Gili Matra Mulai Terima Tamu

Illustrasi Gili Matra
Illustrasi Gili Matra

MATARAM – Kenormalan baru (New Normal) pariwisata di NTB yang telah diterapkan dari mulai bukanya destinasi wisata Tiga Gili (Trawangan,Meno, Air) mulai menerima kunjungan wisatawan.  Hal tersebut menujukkan geliat pariwisata di NTB mulai terlihat di beberapa destinasi wisata.

Ketua Gili Hotel Association (GHA) Lalu Kusnawan mengatakan setelah program pembersihan kawasan Tiga Gili beberapa waktu lalu. Para wisatawan mulai berdatangan berkunjung ke tempat tersebut, meskipun jumlahnya tidak banyak. Namun mulai menunjukkan pergerakan.

“Wisatawan sudah masuk,  cuma persentasenya masih 1-2 orang saja atau ada juga yang berkelompok,” kata Lalu Kusnawan, Senin (29/6).

Wisatawan yang berkunjung sebagian besar merupakan wisatawan lokal (Lombok). Sedangkan wisatawan mancanegara merupakan wisman yang sebelumnya menginap di Kuta dan destinasi lainnya. Bahkan wisatawan mancanegara dari Bali sempat datang beberapa minggu lalu.

“Mereka menginap di properti-properti yang buka, wisatawan yang datang menggunakan kapal dari pelabuhan Lembar,” ujarnya.

Menurutnya, banyak wisatawan memilih datang ke Tiga Gili (Gili Matra), karena harga sewa kamar hotel murah. Selama persiapan menuju kenormalan baru (New Normal), sebagian besar properti menyewakan kamar untuk Rp 200 ribu per malam. Upaya tersebut juga diharapkan dapat menjadi salah satu strategi promosi.

“Sebenarnya bagian dari promosi, ada tahapan yang harus kita lewati. Misalnya perlu ada persetujuan pemerintah untuk Surat Edaran (SE) dan penjagaan di Bangsal yang sekarang masih lemah,” ungkapnya.

Ia mengatakan kejelasan pembukaan destinasi wisata memang diperlukan. Sebelumnya, Pemkab Lombok Utara  akan segera membuatkan SE. Sayangnya, hingga sekarang belum ada SE tersebut. Padahal, dengan SE tersebut pelaku usaha akan lebih leluasa beraktivitas dan melakukan promosi.

“Beberapa  teman-teman saat ini masih bertahan dengan menggarap pasar wisatawan asing yang mulai datang. Termasuk wisatawan-wisatawan yang berdiam di Tiga Gili dari tutupnya negara asal mereka,” jelasnya.

Kendati demikian daya beli para wisatawan tersebut diakuinya cukup kecil. Di sisi lain, seluruh upaya tersebut diharapkannya dapat sejalan dengan keputusan-keputusan yang dikeluarkan pemerintah.

“Kita berharap supaya sinkron dengan pemerintah. Kalau misal buka ya buka dengan persiapan yang komplet,” ucapnya.

Terpisah, Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) NTB, Dewantoro Umbu Joka mengatakan geliat pariwisata di NTB memang terlihat di beberapa destinasi wisata andalan. Antara lain seperti Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan Tiga Gili.

“Sembalun dan Gili itu sudah banyak wisawatan lokal yang berkunjung,” ujarnya

Menurutnya telah sesuai dengan arahan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI. Dimana arahnya paling tidak mendorong wisatawa lokal terlebih dahulu agar pariwisata tetap hidup.

“Pembukaan secara resmi masing-masing destinasi wisata juga merupakan salah satu langkah penting menuju kenormalan baru ini,” terangnya. (dev)