Hafal 22 Juz, Target Kelas X Sudah Hafal Semua

Khaula Karima
Khaula Karima (ZULKIFLI/RADARLOMBOK)

Khaula Karima, pelajar SMP dari Dusun Sedayu Tengah Desa Kediri Selatan Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat (Lobar) ini patut menjadi inspirasi remaja seusianya. Di usianya 15 tahun, dia sudah menghafal 22 Juz Alquran.


ZULKIFLI-GIRI MENANG


Menjadi penghafal Alquran merupakan cita-cita Khaula Karima. Bahkan sejak SD di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Anak Soleh Mataram, dia sudah menghafal 1,5 Juz pada Juz ke-29 dan 30. Berangkat dari itu, Khaula pun kemudian ingin memperbanyak dan memperdalam lagi hafalannya setelah lulus SD. Apalagi dia terinspirasi dari sang kakak yang sudah lebih dulu menghafal.

SMP pilihan Khaula adalah SMPIT Darul Qur’an Mulia di Pondok Pesantren (Ponpes) Terpadu Darul Qur’an Mulia Bogor, yang juga merupakan tempat kakaknya kini bersekolah. Tekad dan keinginan kuat remaja pemalu inipun berbuah hasil. Khaula yang kini duduk di Kelas IX, sudah berhasil menghafal 22 Juz, melebihi target yang ditetapkan sekolah yakni 15 Juz.

[postingan number=5 tag=”hafidz”]

Diceritakan remaja berlesung pipit ini, proses menghafal tentu tidak selalu lancar. Apalagi jika ayat yang dihafalkan itu sulit. Tetapi untungnya, di SMPIT Darul Qur’an Mulia, tidak ada paksaan harus hafal sekian, saat menyetorkan hafalan usai salat Subuh. Semua mengalir begitu saja. Tetapi dengan itu, terbangun kesadaran sendiri untuk mencapai target. Sehingga Khaula sendiri menargetkan minimal satu halaman setiap menyetorkan hafalan usai salat Subuh. “Jadi tidak ada yang dihukum-hukum, semampunya saja bisa menghafal berapa,” ungkapnya, Rabu kemarin (31/5).

Diceritakannya, selain menyetorkan hafalan usai salat Subuh, waktu tersebut juga dipergunakan untuk menambah hafalan baru. Kemudian usai salat Ashar dipergunakan untuk murojaah atau mengulang hafalan di hadapan guru tanpa melihat teks Alquran. Terkadang ada saja yang dilupa. Guru pun memberitahu tempat salahnya. Untuk ukuran dirinya yang kini sudah menghafal 22 Juz, maka setiap murojaah itu setidaknya setengah Juz. “Murojaah ini penting untuk mempertahankan hafalan,” jelasnya.

Selain murojaah di hadapan guru, murojaah tentunya juga dilakukan atas inisiatif masing-masing. Khaula sendiri mengaku murojaah usai sekolah atau saat siang sebelum tidur sebanyak 3  sampai 5 Juz. Kemudian usai salat Magrib lanjutnya, dipergunakan untuk mempersiapkan hafalan baru, yang nantinya akan disetorkan usai salat Subuh.

Diungkapkannya, dalam proses menghafal ini, memang kerap kali rasa bosan datang. Dikarenakan rutinitas menghafal setiap harinya. Untuk menghilangkan rasa bosan itu, biasanya ngobrol dengan santriwati lainnya di asrama tersebut. Biasanya setelah itu fresh kembali. Selain itu tentunya juga kerap diberikan ceramah motivasi keutamaan dari menghafal.

Hal-hal itulah yang kemudian membuat putri dari Hj Nurul Adha Anggota DPRD Lobar ini selalu bisa semangat untuk menghafal. Bahkan kini Khaula tercatat sebagai penghafal berprestasi. Dalam Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) Kategori 5 Juz Darul Qur’an Putri Tahun 2015, dia berhasil menyabet Juara I. Kemudian pada MHQ Cabang 10 Juz Tahun 2016, juga menyabet Juara I. Sungguh prestasi yang membanggakan.

Namun menjadi seorang penghafal Alquran sendiri tidak lantas membuat pelajaran umum di sekolahnya terganggu. Bahkan remaja yang bercita-cita menjadi seorang dokter ini selalu mendapatkan peringkat I di kelasnya, hanya sekali mendapatkan peringkat II saat Kelas VIII. “Belajar tetap, waktunya diatur. Kalau tidak sedang menghafal, ya belajar,” jelas remaja yang ingin menuntaskan hafalannya di Kelas X SMAIT Darul Qur’an Mulia ini.

Khaula sendiri memiliki kesempatan untuk bisa menimba ilmu di tempat yang bagus. Apakah ada pesan bagi remaja seusianya yang ingin menghafal, tetapi tidak bersekolah di tempat yang memprogramkan tahfidz? Dijawabnya, menghafal itu jangan terburu-buru cepat ingin selesai, biarkan mengalir begitu saja. Sehingga tidak cepat bosan. Karena keinginan terburu-buru untuk cepat selesai itu datangnya dari setan.

Kemudian untuk mempertahankan hafalan sendiri biasanya sulit. Apakah ada tips? Dijawabnya, jauhi ghibah atau mempergunjingkan orang lain. Ghibah itu bisa membuat hafalan tidak lancar. Selain itu juga mengurangi mendengarkan nada-nada yang bisa merusak hafalan. Diterangkannya pula, banyak keuntungan jika menghafal Alquran, hati menjadi adem, tenang, damai. Kalau ada masalah atau galau, itu tinggal baca Alquran, yang diyakini Khaula sebagai obat segala macam penyakit. (*)

BACA JUGA :  Madrasah Negeri 100 Persen Siap UNBK