Gizi Buruk Jadi Perhatian, Sasar Anak Nelayan

GIZI : Balita diberikan asupan gizi ditemani orang tua mereka saat berlangsung Kelas Gizi yang digelar LPA Kota Mataram di kawasan eks Pelabuhan Ampenan (Sudir/Radar Lombok)

Kasus gizi buruk masih mengemuka di daerah ini, terutama di kawasan pesisir. Hal ini menjadi perhatian Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram yang menggagas Kelas Gizi.


SUDIRMAN-MATARAM


Ada kelas khusus di kawasan eks Pelabuhan Ampenan tempat ibu-ibu berkumpul membawa anak-anak mereka. Ini semacam kelas informal untuk anak-anak Balita (Bawah Lima Tahun).

Para ibu antusias dengan kelas ini. Kelas Gizi digagas oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram bekerjasama dengan Puskesmas Ampenan. Satu persatu ibu masuk ruangan bersama anaknya dan mendengarkan imbuan dokter dan tim LPA. berbeda dengan kelas biasa di sekolah, di Kelas Gizi ada hidangan makanan bergizi bagi untuk anak.

Ketua LPA Kota Mataram Nyayu Ernawati mengatakan, kasus gizi buruk harus menjadi perhatian. Saat ini di Mataram ada 10 kasus gizi buruk.” Salah satu pemicunya yakni gizi yang tidak memadai,” katanya kemarin.

[postingan number=3 tag=”features”]

Kelas gizi sudah berjalan selama dua hari. Setiap hari ada belasan Balita yang datang bersama orang tua mereka. Dari keterangan Nyayu, dari 10 kasus gizi buruk tersebut, empat diantaranya disebabkan adanya kelainan sejak lahir. Saat ini mereka sedang menunggu proses operasi. “Jika penyakit bawaan lahir tidak disembuhkan, maka keberhasilan proses pemulihan gizi sangat kecil,” katanya.

Ia mengatakan pola asuh yang salah merupakan faktor yang sangat mendasar sehingga kasus gizi buruk bahkan bisa terjadi pada masyarakat dengan tingat ekonomi yang cukup baik. “ Sebagian besar gizi buruk yang terjadi saat ini karena pola asuh, sehingga kasus gizi buruk juga bisa terjadi di keluarga kaya,” katanya.

Ia mengimbau ibu-ibu yang punya anak agar aktif datang ke Posyandu. Sebab Posyandu merupakan tempat deteksi dini apakah gizi anak cukup atau kurang. Di Posyandu berat badan bayi dan Balita ditimbang, diukur tingginya agar dapat disesuaikan dengan usianya, diimunisasi serta diberikan makanan pendamping ASI.

Untuk mengatasi masalah gizi buruk, selain sosialisasi tentang pola asuh melalui Puskesmas dan Posyandu, Dikes Kota Mataram juga gencar melakukan sosialisasi tentang pemenuhan gizi anak lewat makanan empat sehat lima sempurna. “ Empat sehat lima sempurna itu tidak harus mahal, yang penting komposisi gizi untuk anak terpenuhi,” katanya.

Selain itu pemerintah juga memberikan bantuan makanan tambahan, susu formula, serta pelayanan konsultasi gatis dan rujukan ke rumah sakit bila diperlukan.(*)