan udang vaname. Namun berdasarkan pengalaman sebelumnya, budi daya bandeng ternyata lebih aman diterapkan dalam jangka pendek.

“Budi daya bandeng butuh waktu 4 sampai 5 bulan, dan setelah panen diprediksi mulai masuk musim kemarau. Sehingga waktunya pas dengan pemanfaatan lahan, sementara petani di musim kemarau kembali memproduksi garam,” katanya.

Budi daya ikan bandeng lebih praktis, dibandingkan budi daya udang vaname, karena petani tidak memerlukan pemberian pakan industri berkala. Karena sistem pakan yang diterapkan selama ini adalah pemberian pakan alami. “Sebenarnya kita sudah ingin membuat garam, tetapi kita masih menunggu ikannya panen dulu,” sebutnya.

BACA JUGA: BI NTB Siapkan Rp 2,87 Triliun Uang Pecahan Kecil

Untuk ikan bandeng ini sambungnya, selain lebih praktis dalam pemeliharaan yang hanya membutuhkan pakan alami berupa plankton di dalam tambak sebelum benih ditebar. Ketika benih ditebar hingga panen, lanjut dia, para petambak ikan tidak perlu memberi pakan tambahan lagi untuk ikan bandeng, dengan setiap hektar tambak bisa ditebar antara 5.000 hingga 10.000 benih.

“Harga jual bandeng juga cukup bagus, di kisaran Rp15 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram, sesuai dengan ukuran. Tapi untuk meningkatkan hasil, bukan hanya untuk dijual saja, tetapi akan dipancing oleh masyarakat dengan uang karcis sebesar Rp 100 ribu per hari,” ujarnya.

Senada, Amaq Rus, petani garam yang juga merubah tambak garamnya menjadi tambak ikan, mengaku kini pada musim hujan dia tidak menganggur lagi. Bahkan produksi ikan bandeng di tambaknya bisa memberikan hasil yang cukup banyak. “Kalau melihat hasil, sebenarnya sama saja. Tetapi kalau kita menjual ikan dengan cara dipancing, maka kita lebih untung, dan Insya Allah ini akan panen setelah lebaran,” paparnya.

Harga garam katanya, saat ini memang tergolong murah. Dimana harga satu plastik garam dibeli dengan harga Rp 5 ribu saja. Sementara harga garam per karung hanya sekitar Rp 110 ribu hingga Rp 115 ribu saja. Tidak seperti tahun lalu yang tembus mencapai Rp 180 ribu, bahkan Rp 200 ribu per karung. “Makanya kita bingung, pada saat petani panen banyak, harga garam lebih murah. Giliran tidak ada garam, harganya mulai tinggi,” keluhnya. (wan)