Guru Terancam Sanksi Jika Menolak Divaksin

TATAP MUKA : Siswa di Kota Mataram melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah. (DOK/RADAR LOMBOK )

MATARAM — Dinas Pendidikan Kota Mataram berupaya meningkatkan capaian vaksinasi untuk tenaga guru. Namun hingga kini capaian vaksinasi untuk guru masih rendah, yakni dibawah 50 persen. Karena itu, untuk memaksimalkan vaksinasi, Dinas Pendidikan menyatakan bisa memberikan sanksi untuk tenaga guru yang menolak atau tidak mau divaksin.

“Kalau alasannya medis tentu bisa diterima tidak bisa divaksin. Tapi kalau alasannya bukan medis seperti dia takut dan tidak mau, maka itu akan kita berikan sanksi,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, H Lalu Fatwir Uzali di Mataram, kemarin.

Hanya saja tentang sanksi yang diberikan itu, Fatwir mengatakan sifatnya tidak ekstrim. Sanksinya bisa administrasi hingga peringatan. Pihaknya terpaksa menyiapkan sanksi, karena orang tua murid mengharapkan semua guru divaksin. Tujuannya agar siswa atau murid merasa aman di sekolah jika gurunya sudah divaksin.

BACA JUGA :  NTB Rangking Dua Jumlah Penduduk Buta Huruf

“Semuanya ini demi kepentingan bersama,” katanya.

Dengan bersedianya guru divaksin, Fatwir menyebut sekolah bisa dibuka setelah lebaran. Tapi keputusan tersebut bergantung pada kepala daerah dan Forkopimda, dan sangat tergantung pada perkembangan Covid-19. Fatwir mengaku tidak berani tiba-tiba membuka ketika perkembangan Covid cukup riskan. Kalau guru sudah divaksin semua nanti ada pembahasan lagi.

“Kita akan lihat berapa persen guru yang sudah divaksin,” tegasnya.

Sedikit diulas, dari 9 ribu lebih guru yang didaftarkan sebagai penerima vaksin. Adapaun yang sudah divaksin tercatat tidak lebih 4 ribu orang. Dari laporan yang diterima. Guru tidak hanya melaksanakan vaksinasi di sekolah. Tapi mendaftarkan diri untuk divaksin di Puskesmas masing-masing.

Dinas juga ingin mengetahui alasan guru yang belum bersedia divaksin, karena instruksi yang dikeluarkan dinas sudah meminta jumlah guru yang tidak divaksin, tapi dengan alasan medis. Seperti mengidap penyakit atau disertakan komorbid tertentu.

BACA JUGA :  PGRI NTB Ingatkan Anggota Patuhi Kode Etik

“Saya ingin tahu ini alasan apa. Kalau yang alasan medis jelas itu bisa diterima. Sekarang kita ingin mendapat data ril sebenarnya. Sehingga kita tahu mana guru yang sudah dan belum divaksin,’’ jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr H Usman Hadi mengatakan, capaian vaksinasi untuk tenaga guru di Kota Mataram masih cukup rendah. Untuk dosis pertama dengan capaian 43 persen. Untuk penyebab masih rendahnya capaian vaksinasi tenaga guru, Usman mengatakan kurang mengetahui penyebabnya. Tapi pihaknya siap memberikan pelayanan untuk memaksimalkan capaian vaksinasi guru. “Kita siap saja, guru bisa datang juga ke Puskesmas. Kami tetap berikan pelayanan,” katanya. (gal)