Harga Cabai Sudah Tembus Rp 100 Ribu /Kg

Masyarakat Sabar Dulu Ya..!

CABAI-MAHAL
HARGA MAHAL : Salah seorang penjual cabai rawit di pasar Pagesangan, Kota Mataram. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM Harga cabai rawit semakin panas, bahkan sudah tembus Rp 100 ribu per kilogram. Harga tersebut naik 100 persen, dari sebelumnya di harga Rp 50 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabai tersebut ternyata belum mampu ditangani oleh pemerintah daerah dengan berbagai alasan.

Semakin mahalnya harga cabai rawit ini terjadi, karena beberapa hal. Salah satunya, stok terbatas, hingga gagal panen dialami para petani lokal akibat kekeringan.

”Harganya bikin geleng-geleng kepala. Tapi makanan tidak enak kalau tidak pakai sambel. Mau tidak mau, kita harus beli,” ujar salah seorang pembeli Nikmah di Pasar Induk Mandalika, Bertais, Senin kemarin (29/7).

BACA JUGA: PUPR Cabut Rumah Subsidi Tidak Tepat Sasaran

Menurutnya, harga cabai rawit per hari ini cukup membuat sejumlah pembeli kelabakan. Sebab, harga cabai rawit per hari ini mendadak meningkat secara signifikan. Bahkan, tinggi harganya membuat gigit jari masyarakat.

”Naiknya bisa Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram, tadi pagi,” ungkapnya.

Tingginya harga cabai rawit ini tidak hanya pembeli saja, tetapi dirasakan oleh sejumlah penjual makanan pedas. Pasalnya mereka menggunakan cabai rawit dalam jumlah banyak.

”Saya jualan ayam geprek, itu biasa beli cabai rawit sampai 2 kg. Tapi kalau harganya sudah naik begini terpaksa tidak jualan dulu,” Marisa, salah seorang penjual ayam geprek yang ada di Karang Genteng.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB Hj Putu Selly Andayani meminta masyarakat untuk bersabar menghadapi kenaikan tinggi dari cabai rawit. Pasalnya, permasalahan harga cabai yang tinggi ini akan masih terus berlanjut hingga pekan ketiga Agustus.

BACA JUGA: Mitsubishi Luncurkan Tiga Kendaraan Terbarunya di GIIAS 2019

”Sekarang masih masa tanam, kita tunggu dulu di pekan ketiga Agustus baru panen,” katanya.

Menurut Selly, pihaknya tidak bisa berbuat banyak terkait tingginya harga cabai rawit tersebut. Bahkan untuk mendatangkan stok cabai rawit pun tidak dapat dilakukan, mengingat masalah ini terjadi hampir di seluruh daerah. Jika memasukan cabai rawit dari luar daerah, tentu harganya akan semakin lebih tinggi lagi.

”Kita tunggu saja sampai panen. Tapi kami tetap upayakan ada pasar murah untuk menekan tingginya harga cabai,” imbuhnya.

Di tempat terpisah, Staf Ahli Bidang Perdagangan Jasa Kementerian Perdagangan (Kemendag) Lasminingsih mengatakan, naiknya harga cabai rawit di NTB merupakan fenomena nasional.

BACA JUGA: Dewan Nilai Kebijakan Ekonomi Gubernur NTB Tak Jelas

”Kondisi ini juga terjadi di beberapa daerah lainnya, harganya tinggi karena stok yang menipis,” ujarnya.

Meskipun tergolong naik cukup signifikan, yakni Rp 100 ribu per kilogram. Lasminingsih menilai, tarif cabai rawit di NTB tidak semahal yang terjadi di beberapa daerah lainnya.

”Untungnya saja, di NTB ada sentra cabai. Jadi harganya tidak setinggi daerah lainnya,” ujarnya. (cr-dev)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid