Harga Daging Sapi Tinggi, BI Sarankan Kurangi Konsumsi

MATARAM—Minggu pertama bulan puasa, beberapa harga bahan pokok mulai mengalami kenaikan. Termasuk harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional di NTB juga tergolong cukup tinggi, tembus Rp 120/kg. Sementara keinginan Pemerintah agar harga daging turun sebesar Rp 80/kg, masih terus diupayakan agar bisa terwujud. Karena itu, Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan NTB, Prijono menghimbau masyarakat kurangi konsumsi berlebihan.

Dikatakan, terjadinya kenaikan harga tersebut disebabkan permintaan yang meningkat. Malah momen saat ini, banyak masyarakat membuat acara atau kegiatan seperti rowah (selamatan, red). “Harga daging sapi masih Rp 120 ribu/kg. Keinginan agar harga mencapai Rp 80 ribu/kg terus diupayakan," ungkapnya kemarin (7/6).

Selain itu menurutnya, beberapa harga komoditas lain yang masih tinggi seperti gula putih dengan harga Rp 16 ribu/kg, dimana harga sebelumnya sebesar Rp 13 ribu. Sementara bawang putih, naik menjadi Rp 35 ribu, dan bawang merah sebanyak Rp 35 ribu.

BACA JUGA :  Pasar Tradisonal Dilengkapi Informasi Harga Sembako

Ia menuturkan, kenaikan harga di bulan Ramadan menjadi momen yang biasa. Sebab, permintaan dari masyarakat terhadap komoditas tinggi. Namun, yang mesti dipahami masyarakat adalah stok barang masih banyak. “Kecukupan stok barang masih banyak, masyarakat jangan sampai panik dan tetap membatasi," ungkapnya.

Prijono mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi di Ramadan, atau bisa dikurangi. Sehingga saat permintaan berkurang maka harga diharapkan kembali stabil.

Disatu sisi, Wakil Gubernur NTB, H Muhammad Amin akan terus menekan supaya harga bahan pokok bisa dijangkau masyarakat. Sehingga meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk mengantisipasi harga komoditas di bulan Ramadan yang selalu naik.

BACA JUGA :  Harga Sewa Mahal, Ruko Pasar Sakra Kosong

Bahkan, dirinya mengintruksikan agar dilakukan operasi pasar berkelanjutan. “Saya sudah berkoordinasi dengan dinas terkait, agar melakukan operasi pasar di bulan Ramadan, sehingga harga bisa dikendalikan," katanya.

Menurutnya, dinas terkait harus memantau harga-harga komoditas yang naik. Sebab, jika tidak terkendali bisa menyebabkan konsumen merugi. Selain itu yang perlu diawasi mengenai rantai distribusi komoditas bahan pokok. “Pemantauan terhadap harga komoditas, rantai distribusi komoditas dan menyangkut kelangkaan harus terus diawasi," ungkapnya.

Dirinya menegaskan agar dinas terkait terus melakukan pengawasan, sehingga konsumen tidak merasa kesulitan memperoleh komoditas bahan pokok, dan bisa terjangkau. Sekaligus untuk menjaga inflasi. (zwr)