Harga Anjlok, Petani Diminta Tidak Menjual Gabah

PANEN: Para petani yang sedang panen padi di wilayah Kecamatan Praya, Kamis (10/3). (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYA – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Lombok Tengah meminta kepada para petani untuk tidak terburu-buru menjual gabah mereka. Pasalnya memang saat ini memasuki musim panen, ternyata harga gabah menjadi anjlok. Petani diminta untuk sementara menyimpan gabah tersebut sembari menunggu harga gabah stabil.

Sekertaris Distanak Lombok Tengah, Fathurrahman menegaskan, pihak dinas masih intens turun ke lapangan untuk memantau harga gabah petani. Harga gabah kisaran Rp 400.000 per kuintal. Padahal jika tidak pada musim panen, harga bisa sampai Rp 500.000 per kuintal bahkan bisa lebih besar tergantung dari kualitas gabah tersebut. “Dari pantauan kita, rata-rata harga gabah ini Rp 400.000 per kuintal. Harga gabah biasanya bervariasi dan kalau musim panen biasanya anjlok. Tapi tidak ada di bawah harga Rp 400.000, dan harga itu tergantung kualitas,” ungkap Fathurrahman.

Meski harga mengalami penurunan, tapi dianggap tidak terlalu signifikan. Bahkan harga gabah di Lombok Tengah dianggap masih jauh lebih baik dari yang lainnya. Mengingat kualitas gabah petani juga dianggap bagus. “Jadi karena sekarang stok banyak dan permintaan sedikit, maka harganya menjadi turun. Tapi kalau tidak musim panen bisa sampai Rp 500.000 hingga Rp 600.000,” tegasnya.

Disampaikan juga, perkiraan untuk panen saat inii baru 40 persen dari luas tanam sekitar 50.000 hektare. Di mana rata-rata satu hektar ebisa menghasilkan 5 ton gabah dengan hasil yang lumayan bagus. Di satu sisi, minat warga dalam menanam padi juga sampai dengan saat ini terbilang masih sangat tinggi. “Padi ini banyak ditanam petani mengingat padi ini komoditas strategis karena menyangkut tataniaga,” terangnya.

KHanya saja agar para petani tidak merugi dengan kondisi harga gabah yang anjlok, pihaknya meminta kepada para petani untuk tidak menjual dulu gabah mereka. Artinya para petani bisa menyimpan gabahnya dulu dan baru dijual nantinya jika harga gabah sudah membaik. Di satu sisi, para petani juga diharapkan agar jangan mudah tergiur dengan tawaran dari tengkulak. “Kita berharap petani bisa menahan dulu barangnya dan jangan tergoda dengan tawaran dari tengkulak. Karena tengkulak langsung menawarkann harga di tingkat petani dan memang harga Rp 400.000 sebenarnya masih masuk akal dan petani tidak repot, tapi sebenarnya kalau menunggu maka petani bisa mendapat harga lebih baik,” terangnya. (met)