Harga Jagung Anjlok, Dewan Pertanyakan Realisasi Pabrik Pakan

Lalu Satriawandi (DOK/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Anjloknya harga jagung di tingkat petani membuat kalangan Anggota DPRD NTB mempertanyakan realisasi industrialisasi pakan yang selama ini digembargemborkan oleh Gubernur NTB Zulkieflimansyah. Pasalnya, industri pabrik pakan yang katanya akan menyerap jagung petani itu, tak kunjung terealisasi.

Ketua Komisi II DPRD NTB (Pertanian) Lalu Satriawandi mengatakan, semestinya industrialisasi pakan bisa jadi salah satu solusi untuk menyerap hasil panen jagung di tingkat petani.

Namun selama ini, industrialisasi pakan itu hanya jadi jualan kampanye Zul-Rohmi. Karena faktanya, industrialisasi pakan tidak ada, hasil panen jagung di tingkat petani tidak terserap, sehingga harganya juga rendah, berkisar Rp 4.000-an per kg.

Seharusnya kata Politisi Golkar ini, Zul-Rohmi mampu merealisasikan industri pakan ternak selama empat tahun kepemimpinan. Jangan-jangan sampai habis masa jabatan September 2023, tetap tak terealisasi. “Jadi jangan sampai tetap jadi wacana tanpa ada realisasi,” tegas Sekretaris DPD I Golkar NTB ini di DPRD NTB, Senin (17/5).

Lebih lanjut, pihaknya meminta kepada pemprov khususnya Dinas Pertanian agar melakukan langkah inovatif dan kreatif dalam membantu petani jagung, agar hasil panen bisa terserap di pasar. Salah satunya opsi ekspor. “Prinsipnya, bagaimana menolong para petani agar hasil panen jagung bisa terserap di pasar,” lugasnya.

Diketahui, petani jagung mengeluh lantaran harga jual jagung mulai turun. Jika pada awal panen harga jual di tingkat petani mencapai Rp 4.950 per kg, kini turun menjadi Rp 4.450 per kg, bahkan nyaris Rp 4.300 ribu per kg.

BACA JUGA :  Kapolda NTB Dijabat Brigjen Djoko Poerwanto, Ini Profilnya

“Saat ini harga jagung di beberapa gudang di Pulau Sumbawa turun, lebih khusus di Kabupaten Bima dan Kota Bima. Padahal sebelumnya harga jagung bisa Rp 4.450 ribu hingga Rp 4.950 ribu per kg,” tutur petani asal Kabupaten Bima Herman Abdara, Rabu (11/5).

Meski belum diketahui secara pasti apa penyebab harga jual jagung mengalami penurunan dibanding awal musim panen Maret kemarin, petani berharap pemerintah hadir memberikan solusi strategis guna mengatasi masalah harga jagung tersebut. Karena jika dibiarkan berlangsung tanpa ada solusi, dikhawatirkan harga jagung malah anjlok, seperti tahun-tahun lalu.

Sebelumnya, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk stabilisasi harga jagung Rp 3.200 per kg kering pipil. Namun seiring tingginya permintaan ekspor ke Vietnam dan beberapa negara lainnya, harga jagung sempat melonjak naik di angka Rp 5.400 per kg.

Petani lainnya Ahmad Yani menyebut pada Januari-Maret 2022, harga jagung relatif stabil yakni Rp 5.000 ribu per kg. Kini harga jagung mulai turun menuju normal Rp 4.300 per kg. “Saat panen raya memang harganya masih sesuai standar Rp 5.000 per kg. Sekarang turunnya sudah sampai Rp 700 per kg atau kisaran Rp 4.300 per kg,” sebutnya.

BACA JUGA :  Pemprov NTB Dinilai Lalai Atasi Kelangkaan Minyak Goreng

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB Muhammad Riadi mengatakan, pihaknya sudah mengintruksikan para petugas informasi pasar di Dinas Pertanian yang berada di kabupaten masing-masing untuk tetap melakukan pemantauan harga jagung, baik di tingkat petani, distributor hingga konsumen.

Kendati demikian, sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020, telah ditetapkan harga acuan pembelian di tingkat petani sebesar Rp 3.150 per kg yang memiliki kadar air 15 persen.

Menurutnya sepanjang harga jagung di atas Rp 4 ribu atau di atas harga acuan yang ditetapkan pemerintah, petani masih untung. “Dengan demikian harga jagung yang ada sekarang masih di atas harga acuan yang ditetapkan pemerintah,” jelasnya.

Riadi menyebut sepanjang April 2022, Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB mencatat jumlah produksi jagung NTB sebesar 524.118 ton. Di mana produksi jagung tertinggi berasal dari Kabupaten Dompu 154.045 ton, Kabupaten Sumbawa 153.438 ton, Kabupaten Bima 114.084 ton dan Kota Bima sebesar 21.077 ton. Terakhir Kabupaten Sumbawa Barat hanya sekitar 14.053 ton.

Di Pulau Lombok produksi jagung tertinggi di Kabupaten Lombok Timur 29.636 ton, Kabupaten Lombok Tengah 14.157 ton dan Kabupaten Lombok Utara 18.298 ton, Kabupaten Lombok Barat 5.322 ton dan Kota Mataram tidak berproduksi sama sekali. (yan/cr-rat)