Harga Cabai Anjlok, Belum Ada Solusi Membantu Petani

Prihatin Haryono (DEVI HANDAYANI / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Anjloknya harga cabai menyebabkan kerugian bagi petani. Harga cabai turun drastis ini kerap kali terjadi setiap tahunnya, ketika produksi melimpah dan pemerintah tidak bisa hadir memberikan solusi dan membantu petani cabai. Sementara pengadaan mesin CAS belum bisa dilakukan dan petani pun enggan mengeringkan cabai, karena menambah biaya.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Prihatin Haryono mengatakan untuk pengiriman cabai keluar daerah belum bisa. Karena produk-produk holtikultura ini cepat rusak, salah penangangan cepat ketika itu terjadi bagaimana menyelamatkan produk ini.

Mulai mencoba dengan sistem CAS, kemudian melakukan upaya pengeringan produk sehingga memperpanjang daya simpan, jika terjadi kekurangan suplay itu bisa dikeluarkan.

BACA JUGA :  Rp 44 Miliar untuk Kelompok Ternak Ayam Petelur

“Sebenernya salah satu alternatif memang butuh biaya lain, harus ada untuk pengeringan. Kami sebenarnya punya peluang dengan pasar lelang,” kataPrihatin Haryono, Kamis (26/8).

Hanya saja, cabai ini cepat rusak untuk bisa ikut di pasar lelang. Sementara

pelaku usaha untuk cabai belum ada mengikuti pasar lelang. Sedangkan untuk pengadaan CAS sampai saat ini belum ada kelanjutannya. Padahal sangat membantu dengan adanya sistem CAS tersebut.

Harga cabai ditingkat petani saat ini mencapai Rp 10 ribu /kg. Sementara di pasar harganya Rp 12 ribu /kg. Apalagi dalam keadaan cuaca saat ini kemungkinan harga cabai akan terus menurun. Hal tersebut memang sudah menjadi hukum pasar, terlebih dalam kondisi harga cabai mahal para petani latah menanam cabai semuanya. Sementara di permintaan tidak banyak.“Selama produk kita masih banyak belum pastikan berapa lama harganya turun. Mudah-mudahan dari pertanian cepat mengintervensi perlakukan cabai ini,” katanya.

BACA JUGA :  Petani Tembakau Menolak Tanam Komoditi Lain

Terpisah, Kepala Pasar Induk Mandalika H Ismail mengatakan, tidak semua komoditi harganya turun, tetapi hanay cabai rawit saja. Untuk harga di pedagang tergantung harga di petani. Jika sudah turun, maka harga jual di pedagang ikut turun.

“Kalau untuk cabai tetap laku, banyak juga pembeliannya, banyak juga pembeli yang mengeringkannya di rumah untuk mengantisipasi kalau harga cabai naik,” ujarnya. (dev)