Harapan Baru Penderita Mata Katarak Penerima Operasi Gratis

Provinsi Nusa Tenggara Barat termasuk daerah dengan penderita katarak cukup tinggi. Penderitanya dominan tersebar di desa-desa. 

 


LUKMAN HAKIM – LOMBOK TIMUR


 

 

Sebanyak 61  orang warga yang rata-rata berusia diatas 50 tahun di Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, terlihat antri menunggu giliran untuk diperiksa kesehatan matanya. Mereka adalah penderita penyakit katarak. Sebanyak 61 orang yang rata-rata berasal dari keluarga kurang mampu alias miskin di beberapa kecamatan di Lombok Timur  ini mendapatkan bantuan secara gratis untuk mengikuti pengobatan berupa operasi penyakit mata katarak.

Dari 61 orang penderita penyakit mata katarak yang dioperasi tersebut mengalami kebutaan yang berbeda-beda. Ada yang mata sebelah kanan dan ada juga yang matanya sebelah kiri tidak bisa melihat secara total. Mereka terpaksa harus membiarkan mata mereka tertutup sebelah , karena tidak bisa melihat disebabkan keterbatasan ekonomi yang tak mampu mereka gunakan untuk membayar biaya operasi cukup mahal, kisarannnya diangka Rp 5 juta per orang.

Ketika mendapatkan program operasi gratis yang didanai dari Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Provinsi NTB yang merupakan organsiasi perkumpulan lembaga perbankan yang berkantor di NTB dikomandoi oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB ini membawa harapan baru dan angin segar bagi warga penderita penyakit mata katarak tersebut.

Sebagaimana diungkapkan, Inaq Sumarni,65 tahun warga  Dasan Benyer Daya, Desa Telagawaru, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. Lebih dari satu tahun lamanya mata sebelah kanan tak bisa melihat, gelap gulita dengan tatapa kosong. Dengan hanya mengandalkan mata sebelah kiri untuk melihat yang kondisinya juga melihat tidak begitu terang berpengaruh besar terhadap aktifitasnya sehari-hari sebagai buruh yang mendapatkan upah dari bekerja sebagai tukang membuat sapu berbahan baku serabut buah kelapa.

Kondisi suaminya yang tak jauh berbeda dengan Inaq Sumarni, karena faktor usia dan hanya bekerja sebagai buruh membuat sapu dari serabut buah kelapa dengan pendapatan yang pas-pasan, membuat Inaq Sumarni mengurungkan niatnya untuk menjalani operasi secara mandiri. Butuh biaya sedikitnya Rp 5 juta, tak bisa dipenuhi Inaq Sumarni, sehingga membiarkan kondisi mata kataraknya tidak terobati bertahun lamanya.

Hal serupa juga dialami Amaq Juhdi, 67 tahun asal Dasan Tapen, Desa Telagawaru, Kecamatan Peringgabaya, karena keterbatasan ekonomi sehingga kakek ini membiarkan matanya sebelah kanan tidak bisa melihat beberapa tahun lamanya.

Operasi gratis membawa angin segar dan harapan baru bagi Amaq Juhdi, Inaq Sumarni dan puluhan orang tua kurang mampu yang menderita penyakit mata katarak tersebut untuk kembali bisa normal melihat alam dan seisinya. “Saya berharap, kalau sudah sembuh bisa melihat normal, lagi akan kembali bekerja mencari nafkah untuk keluarga,” tutur Amaq Juhdi.

Perasaan gembira dan penuh dengan harapan kembali normal bisa melihat dan melaksanakan aktifitas secara normal lagi, menjadi harapan baru bagi 61 orang dengan penyakit mata katarak tersebut.

Kepala Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Handomi Hasan mengaku sangat bersyukur dengan adanya bantuan dari para donator seperti yang diberikan organisasi lembaga perbankan yang ada di NTB yang diwadai dalam organisasi BMPD NTB. Pasalnya, sebagian besar penderita penyakti katarak ini adalah berasal dari keluarga kurang mampu alias miskin. Ironisnya lagi, sebagian keluarg kurang mampu yang usia diatas 50 tahun ini tidak memiliki kartu Jamkesmas yang sekarang dinamakan BPJS Kesehatan bagi keluarga miskin.

 “Alhamdulillah orang tua kita yang kurang mampu dan tidak memiliki kartu BPJS kesejatan ini bisa mendapatkan bantuan operasi mata katarak,” ungkap dr Handomi.

Yang tak kalah membuat dr Handomi terharu ketika dari hasil screaning yang positif dan harus segera mendapatkan tindakan operasi ada sebanyak 89 orang. Sebanyak 89 orang, tidak semuanya bisa terlayani untuk mendapatkan pengobatan gratis, karena keterbatasan dana, dimana BMPD hanya menyiapkan anggaran untuk 51 orang.

Namun, yang datang untuk antri disaat pelaksanan operasi dan berjejer di ruang tunggu, membuat dr Handomi kebingungan. Hal tersebut langsung dikomunikasikan ketika rombongan BMPD NTB datang ke Puskesmas Aikmel yang dipimpin langsung Kepala BI Perwakilan NTB yang juga sebagai Ketua BMPD NTB, Prijono didampingi Kepala OJK NTB, Yusri dan pimpinan industri perbankan lainnya.

Setelah mendapatkan laporan dan melihat langsuang kondisi riil warga yang antri untuk mendapatkan pengobatan berupa operasi mata katarak, wajah-wajah yang sudah berkerut, karena faktor usia di kursi antrian, membuat Ketua BMPD NTB, Prijono akhirnya memutuskan untuk menambah jadi 10 orang, sehingga kuotanya menjadi 61 orang untuk di operasi  atau seluruh penderita mata katarak yang datang antri di Puskesmas Aikmel.

Mendapat kepastian kesanggupan BMPD NTB, dr Handomi terlihat sumringah dan langsung mendekati sejumlah penderita mata katarak untuk bersiap-siap menunggu giliran masuk ke ruang operasi. “Kami berharap orang kurang mampu yang menderita penyakit mata katarak ini masih ada donator yang siap membiayai operasi mereka. Karena di NTB ini sangat tinggi penderita mata katarak,” harapnya.(*)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid