Guru Honorer SMK/SMA Mulai Khawatir Tak Lolos Tes Rekrutmen

Ilustrasi Guru Honorer
Ilustrasi Guru Honorer

MATARAM – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) NTB mulai menerima banyak keluhan dari guru honorer di Provinsi NTB. Lantaran, proses rekrutmen guru honorer melalui Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) dinilai kurang tepat proses seleksinya.

Ketua PGRI Provinsi NTB, H Ali Rahim membenarkan jika pihaknya di PGRI NTB beberapa pekan ini didatangi guru honorer. Kedatangan mereka, tidak lain tujuannya untuk melakukan keluh kesah mengenai nasib mereka yang tidak menentu sekarang ini. “Sementara ini kita hanya bisa menampung keluh kesah rekan rekan guru honorer,” kata Ali Rahim, Senin kemarin (3/4).

Menurut Ali, dasar masalah para guru honorer berkeluh kesah, ditengarai proses seleksi yang akan diikutinya. Sebagian besar guru honorer banyak yang menyimpan perasaan khawatir dengan nasibnya. Pasalnya, jika mereka tidak lulus seleksi maka mereka akan terpental dari sekolah tempatnya mengabdi. Baik guru yang sudah mengabdi selama 5 tahun hingga 15 tahun.

Bahkan lanjut Ali, banyak guru honorer yang sudah tidak tergolong muda. Akibatnya, jenjang karir menuju PNS dan sejenisnya sudah tidak mungkin didapat. Sehingga proses seleksi rekrutmen guru honorer yang dilaksanakan Pemprov melalui Dikbud NTB inilah menjadi satu- satunya yang diharapkan. Namun jika sebaliknya terjadi, mereka yang tergolong tua akan kehilangan pekerjaan.

“Yang banyak mengeluh dan khawatir adalah, guru honorer yang sudah tua. Karena mereka tidak tahu akan kerja apa nantinya,” beber Ali.

Sementara itu, Wakil Ketua PGRI NTB, Dr Abdul Kadir menambahkan, jauh sebelum proses seleksi ini dimulai, pihaknya selalu berupaya melakukan pendataan GTT dan PTT disetiap kabupaten/kota. Setelah itu mengkorelasikan jumlah tersebut dengan anggaran yang dibutuhkan oleh guru honorer. Artinya, anggaran yang dibutuhkan Pemprov NTB untuk membayar honor guru non PNS sebanyak 5.200 orang adalah sebesar Rp60 miliar.

Namun sejauh ini, Dikbud NTB yang disebut sebagai mitranya selalu merespon dan berfikir lain. Bahkan tidak jarang pihaknya mengaku sering disalahkan atas gagasan yang ditawarkannya “Semoga proses seleksi ini benar benar berpihak dan berlaku adil,” harapnya. (rie)