Guru Agama Diingatkan Waspadai Radikalisme Kalangan Pelajar

MATARAM—Guru agama diingatkan untuk mewaspadai  penyebaran radikalisme melalui jejaring media sosial di internet. Di masa pendemi Covid-19 dimana pembelajaran dilakukan dengan metode daring, akan semakin memudahkan pelajar  dalam mengakses informasi di internet, tidak terkecuali kontens berbau radikalisme.

Hal itu dikemukakan Deputi Pencegahan  Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  (BNPT), Letkol Laut Setyo Pranowo, pada kegiatan Internalisasi Nilai-Nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam  Menumbuhkan Moderasi Beragama,  Rabu (30/9) di Hotel Aruna Senggigi, Lombok Barat.

Setyo mengingatkan bahwa penyebaran paham radikal di kalangan pelajar terus digencarkan oleh kelompok radikal terorisme, terutama melalui media sosial. Inilah yang harus diwaspadai bersama. Karena bagi kelompok radikal terorisme,  pelajar adalah target utama penyebaran paham dan perekrutannya. Karena di samping kondisinya yang dianggap masih “labil” para pelajar juga dapat dijadikan regenerasi yang menjanjikan untuk terus beroperasinya gerakan kelompok radikal terorisme.

‘’Kita berharap para guru meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman terhadap radikalisme yang menjurus ke terorisme yang dapat mengganggu keamanan dan perdamaian bangsa yang kita cintai. Salah satuya melibatkan guru agama di sekolah untuk membentengi faham radikalisme dengan memberikan ajaran agama yang benar,’’  pintanya.

Dijelaskannya, BNPT sebagai lembaga negara yang mendapat mandat melaksanakan penanggulangan terorisme  terus berupaya menekan kejahatan luar biasa tersebut, tidak hanya melalui penindakan secara tegas, namun juga  melaksanakan program-program yang bersifat soft  approach atau penanganan  secara lunak. ‘’Kegiatan yang kita lakukan sekarang ini adalah salah satu bentuk bagaimana  terorisme ditanggulangi secara lunak,’’ sebutnya.

Sementara itu Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Nusa Tenggara Barat, H. Lalu Syafi’i, mengajak kalangan guru mata pelajaran agama untuk meningkatkan keseriusan dalam keikutsertaan penanganan radikalisme dan terorisme. Ancaman terorisme disebut terus mengalami perkembangan.

Menurutnya, kesadaran untuk menanggulangi terorisme, merupakan tanggung jawab bersama, tak terkecuali kalangan tenaga pendidik.  Dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, agar permasalahan terorisme bisa diatasi dengan baik. “Salah satu bukti semakin berkembangnya ancaman terorisme adalah semakin  merebaknya radikalisme beragama yang merupakan cikal bakal aksi terorisme,” tambahnya.

Dalam pandangan Syafi’i, tumbuhnya pemahaman moderasi beragama, yaitu ketika penganut agama mampu mengamalkan ajaran agamanya dengan tetap menghormati agama lainnya, merupakan langkah sederhana untuk bisa melahirkan suasana damai dalam kehidupan bermasyarakat. Perdamaian yang terpupuk itulah  yang diharapkan mampu menjadi benteng atas radikalisme dan terorisme.

Pemahaman moderasi beragama di lingkungan sekolah juga penting dilakukan untuk membentengi generasi muda dari potensi paparan radikalisme dan terorisme. “Generasi muda cenderung memiliki pemahaman agama yang dangkal. Tugas kita semua, terutama tenaga pendidik, untuk mengenalkan moderasi beragama kepada mereka, sehingga mampu membentengi dirinya dari radikalisme dan terorisme,” tandasnya. (tn)