Gerabah Masih Bertahan Ditengah Himpitan Modernisasi

Gerabah Masih Bertahan Ditengah Himpitan Modernisas
GERABAH: Minah, salah seorang perajin gerabah di Dusun Penakak, tampak sedang membuat kerajinan yang terbuat dari bahan baku tanah liat. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Zaman yang serba canggih dan modern, kerajinan dari tanah liat, atau gerabah ternyata masih tetap bertahan. Para perajin tanah liat di Dusun Penakak, Desa Masbagik Timur, telah membuktikan hal itu.


JANWARI IRWAN – LOTIM


RUAS jalanan yang terdapat di sebuah dusun di Desa Masbagik Timur, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), menawarkan pemandangan yang unik. Sepanjang jalan dusun yang bernama Penakak ini terdapat ribuan kerajinan yang terbuat dari tanah liat. Kerajinan gerabah tersebut berjejer rapi, tampak siap dipasarkan atau dijual langsung.

Ya, ini adalah daerah kerajinan tanah liat yang terdapat di wilayah Lotim. Masyarakat yang ada di wilayah ini tahu betul caranya mencari nafkah dan hidup dari tanah liat ini. “Sudah dari kecil saya membuat kerajinan gerabah ini. Dari sini kami mencari nafkah untuk makan dan membiayai anak sekolah,” aku Minah, 55 tahun, salah seorang warga setempat, Minggu (28/5).

Usia Minah mungkin sudah tidak muda lagi, namun ia terlihat masih segar-bugar. Kedua tangannya terlihat cekatan membentuk sebuah kerajinan dari tanah liat. Bekerja seperti sudah sangat terlatih. Sebelah tangannya memutar alat pembuat kerajinan. Sementara sebelah tangan yang lainnya bergumul dengan tanah liat hitam membentuk sebuah pola. “Ini saya mau buat celengan,” cetusnya.

Bagi masyarakat Penakak, bergumul dengan tanah adalah pekerjaan setiap hari mereka. Karena kebanyakan masyarakat Penakak mencari nafkah dari kerajinan ini. “Bisa dilihat sendiri, hampir sepanjang jalan orang jualan kerajinan tanah ini. Alhamdulillah memang selalu ada saja yang datang beli,” tuturnya ramah.

Mulai dari pria hingga wanita, semua bergelut dengan tanah liat ini, membentuk berbagai macam bentuk kerajinan. Misalnya saja gerabah, asbak rokok, guci, jangkih untuk masak, wajan tanah liat, hingga kerajinan lainnya.

Minah mengaku telah menekuni usahanya ini selama puluhan tahun, bahkan saat masih kecil. Dia menekuni usaha ini bersama suaminya, Badran. “Saya yang buat dan jual di rumah, bapak (suaminya) yang keliling jualan pakai sepeda motor. Alhamdulillah, ada saja yang laku,” ujarnya.

Meski tak banyak, namun hasil dari berjualan kerajinan gerabah ini diakui Minah cukup untuk membiayai hidup keluarganya. Sekitar Rp 100 ribu – Rp 150 ribu, omset penjualan kerajinan yang dia kantongi setiap hari, dengan estimasi keuntungan Rp 30 ribu – Rp 50 ribu. Mengingat usaha kerajinan tanah liat ini dikatakannya juga membutuhkan modal.

“Kami beli tanah liat ini Rp 10 ribu per karung. Nanti setelah dibentuk kami juga kan harus bakar kerajinannya. Untuk membakarnya itu juga nanti kita bayar,” ucapnya sambil menunjuk lokasi pembakaran tak jauh dari rumahnya.

Setelah melalui berbagai proses, harga sebuah kerajinan tanah liat di banderol tidak terlalu mahal. Bayangkan saja, untuk sebuah asbak rokok ataupun sebuah celengan, harganya hanya Rp 5 ribu saja. Itu untuk yang ukuran kecil. Sedangkan untuk celengan yang berukuran besar atau bentuknya cukup unik, harganya tentu saja lebih. Misalnya saja untuk celengan bentuk ayam yang sangat unik itu dibanderul Rp 10 ribu sampai Rp 25 ribu.

“Kita nggak terlalu berharap untung yang banyak. Yang penting usaha ini tetap lancar, dan ada kita pakai, maka sudah cukup. Daripada kami nganggur nggak ada kerjaan,” ujar Minah.

Kerajinan gerabah Penakak juga telah memberikan dampak positif dalam bidang pendapatan dan taraf ekonomi, serta sosial masyarakat. Gerabah produksi Dusun Penakak ini pernah berjaya dan menjadi komoditas ekspor andalan Lotim, karena motif dan kualitasnya yang eksklusif. “Banyak orang yang sudah kaya dari kerajinan gerabah ini, bahkan sampai berhaji. Tapi untuk saat ini kondisinya biasa-biasa saja,” beber Minah.

Mereka yang biasa datang mencari kerajinan tanah liat di Dusun Penakak sambungnya, mulai dari anak-anak sekolah hingga para turis asing (wisatawan mancanegara). “Sering juga saya layani turis-turis itu kalau mereka datang kemari,” terang Minah.

Selera para pembeli menurutnya juga berbeda-beda. Jika anak sekolah kebanyakan memilih membeli celengan, maka para wisatawan biasanya lebih memilih membeli guci, pot hingga kerajinan lainnya. “Kami hanya berharap usaha ini bisa terus berjalan, bagaimanapun kondisi ekonomi. Biar ada kami pakai makan. Soalnya kalau disuruh kerja lain nanti kami bingung, soalnya sudah puluhan tahun cuma kerjanya dari dulu ini saja,” pungkasnya. (*)