Gempa Susulan Kembali Hantui Warga

Gempa Susulan Kembali Hantui Warga
HARAPKAN BANTUAN: Salah satu korban gempa tampak meratapi kondisi rumahnya yang sudah hancur. (MUHAMMAD GAZALI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Gempa susulan masih terus terjadi di pulau Lombok. Namun dipastikan, kekuatannya tidak akan sebesar gempa pertama yang mencapai 6,4 skala richter.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mataram, Agus Riyanto mengungkapkan, pada dasarnya fenomena yang terjadi saat ini masih wajar. Tidak perlu berpikir macam-macam. “Untuk gempa susulan masih terus terjadi saat ini, hingga pukul 01.00 Wita sudah terjadi 524 gempa susulan,” terangnya pada Jumat dini hari (3/8).

BACA JUGA: Pengungsi Mulai Diserang Penyakit

Tidak berselang lama setelah menyampaikan hal itu, wilayah Lombok kembali diguncang gempa. Hasil analisa BMKG menujukkan bahwa gempa bumi ini berkekuatan 4,9 skala richter. Episenter terletak pada kordinat 8,28 lintang selatan dan 116,64 bujur timur. Tepatnya pada jarak 27 kilometer arah timur laut Lombok Timur, pada kedalaman 10 kilometer. “Dengan memperhatikan lokasi episenter, kedalaman hiposenter, dan mekanisme sumbernya, maka gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores,” jelasnya.

Hasil analisis mekanisme sumber, menunjukkan gempa tersebut dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Guncangannya telah dirasakan di daerah Lombok Timur II SIG (III-IV MMI), Denpasar dan Karangaseem I SIG-BMKG (I-II MMI).

Kepada seluruh masyarakat, Agus terus mengimbau agar tetap tenang. Jangan sampai terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. “Gempa kali ini memang diikuti gempa susulan sampai ratusan kali untuk mencapai keseimbangannya,” kata Agus.

Magnitudo gempa susulan hingga saat ini fluktuatif. Namun cenderung terus melemah. Kecenderungan ini menunjukkan kondisi tektonik di sekitar pusat gempa yang makin stabil. “Semua gempa berkekuatan besar akan diikuti serangkaian gempa susulan. Jadi apa yang terjadi saat ini, banyaknya jumlah gempa susulan merupakan hal yang wajar,” ucapnya.

Hal yang terjadi saat ini, sangat terkait dengan adanya akumulasi energi yang terjadi di patahan. “Bisa saja terjadi energi langsung direlease semua saat gempa utama terjadi dan menyisakan sedikit energi untuk mencapai kesetimbangannya,” jelasnya.

BACA JUGA: LPMP Berikan Trauma Healing untuk Anak Korban Gempa

Secara keilmuan, lanjutnya, terlalu teknis untuk menjelaskan energi yang terakumulasi kepada masyarakat. “Yang jelas, kekuatan dan frekuensi akan menurun berdasarkan fungsi waktu,” ujar Agus. Elastisitas batuan juga menjadi faktor lain. Gambarannya, jelas Agus kembali, ada patahan di utara yang diakibatkan rotasi bumi. “Ada rumbukan yang mengakumulasi energi yang pada saat tertentu energi akan dilepaskan. Jadi gempa bumi yang selanjutnya ada proses mencari kesetimbangannya adanya gempa susulan,” tutup Agus.

Gempa susulan yang terjadi, hingga saat ini belum ada dilaporkan kerusakan bangunan. Begitu juga dengan luka-luka, gempa susulan tidak sampai mengakibatkan hal itu. Yang jelas, gempa susulan ini cukup membuat warga panik. Terutama korban yang rumahnya luluh lantak akibat gempa.

Seperti yang terjadi di Sembalun. Para pengungsi yang tidur di tendanya seakan trauma ketika dibangunkan gempa berkekuatan 4,9 SR tersebut. Warga langsung berhamburan keluar tenda dan mencari tempat lapang. Bahkan, ada yang terlihat menggendong bayinya yang sedang terlelap.

Gempa ini membuat warga tak bisa melanjutkan tidurnya. Mereka terpaksa membuat api unggun sembari menunggu subuh tiba. Barulah kepanikan warga terlihat agak mereda setelah dibujuk sinar matahari.

BACA JUGA: Palestina Bantu Korban Gempa Lombok

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, H Mohammad Rum mengungkapkan secara rinci kerugian yabg diakibatkan gempa. “Tim masih akan terus melakukan updating sampai masa tanggap darurat berakhir. Sejauh ini sudah terhitung Rp 342.290.287.500,” sebutnya.

Gempa bumi yang terjadi tidak hanya merenggut 17 nyawa orang. Namun juga berdampak pada kerusakan parah di sektor perumahan dan permukiman warga, infrastruktur, ekonomi produktif, sektor sosial dan lintas sektor lainnya.

Hasil hitung cepat sementara yang mencapai Rp 342.290.287.500, terdiri dari kerusakan di sejumlah titik. “Kabupaten Lombok Timur, menjadi yang terbesar kerugiannya,” kata Rum. Total nilai kerusakan dan kerugian di Lombok Timur sebesar Rp 246.538.100.000. Terdiri dari Sektor Permukiman sebesar Rp 203.799.210.000, sektor Infrastruktur sebesar Rp 1.157.500.000, sektor Ekonomi Produktif sebesar Rp 1.481.000.000, sektor Sosial sebesar Rp 40.039.962.300.000, dan lintas sektor sebesar Rp 138.090.000. 

Untuk di Kabupaten Lombok Utara (KLU), nilai kerusakan dan kerugian sebesar Rp 95.565.500.000. Terdiri dari sektor permukiman sebesar Rp 83.713.650.000, Infrastruktur sebesar Rp 81.500.000, Ekonomi Produktif sebesar Rp 1.058.850.000. “Sektor sosial sebesar Rp 10.637.500.000, dan lintas sektor sebesar Rp 74.000.000,” ungkap Rum.

BACA JUGA: Pendakian Rinjani Ditutup Total

Selanjutnya untuk Kabupaten Lombok Barat dan Sumbawa Barat, dengan nilai kerusakan dan kerugian di sektor permukiman sebesar Rp 186.587.500. “Saat ini kita fokus masih tangani masa darurat paska gempa,” tutup Rum. (zwr)