GPLI Investasi Budidaya Lobster Rp 750 Miliar di Lobar

KERAMBA LOBSTER: Empat pengusaha budidaya lobster yang tergabung dalam GPLI, telah membangun keramba di Sekotong, Lombok Barat, dan berhasil baik, untuk kemudian dikembangkan lebih luas. (gpli for radarlombok.co.id)

MATARAM—Tindak lanjut pencanangan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono yang menjadikan Provinsi NTB sebagai pusat budidaya lobster nasional, bahkan yang berskala ekspor. Para pengusaha lobster yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Lobster Indonesia (GPLI), tergerak untuk berinvestasi budidaya lobster di Lombok.

“Perairan di NTB ini potensinya luar biasa. Itu mengapa jauh hari kami (GPLI) juga telah uji coba membangun keramba budidaya loster sebanyak 140 lubang di Sekotong, sebagai percontohan, dan ternyata berhasil dengan baik,” kata Ketua GPLI, Gunawan kepada sejumlah media, Kamis (10/6) di Mataram.

Dengan keberhasilan tersebut, sambung Gunawan, maka selanjutnya pihak GPLI secara serius akan mengembangkan budidaya lobster di wilayah Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, dengan skala yang lebih besar lagi, atau skala industri. Dan ternyata sambutan Pemprov NTB sangat luar biasa, baik Gubernur NTB maupun Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan NTB, menyambut dengan tangan terbuka.

“GPLI dengan anggota 25 pengusaha, akan berinvestasi membangun keramba budidaya lobster sebanyak 10 ribu lubang di Sekotong, dan 5000 lubang di Desa Buwun Mas. Untuk kategori korporasi, maka nilai investasi per lubang sekitar Rp 50 juta. Sehingga kalau ditotalkan investasi yang digelontorkan bisa mencapai sekitar Rp 750 miliar. Itu baru investasi untuk kategori korporasi ya, diluar dari investasi untuk kategori masyarakat,” jelas Gunawan.

Karena ini skala industri, maka sistem keramba yang dibangun di kawasan Lombok Barat (Sekotong) nanti juga tidak seperti KJA (keramba jaring apung) yang ada selama ini di NTB. Namun akan mengadopsi sistem budidaya lobster seperti yang ada di Vietnam.

“Sistem budidaya lobster seperti di Vietnam ini juga telah dilakukan dan dikembangkan GPLI di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Dan hasilnya sangat baik sekali untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Bahkan Menteri KKP sendiri yang langsung melakukan panen raya,” ujar Gunawan.

BACA JUGA :  Mobil Berisi Tiga Anggota DPRD Lombok Barat Tertabrak

Sistem budidaya dari Vietnam ini yang nanti akan dibawa ke Sekotong, yang bahkan diuji cobakan sejak setahun lalu di perairan Sekotong sebanyak 140 lubang, dan berhasil dengan memuaskan. “Setahun ini kami akan mulai bergerak (investasi) melakukan pembinaan-pembinaan kepada masyarakat pembudidaya lobster, termasuk dalam hal penyediaan bibit dan pakannya. Target kami paling tidak setahun mereka sudah bisa mandiri,” ujar Gunawan.

“Sebagai langkah awal, kami akan mulai dari Lombok Barat dulu, baru kemudian kita kembangkan ke daerah-daerah Lombok lainnya seperti di Telong Elong, Jero Waru, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan mungkin di pulau Sumbawa,” sambung Gunawan.

Sementara Gubernur NTB, Dr H Zulkieflimansyah, menyampaikan bahwa untuk budidaya perikanan, termasuk lobster ini, bagi masyarakat NTB bukan hal yang asing lagi. “Kita sudah lama mengembangkan budidaya perikanan ini di NTB. Kalau budidaya lobster itu terkonsentrasi di Lombok, maka di Sumbawa ada budidaya udang vaname,” ujarnya.

Namun tentu harus diingat lanjut Gubernur, pembangunan itu tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi juga pihak swasta. “Kalau di Lombok Tengah dan Lombok Timur digarap pemerintah, maka yang swasta ini akan menggarap budidaya lobster di Lombok Barat. Ini kan luar biasa,” beber Gubernur.

Sekarang, tugas pemerintah daerah adalah memastikan bagaimana pengusaha ini merasa nyaman berusaha (investasi) di NTB. “Yang penting sekarang mulai dulu investasi, maka lama-lama masyarakat pasti akan menguasai juga ilmunya. Apalagi sekarang ini budidaya mutiara sedang lesu, durasi panennya terlalu panjang (lama), delapan bulan. Kalau lobster ini kan lebih singkat, tiga sampai empat bulan sudah ada pembelinya,” ucap Dr Zul.

BACA JUGA :  Polres Lobar Distribusikan Air Bersih

“Dengan rencana awal GPLI akan membangun budidaya keramba lobster sebanyak 10 ribu lubang, maika kalau ini terealisasi tentu akan merubah perekonomian masyarakat kita. Kalau ini sukses maka tinggal di replik saja ke wilayah lainnya di NTB,” tambah Gubernur.

Sedangkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan NTB, Muslim, ST. M.Si, menyampaikan GPLI selain akan membangun keramba budidaya lobster di Sekotong, mereka juga akan membangun pusat produksi pakan disana. “Pihak GPLI juga menyatakan siap membantu mulai dari proses hulu hingga hilir terhadap budidaya lobster ini,” jelasnya.

Dinyatakan, Provinsi NTB merupakan daerah penghasil lobster dan sumber lobster dengan potensi terbesar di Indonesia, terutama di wilayah Lombok Timur dan Lombok Tengah. Bahkan sejak tahun 2003 Lombok Timur dan Lombok Tengah telah mengembangkan budidaya lobster dengan Keramba Jaring Apung (KJA), yang menggunakan bahan baku lokal yang diperkenalkan oleh Co-Fish Project-ADB dengan mengandalkan pada benih hasil tangkapan langsung di laut dengan skala tradisional. “Hanya saja, cara tersebut dalam praktiknya ternyata memakan waktu yang cukup lama,” sebut Muslim.

Menurut Muslim, dengan adanya investasi yang dilakukan GPLI ini, yang datang dengan metode baru, mengadopsi sistem keramba budidaya lobster seperti dari Vietnam. Maka ini akan dapat membawa angin segar bagi para pembudidaya lobster di NTB.

“Rencana pengembangan NTB sebagai pusat budidaya lobster nasional ini tentu akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi daerah, dan peningkatan penghasilan masyarakat. Termasuk persoalan-persoalan para pembudidaya lobster selama ini juga bisa teratasi, seperti soal dinamika pasar yang tidak stabil, terbatasnya sarana dan prasarana pendukung, dan lainnya,” pungkas Muslim. (gt)