Gerindra dan PKB Jamin Tak Ubah Dukungan

DUKUNGAN: Pemberikan SK Tugas ke sejumlah bapaslon kada oleh Desk Pilkada Gerindra NTB, beberapa waktu lalu. Ketua DPD Gerindra NTB Ridwan Hidayat memastikan dukungan ini tak berubah kendatipun pilkada ditunda. (AHMAD YANI/RADAR LOMBOK)
DUKUNGAN: Pemberikan SK Tugas ke sejumlah bapaslon kada oleh Desk Pilkada Gerindra NTB, beberapa waktu lalu. Ketua DPD Gerindra NTB Ridwan Hidayat memastikan dukungan ini tak berubah kendatipun pilkada ditunda. (AHMAD YANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Pilkada serentak 2020 resmi ditunda. Peta politik pun diyakini akan berubah, termasuk dukungan partai terhadap bakal pasangan calon kepala daerah (bapaslon kada). Namun Gerindra dan PKB sendiri memastikan tak mengubah dukungan. “Meski pilkada ditunda, arah dukungan tidak akan berubah,” kata Ketua DPD Gerindra NTB Ridwan Hidayat, Selasa (31/3) kemarin.

Diungkapkan, penentuan dukungan Gerindra di tujuh kabupaten/kota yang akan menggelar pilkada, dipastikan sudah final. Itu sudah melalui proses cukup panjang, mulai dari DPC hingga DPD. Bahkan, para bapaslon sudah diberikan SK Tugas dari Desk Pilkada DPD Gerindra NTB untuk mencari parpol mitra koalisi. Dan sejauh ini, pelaksanaan SK Tugas berjalan baik. Sehingga pihaknya memastikan dukungan Gerindra tidak akan berubah, kendatipun pilkada ditunda. Terlebih, DPP hanya tinggal menerbitkan SK dukungan kepada bapaslon kada yang akan diusung. Kalau tidak ada kendala pandemi corona serta penundaan pilkada, sedianya penyerahan SK dukungan akan dilakukan pada awal April.

Berikut para bapaslon kada yang akan diusung Gerindra: Pilkada Kota Mataram yakni Lalu Makmur Said-Badruttamam Ahda, Pilkada Kabupaten Lombok Utara Djohan Sjamsu-Danny Carter Febrianto Ridawan, Pilkada Loteng Lalu Pathul Bahri-Ferdian Elmiansyah. Berikutnya, Pilkada Sumbawa Barat Musyafirin-Fud Syaifuddin, Pilkada Sumbawa Jarot-Mokhlis, Pilkada Dompu Abdul Kadir Jaelani-Chairunnisa, serta Pilkada Bima Indah Damayanti Putri-Dahlan M. Noer.

Hal yang sama disampaikan Ketua DPW PKB NTB Lalu Hadrian Irfani. Menurutnya, sekalipun ada penundaan pilkada, ia memastikan arah dukungan parpol berbasis nahdiyin ini tidak akan berubah. Dari tujuh pilkada, arah dukungan PKB sudah mengerucut di lima daerah. Pihaknya pun sudah memberikan SK Tugas ke para bapaslon kada tersebut untuk mencari parpol mitra koalisi PKB. Dan sejauh ini, SK Tugas dijalankan dengan baik. “Selama mereka mampu memenuhi perintah SK Tugas yang kita berikan, arah dukungan PKB tak akan berubah,” imbuhnya.

Berikut arah dukungan PKB di lima dari tujuh pilkada di NTB: Pilkada Kota Mataram Lalu Makmur Said-Badruttamam Ahda, Pilkada Lombok Utara Djohan Sjamsu-Danny Carter Febrianto Ridawan, Pilkada Sumbawa Barat Musyafirin-Fud Syaifuddin, Pilkada Sumbawa Mahmud Abdullah-Dewi Noviany, dan Pilkada Bima Indah Damayanti Putri-Dahlan M. Noer.

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Ihsan Hamid menilai, penundaan pilkada berpotensi mengubah konstelasi arah dukungan di pilkada. Lantaran atmosfer dan dinamikanya akan berbeda ketika pilkada digelar 2021.

Yang menyeruak saat ini adalah, siapa yang diuntungkan dan dirugikan dengan penundaan pilkada tersebut. Jika dilihat pendekatan pragmatisme politik, pihak oposisi kelihatannya lebih diuntungkan dengan kondisi ini, karena punya potensi merebut atau mengubah peta dukungan parpol yang sudah dipegang petahana atau paslon yang paling banyak memegang surat dukungan parpol saat ini. Karena dalam politik tidak ada kesepakatan bergaransi permanen. Yang ada bagaimana kepastian terhadap akomodasi kepentingan yang mampu diberikan balon kada ke pihak parpol di DPP.

Dengan begitu, peluang semacam ini tentu akan dimaksimalkan oleh oposisi. “Maka dalam hal terkait rekomendasi ini paslon oposisi lebih diuntungkan, dibanding paslon petahana,” jelasnya.

Ihsan menambahkan, paslon petahana dirugikan secara positioning   elektabilitas yang mestinya bisa dimaksimalkan saat ini. Dengan penundaan pilkada, petahana menjadi kehilangan efek kejut terhadap elektabilitas yang sudah dibangun jauh-jauh hari di publik. Paslon oposisi pun akan lebih banyak waktu untuk mempersiapkan logistik dan strategi. Serta bisa lebih memperkuat komunikasi politik ke parpol lain untuk mencari koalisi. “Semakin molor maka semakin repot mempertahankan elektabilitas, bahkan berpotensi disalip pihak lawan,” pungkasnya. (yan)