Halal Bihalal, Aktivis Mataram Berkomitmen Jaga Keragaman dan Kedamaian NTB

SILATURAHIM: Pojok NTB, sebuah komunitas jejaring komunikasi WhatApps Group (WAG) terkeren di Nusa Tenggara Barat, menggelar silaturahmi anggota, Jumat sore (21/5). (ist for radarlombok.co.id)

MATARAM–Manajemen Pojok NTB, sebuah komunitas jejaring komunikasi WhatApps Group (WAG) terkeren di Nusa Tenggara Barat, menggelar silaturahmi anggota, Jumat sore (21/5) di Mataram.

Mengambil lokasi di Cafe MeeKow, tongkrongan anyar nan recommended di kawasan jalan Lingkar Selatan, pertemuan offline bertema “Eratkan Persatuan di Masa Pandemi”, itu dihadiri lebih dari 70 anggota Pojok NTB yang terdiri dari beragam potensi.

Direktur Lombok Global Institute (Logis) yang juga inisiator WAG Pojok NTB, M Fihiruddin menyampaikan kesyukurannya bisa menggelar silaturahmi yang dihajadkan sebagai momentum saling maaf memaafkan dalam suasana Idul Fitri 1442 H.

“Pertama karena ini masih dalam suasana Idul Fitri, sehingga kita bisa bertemu dan bersilaturahim sambil bermaaf-maafan. Tetapi yang terpenting ini menjadi wadah untuk semakin mempererat persatuan dan persaudaraan di Pojok NTB,” kata Fihir dalam sambutan pembukanya.

Fihir berharap agar semangat mempererat persatuan dan kesatuan juga disuarakan oleh anggota Pojok NTB, demi keamanan dan kenyaman daerah ini ke depan.

“Kita berharap agar anggota grup Pojok NTB tetap mengutamakan dan mendorong stabilitas keamanan. Agar NTB tetap aman dan nyaman. Segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah pidana atau pun perdata selesaikan dengan lewat jalur hukum, jangan main hakim sendiri,” katanya.

Ia mengatakan, konsep silaturahmi digelar dengan sederhana tanpa terkesan hura-hura. Tentunya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan di masa pandemi ini.

Hal ini tak lepas dari rasa empati anggota Pojok NTB kepada masyarakat Palestina saat ini.

“Masyarakat palestina sedang menangis dan grup Pojok tetap membangun solidaritas untuk membantu. Solidaritas untuk kemerdekaan Palestina, harga mati. Tetapi kita juga harus tetap jaga persatuan dan kesatuan bangsa,” tukasnya.

Ia menekankan, agar silaturahmi bisa menjadi perekat persaudaraan anggota grup yang berbeda latar belakang, profesi, dan lainnya.

“Di grup Pojok NTB, anggota juga bisa bebas promosi produk, tapi hanya 5 kali saja. Kalau lebih berbayar,” ujar Fihir berseloroh.

Tokoh Pojok NTB, H Lalu Winengan mengatakan, pihaknya bangga dengan grup Pojok NTB yang anggotanya terdiri dari beragam latar belakang. Mulai dari pejabat pemerintahan, petinggi swasta, BUMD, aktivis, pengusaha, pegiat media, hingga mahasiswa.

Winengan menilai, grup Pojok NTB selam ini mampu menghasilkan isu dan kritikan-kririkan yang konstruktif.

“Satu kebanggaan di Pojok semua masuk dari semua kalangan. Ini menjadi wadah sharing yang bermanfaat bagi anggotanya,” katanya.

Winengan berharap agar WAG Pojok NTB tetap memegang pakem untuk bersama meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kita harap agar isu SARA tidak dibesar-besarkan di Pojok. Karena NTB sangat nyaman dalam keberagaman,” katanya.

Ulama kondang Lombok, TGH Muharrar Abrar menekankan, pentingnya menjaga silaturahmi di masa pandemi ini.

“Syawal artinya kemenangan, artinya menang karena kita bisa berhimpun dalam perbedaan. Berbeda keluarga, latar sosial dan pendidikan dan pekerjaan tetapi bisa kumpul dalam rumah besar bernama Pojok NTB,” katanya.

“Apapun baju dan bendera kita, kalau sudah di pojok berarti satu kesatuan,” sambungnya.

BACA JUGA :  Mohan Undang Kaling dan Pekasih

Menurutnya, apapun dinamika yang terjadi di dalam grup medos adalah sebuah dinamika yang hendaknya disikapi dengan bijaksana. Sehingga, apapun yang terjadi dalam grup harus bisa mencair dalam silaturahmi ini.

“Silaturahmi dan silaturahim harus jadi identitas, apapun perbedaan yang muncul adalah dinamika,” katanya.

Ia menegaskan, silaturahim yang baik adalah menyambung apa yang sudah terputus. Terlebih jika membicarakan tentang bagaimana membangun NTB yang lebih baik, aman dan nyaman ke depan.

“Kita saling menguatkan dan harapannya Pojok NTB jadi lokomotif perubahan, untuk NTB yang lebih baik ke depan,” ujarnya.

Ia mengatakan, dalam kerangka kebersamaan maka anggota grup Pojok NTB tidak boleh ada yang susah sendirian. Karena itulah silaturahim pertemuan perlu terus dilakukan agar para anggota bisa saling mendukung satu sama lain sesuai kapasitas dan kemampuan di bidang masing-masing.

Tokoh NTB, HL Wildan menilai perkembangan grup Pojok NTB semakin hari semakin dinamis.

“Kritikan yang masuk jangan sampai jadi kles atau perpisahan. Tetapi bagaimana kritikan itu menjadi pemicu dan pemacu perbaikan dan pembehanan. Dalam hal apa saja,” katanya

Ia mengaku, dari grup Pojok NTB diketahui ternyata NTB punya banyak tokoh muda, intelektual, akademisi, birokrat, aktivis dan pengusaha. Ini menjadi potensi kekuatan yang besar jika bisa bersinergi dengan baik.

“Peran kritis tetap diperlukan untuk pejabat (pemerintah). Tetapi jangan juga kritisi namun kontra produktif. Saya harap grup Pojok semakin mantap ke depan,” katanya.

Peran Ekonomi di Masa Pandemi

Pengusaha yang juga mantan petinggi ITDC Mandalika, Nyoman Karioka menilai, mempererat persatuan di masa pandemi memiliki konteks yang luas dan strategis.

Menurut Karioka, dampak pandemi bukan saja memengaruhi ekonomi secara global, tetapi juga perekonomian masyarakat di tingkat akar rumput.

Namun, ia menilai, NTB telah mampu menunjukan bisa survive dan bertahan secara ekonomi di masa pandemi ini.

“Pertumbuhan ekonomi NTB, kebetulan saya 2 tahun di Mandalika. Saya pikir Mandalika itu akan jadi trigger (pertumbuhan ekonomi) dan begitu banyak resources negara yang fokus di Mandalika,” katanya.

Menurutnya, moment ini harus ditangkap oleh masyarakat NTB, terutama para anggota grup Pojok NTB sesuai bidang masing-masing.

“Disini harus mulai kita pikirkan, bisa mengambil posisi apa,” katanya.

Direktur RSUD Provinsi NTB, dr H Lalu Herman Mahaputra menekankan, hanya ada dua hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk melawan Covid-19 di masa pandemi ini, selain bersabar.

Yang pertama adalah tetap menegakkan protokol kesehatan, dan kedua adalah mempercepat vaksinasi.

“Soal pandemi harus tetap bersabar. Saat ini hanya dua hal yang bisa dilakukan, protokol kesehatan dan vaksinasi. Itu saja untuk hadapi pandemi,” ujar dokter Jack, sapaan akrabnya.

Jack menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk bersedia divaksin. Sebab sejauh ini masih ada opini berkembang tentang ketidakjelasan vaksin.

Disinilah peran anggota Pojok NTB dan juga media massa diperlukan untuk terus mengedukasi masyarakat.

“Bahwa memang tidak ada pilihan lain, harus vaksin,” katanya.

BACA JUGA :  Perkuat Silaturahmi, Kunjungi Rumah Wali Murid

Secara umum, papar Jack, fase Covid-19 berada dalam fase fluktuatif. Artinya daerah yang peningkatan kasusnya tinggi dan ada yang turun signifikan.

“Kami mendapat mandat untuk mengatur siklus ini, dan ini akan kita upayakan. Yang terpenting masyarakat jangan terlalu takut, tapi waspada karena kita harus tetap hidup dan survive,” tukasnya.

Jack mengungkapkan, NTB memang masih masuk dalam 10 besar daerah dengan angka kematian tinggi. Sehingga ke depan pendataan pasien meninggal akan semakin dibenahi.

“Kita akan kontrol pendataan pasien-pasien yang meninggal dunia. Sesungguhnya yang meninggal ini tidak semuanya (karena) Covid-19. Ini memang tugas berat kita, agar pendataan bisa lebih maksimal, tentu saja agar NTBĀ  keluar dari 10 besar,” katanya.

Ia menyebut, Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Sumbawa masih menjadi penyumbang terbesar angka kematian di NTB. Sehingga ia berharap para kepala daerah di sana juga benar-benar meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di daerahnya.

“Loteng, Lobar dan Sumbawa ini kontributor terbesar. Artinya, Kepala Daerah harus betul-betul peduli dengan pelayanan kesehatan masyarakatnya.

Ketua IWAPI NTB, Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi mengatakan, awal pandemi semua pengusaha memang terpuruk. Namun belakangan sektor UMKM justru bisa meninjukan kreativitas dan inovasinya menghadapi tantangan.

“Pandemi dua tahun wanita pengusaha dan UMKM terpuruk. Tapi tidak membuat kita diam tanpa berbuat. Saat ini 90 persen beralih ke kuliner rumahan yang dijual melalui medsos,” katanya.

Baiq Diyah mengatakan, IWAPI NTB saat ini terus melakukan pelatihan kepada UMKM terkait pemasaran digital.

“Kami latih UMKM ini soal IT untuk medsos. Dan program ini sudah cukup berhasil, ada banyak UMKM kita yang bisa survive di masa pandemi ini,” katanya.

Baiq Diyah berharap, peran grup Pojok NTB juga punya kontribusi dalam mendukung pertumbuhan UMKM di daerah ini.

“UMKM-UMKM ini bisa dipromosikan produknya. Misalnya usaha catering dari teman ke teman, bisa difasilitasi juga melalui perkumpulan Pojok NTB ini, setidaknya informasi-informasinya,” katanya.

Diyah mengakui Pojok NTB adalah grup yang unik dan bikin betah. Selain karena tema diskusi yang beragam, juga karena pola komunikasi antar anggota yang serius tetapi santai, tegang tetapi kadang menghibur.

“Terus terang satu-satunya WAG yang saya masih bertahan adalah Pojok NTB ini. Karena semua hal kita diskusikan, dan banyak informasi yang kita dapatkan di grup ini, mulai dari kesehatan, ekonomi, hukum, dan masalah lainnya,” katanya.

Akademisi Dr Lalu Syaifudin menilai grup Pojok NTB merupakan wadah komunikasi yang strategis dalam dinamika pembangunan NTB saat sekarang ini.

Menurutnya, grup Pojok NTB cukup bagus dengan kritis terhadap pemerintah dan solutif memberikan jalan keluar.

“Pemerintah itu sehat kalau sering dikritik. Kalau tidak (dikritik) justru akan terlanjur nyaman dan cenderung korup,” kata Gayep, sapaan akrabnya seraya berharap Pojok NTB semakin baik dan semakin moderat lagi ke depannya. (RL)