Harga Cabai Makin Pedas

HARGA CABAI: Tingginya harga cabai di pasaran, lebih disebabkan karena kurangnya pasokan akibat iklim yang tidak bagus, sehingga produksi cabai pun menurun drastis.

MATARAM–Harga cabai dipasaran NTB tampaknya kian pedas saja, bahkan menembus hingga angka Rp 101 ribu per kilogram. Namun begitu, Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi tidak terlalu mempersoalkannya. Bagi gubernur, harga cabai  yang naik turun sudah hal biasa. Mengingat sudah terjadi setiap tahun.

Apalagi dengan cuaca saat ini yang membuat produksi capai menurun. “Gak apa-apa harga naik, itu sudah biasa. Yang penting tetap bisa dijangkau oleh masyarakat,” ujarnya usai shalat Jum’at di Islamic Center, Jumat kemarin (6/1).

Gubernur justru lebih memperhatikan nasib petani saat ini. Meskipun harga melambung tinggi, bukan berarti untung besar. Apalagi tanaman cabai petani banyak Yang rusak. “Kalau harga turun, kasian petaninya. Gak apa-apa dah harga naik sudah biasa,” ucapnya.

Meskipun begitu, pemerintah provinsi NTB terus bekerja dan mengupayakan harga cabai tetap terjangkau. Namun, kepada seluruh masyarakat, orang nomor satu di NTB ini menyarankan agar mulai berpikir untuk menanam cabai sendiri untuk kebutuhan sehari-hari.

[postingan number=3 tag=”cabai”]

Dikatakan, salah satu cara mengantisipasi harga cabai meroket di apsaran, tentunya dengan menam cabai di rumah masing-masing. Untuk bisa memenuhi kebutuhan pribadi, tentunya tidak perlu membeli banyak cabai. Berbeda halnya dengan perusahaan-perusahaan yang memang membutuhkan cabai dalam jumlah yang banyak.

Kepala Kantor Bank Indonesia (BI) Wilayah NTB, Prijono mengakui jika saat ini harga cabai melambung tinggi. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap inflasi di daerah. “Ini karena cuaca yang tidak baik, sehingga cabai berkurang. Ketika pasokan berkurang ya harganya naik,” jawabnya.

Prijono menilai, setiap tahun harga barang yang naik selalu itu-itu saja. Begitu juga dengan tahun ini yang mengalami kenaikan harga seperti cabai, bawang, tomat beras dan lain sebagainya. Penyebab utama hanya karena ketersediaan apsokan yang memang sedang ebrkurang.

Kondisi ini tidak hanya dialami oleh Provinsi NTB. Pasokan cabai yang berkurang saat ini juga terjadi di daerah-daerah lain. “Kita memang daerah produksi cabai, tapi saat ini kan jarang cabai ada. Makanya mahal harganya,” terang Prijono.

Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB, H Rosiady Sayuti saat dimintai tanggapannya mengaku telah mendapat informasi terkait kenaikan harga cabai. Rosiady yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) akan melakukan upaya semampunya dalam menekan kenaikan harga. Beberapa hal penting yang menjadi perhatiannya yaitu masa penanaman dan off season. “Kita akan evaluasi itu, musim tanam cabai di pekarangan juga perlu dievaluasi,” katanya.

Salah seorang pengusaha cabai asal Lombok Timur, Zainul Ahsin menyampaikan, dirinya membeli cabai langsung ke petani dengan harga kisaran Rp 70 ribu per kilogram. Selisih harga yang jauh berbeda antara di petani dengan di pasar, menurutnya bukan berarti pengusaha mencari untung banyak.

Dijelaskan, khusus untuk dirinya apabila cabai dalam jumlah yang banyak, akan dijual ke pengusaha lokal yang lebih besar dengan harga tidak jauh berbeda. “Pengusaha besar ini kan biasanya kirim ke Jawa, kala mereka beli kita dengan harga Rp 75 ribu per kilogram, berarti kami beli ke petani dengan harga Rp 73-74 ribu per kilo. Kalau yang di pasaran saya kurang tahu darimana distribusinya,” singkatnya. (zwr)