Gili Trawangan Butuh Selokan

BECEK : Nampak para wisatawan berhati-hati melintas genangan air hujan yang ada di salah satu gang di Gili Trawangan. Air genangan ini juga terdapat di beberapa gang lainnya (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG-Objek wisata Gili Trawangan membutuhkan selokan untuk menghindari adanya genangan air pada saat musim hujan.

Dengan adanya selokan maka air hujan tidak langsung turun ke air laut, seperti yang terjadi pada saat ini. Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah maka dikhawatirkan air laut Gili Trawangan akan menganggu ekosistem laut dan membuat air laut kumuh, sehingga berimbas terhadap para wisatawan. “Untuk kepentingan pariwisata dan umum (masyarakat) di Gili Trawangan ini membutuhkan selokan,” ujar Ketua Asosias Pengusaha Gili Trawangan (APGT), Acok Zaini Bassok, kemarin.

Ia membantah, jika selama ini masyarakat dan para pengusaha memperhitungkan lahan sebagai pembuatan selokan. Menurutnya, persoalan kebutuhan tanah sebagai jalur selokan pihaknya tidak mempersoalkan, bahkan masyarakat dan pengusaha sangat menunggu langkah pemerintah. “Tidak benar isu yang beredar selama bahwa setiap tanah ini untuk pembuatan selokan harus dibayar, malah kami disini sangat menunggu itu. Dan kami siap mendukungnya,” tegasnya.

Jika tidak salah, pihak pemerintah juga pernah membuat drainase tapi hanya satu titik. Menurutnya, para pengusaha dan masyarakat menginginkan adanya selokan kemudian menyambung ke drainase. Selokan katanya, lebih bagus untuk menghindari masyarakat membuang sampah. Sebab, ukuran selokan kecil dan mengairi air yang ada. Air yang mengalir dari selokan itu langsung ke drainase, dan pihak pengusaha sendiri siap membuat tempat penampungan air. “Kami siap menyiapkan gumbleng didepannya, kalau penuh gumblengnya disini cepat kering. Dan disini juga tidak setiap hari hujan,” terangnya.

Saat ini, lanjut Bassok, ketika turun hujan lebat maka air hujan langsung mengalir ke air laut. Jika ini tidak segera diambil sikap, maka ia khawatirkan kondisi air laut akan bercampur sehingga mengganggu eko sistem laut dan para tamu enggan untuk mandi pantai. “Kalau saya tidak mengkhawatirkan gili ini akan banjir, karena gili ini hanya tergenang saja. Yang kami khawatirkan air hujan yang mengalir ke air laut tersebut,” tandasnya.

[postingan number=3 tag=”trawangan”]

Ia berharap pemerintah harus segera bertindak. Bila perlu pembuatan selokan harus semuanya keliling baik di pinggir maupun perkampungan. Selain itu, pemerintah juga harus memiliki master plan dengan melibatkan para pengusaha dan masyarakat Gili Trawangan yang menetap. Dengan adanya master plan tersebut, maka para pengusaha berikutnya akan bisa menggunakannya. “Karena, master plan itu gak usah diganti. Yang kita sesalkan, pemerintah provinsi dan pemerintah daerah memiliki master plan yang berbeda-beda. Coba itu disatukan dan koordinasikan dengan kami juga selaku warga Gili Trawangan,” tegasnya.

Terkait pemerintah harus mengeluarkan anggaran besar. Menurutnya, sumber pendapatan asli daerah (PAD) dari Gili Trawangan per tahun sangat bisa membuat selokan. Jika pun itu menjadi alasan, pihaknya sendiri berani membaikot PAD dari Gili Trawangan enam bulan atau setahun untuk membangun selokan keseluruhannya. “Cukup andalkan PAD dari Gili. Biarkan kami membangunkan asalkan PAD setahun diboikot. Kita cukup buat selokan kayak perumahan keliling menuju drainase,” tantangnya.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperhatikan kondisi jalan. Pihaknya sangat menginginkan pemerintah daerah harus serius untuk menata Gili Trawangan. Termasuk juga perlu adanya lampu penerang jalan di semua titik dan perkampungan. “Kalau ada tiang lampu penerangan jalan, jangan dibuat terlalu tinggi. Supaya ketika bola lampu mati maka kami bisa menggantinya,” harapnya.

Ia juga menyoroti, pembuatan dermaga apung yang sudah rusak. Seandainya pemerintah mengikuti saran dari pengusaha dan masyarakat untuk memperlebar jembatan penyeberangan yang sudah ada, maka sangat bagus. “Tapi, katanya ini beda proyeknya,” keluhnya.

Ditimpali Kepala Desa Gili Indah, HM Taufik mengakui, bahwa para pengusaha di gili sangat mendukung kalau ada upaya pemerintah membuatkan selokan atau drainase. Keberadaan drainase sangat penting untuk menampung air dan mengantisipasi air hujan pada lebat sehingga langsung diserap dan tidak terjadi genangan. “Masyarakat siap dan pemerintah desa juga pada tahun 2014-2015 telah membuat beberapa titik lumbang serapan dan pemerintah daerah juga sudah ada dibuatkan. Tapi, dengan luas gili masih sangat dibutuhkan,” timpalnya.

Selain itu, pihaknya berharap kepada pemerintah daerah ketika melakukan pengerasan jalan diharapkan tidak sekedar berbuat saja, namun hasil pekerjaan baru setahun sudah mengalami kerusakan. Dikatakan, adanya anggaran desa pihkanya sendiri sudah memberbaiki beberapa titik di tiga gili, termasuk juga pembangunan MCK dan posyandu. “Termasuk juga kita butuhkan lampu penerang jalan. Sudah ada beberapa tiang, tapi tidak dinyalakan. Tahun ini kami di desa merencakan perbaikan jalan di masing-masing gili ada 10 titik,” pungkasnya. (flo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut