Harga Garam Mulai Naik

NAIK: Harga garam lokal di pasaran mulai merangkak naik. Nampak petani garam di Lombok Timur tengah panen (Janwari Irwan/Radar Lombok)

MATARAM – Harga garam di tingkat pasaran  kini  merangkak naik.

Di bulan Juli ini harga garam cukup menguntugkan petani dengan harga jual Rp 725 ribu/karung yang berisi 60 kg. Harga garam halus mengalami kenaikan pascalebaran, dari harga Rp 275.000/karung besar berisi 60 kg naik menjadi Rp 725 ribu/ karung. Dimana harga eceran Rp 11.000/kg itupun untuk langganan.

Gandhi, salah satu pedagang garam di Pasar Mandalika menerangkan bahwa harga garam kasar dijual Rp 6.000/kg naik dari harga sebelumnya Rp 4.000/kg. Sedangkan per karung (1 karung sekitar 50 Kg) dijual dengan harga Rp 230.000. Saat ini Gandhi mengaku tidak menjual garam halus karena tidak mendapatkan pasokan dari petani maupun pengepul dari Keruak Kabupaten Lotim.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB, H Lalu Hamdi mengatakan, kenaikan harga di saat tidak musim panen garam menjadi hal biasa. Karena produksi yang kurang, karena bergantung dengan kondisi cuaca, maka sangat wajar harga garam sekarang ini mulai naik.

“Yang patut dibanggakan sekarang itu, kenaikan harga garam dinikmati langsung oleh petani. Karena sekarang sudah ada gudang penyimpanan garam bantuan dari pemerintah, sebagai tempat menyimpan garam ketika produksi melimpah,’ kata Lalu Hamdi, Selasa kemarin (18/7).

Hamdi mengatakan, pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI bersama Pemprov NTB pada tahun 2016 dan tahun 2017 ini telah membangun gudang penyimpanan garam pascapanen.  Gudang penyimpanan  garam dibangun di enam kabupaten, yakni  Kabupaten Bima dengan kapasitas 4 ribu ton, Sumbawa kapasitas gudang 50 ton, Lombok Timur kapasitas gudang 50 ton, Kabupaten Lombok Tengah dengan gudang kapasitas 50 ton dan Lombok Barat kapasitas gudang 50 ton.

Garam produksi petani ketika panen melimpah disimpan di gudang tersebut. Ketika produksi mulai menurun, karena kondisi cuaca, maka petani melalui koperasi petani garam mulai menjual garam tersebut dengan harga yang lebih layak dan bernilai ekonomi bagus bagi petani garam.  Seperti diketahui, harga garam disaat musim produksi melimpah, hanya Rp 200/kg. Harga tersebut terlalu murah tidak sebanding dengan biaya serta tenaga kerja yang harus dikeluarkan oleh petani garam.

Hamdi mengatakan, saat ini potensi budidaya produksi garam di Provinsi NTB mencapai 9 ribu hektar, namun baru bisa dimanfaatkan 2 ribu  hektar yang tersebar di 6 kabupaten di Provinsi NTB.  “Tahun 2017 ini kami targetkan produksi garam bisa tembus176 ribu ton. Tentunya harga jual petani juga lebih baik dari sebelumnya,” ucap Hamdi.

Petani diharapkan menerapkan teknologi Gio Islafator. Namun kendalanya, luas areal produk garam yang dimiliki oleh petani rakyat itu masih kurang dari 10 hektar. Bahkan rata-rata para petani garam ini memiliki lahan budidaya garam antara 1 hektar hingga 5 hektar. Sementara kapasitas untuk mesin teknologi Gio Islafator tersebut minimal luas areal lahan budidaya garam 10 hektar hingga 15 hektar. Oleh karena, tantangan yang ada di lapangan adalah membuatkan kelompok para petani dalam satu organisasi, sehingga luas areal lahan minimal 10 hektar hingga 15 hektar itu bisa terpenuhi. “Penerapan teknologi belum bisa sempurna, karena harus integrasi lahan. Sekarang lahan hanya dibawah 1 hektar,” kata Lalu Hamdi.

Dikatakannya, pemanfaatan teknologi Gio Islafator tersebut sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas serta mendongkrak produtivitas garam. Jika selama ini produktivitas garam dalam luas areal 1 hektar bisa mencapai 70 ton, maka dengan sentuhan teknologi tersebut akan bisa mencapai produktivitas 100 ton per hektarnya.  Selain peningkatan produktivitas, dengan sentuhan teknologi juga meningkatkan kualitas sera mutu garam. Sehingga garam NTB bisa bersaing di pasar luar daerah dan ekspor. “Kita inginkan garam produksi NTB itu bisa bersaing di pasar luar daerah dan tentunya dengan harga yang lebih baik dari sekarang ini yang masih murah,” jelas Hamdi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Hj Putu Selly Andayani mengakui jika harga garam lokal mengalami kenaikan di pasaran. Kendati demikian kenaikan harga itu masih dalam batas kewajaran dan menguntungkan petani garam, yang selama ini harga jualnya cukup murah disaat produksi melimpah.

Mengenai sudah adanya kran impor garam oleh pemerintah pusat, Selly memastikan sampai sekarang ini belum ada garam impor masuk ke Provinsi NTB. Menurut Selly, sebaiknya garam impor jangan sampai masuk ke Provinsi NTB. Karena NTB merupakan daerah produksi garam nasional yang juga menyuplai untuk kebutuhan industri di sejumlah daerah di Indonesia.

“Untuk impor tidak masuk ke NTB, karena tidak ada industri skala besar yang konsumsi garam dalam jumlah besar. Justru garam NTB yang menyuplai kebutuhan industri di Pulau Jawa,” jelasnya.  (luk)

BACA JUGA :  Pengangguran di NTB Turun, Kemiskinan Masih Tinggi ?
Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Berita sebelumyaSekolah 5 Hari Belum Bisa Diterapkan
Berita berikutnyaPilkada Lobar akan Habiskan Rp 30,3 Miliar