Gempa Aceh Telan Korban 94 Orang Meninggal Dunia

Gempa Aceh.

JAKARTA – Kepanikan melanda penduduk yang berada di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh kemarin (7/12). Gempa berkekuatan 6,5 Skala Ritchter (SR) melanda wilayah tersebut. Tepatnya, pukul 05.03 WIB. Akibat guncangan yang terjadi, ratusan bangunan rusak, 94 orang tewas dan 617 luka.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menuturkan, proses pencarian dan penyelamatan korban di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen dan Pidie masih terus dilakukan. Tim SAR gabungan masih mencari korban yang diperkirakan terjebak dalam reruntuhan bangunan hingga pukul 20.30 WIB.  ”Ratusan personil sudah diterjunkan. Ada dari unsure TNI 747 Personil, Tagana 40, Tim Pusat Krisis Kesehatan Aceh 6 personil, BNPB, Basarnas, dan relawan. Kendalanya, adanya kekurangan alat berat,” ujarnya di Jakarta, Rabu kemarin (7/12).

Data sementara yang berhasil dihimpun oleh BPBD dan sudah dikonfirmasi, terdapat 94 orang tewas, 1 orang hilang, 128 orang luka berat, 489 orang luka ringan dan ratusan bangunan rusak. Dari jumlah tersebut, gempa paling banyak menelan korban di Kabupaten Pidie Jaya. Tercatat, koban tewas sebanyak 91 orang, 125 orang luka berat dan 411 Orang luka ringan. Sementara di Kabupaten Bireun, dua orang tewas, 8 luka berat, 123 orang luka ringan dan 10 ribu santri terdampak. Untuk Kabupaten Pidie, dilaporkan satu orang tewas dan satu orang hilang.

”Seluruh korban meinggal dirujuk ke RSUD Pidie Jaya, Rs Pidi dan RS Sigli. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah karena proses pendataan masih terus berlangsung,” ujar Sutopo.

Selain menelan korban, gempa yang berpusat di 5.19 LU – 96.36 BT itu juga merusak bangunan yang ada. Di Kabupaten Pidie Jaya, 105 Unit ruko roboh, 86 Unit rumah rusak berat, 13 Unit Bangunan  Masjid roboh, 1 unit bangunan Indomaret Roboh dan 1 unit bangunan  RSUD Pidie rusak berat.

Kondisi yang sama juga terjadi di Kabupaten Bireun dan Kabupaten Pidie. Bangunan rusak berat. Di Kabupaten Pidie, sebanyak 40 unit rumah rusak berat. Sementara di Kabupaten Bireun, tercatat 1 Unit Masjid, 35 unit rumah, 6 unit ruko dan 1 kilang padi rusak berat. Selain itu, satu unit bangunan kampus roboh.  “Kerusakan terjadi cukup berat karena pusat gempa berada di darat. Kemudian, mekanisme gempa mendatar. Sehingga, dampaknya sangat keras. Banyak korban yang tertimbun bangunan. Apalagi, banyak bangunan yang tak didesain tahan gempa,” jelas alumni Universitas Gajah Mada itu.

Sutopo menjelaskan, bangunan dengan desain tahan gempa ini sejatinya sangat diperlukan di Indonesia. Apalagi, Terdapat 386 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 157 juta jiwa yang tinggal di daerah rawan tinggi dari bahaya gempabumi di Indonesia. Sayang, hingga kini jumlah rumah tahan gempa ini masih sangat minim. Hal ini dikarenakan oleh minimnya pengetahuan warga dan mahalnya komponen untuk membangun rumah tahan gempa.  ”Biaya komponennya bisa 30-50 persen lebih mahal dari yang biasa. Oleh sebab itu dibutuhkan subsidi bagi mereka yang rumahnya berada di daerah rawan gempa,” papar pria asli Boyolali itu.

BACA JUGA :  Dana Bantuan Gempa Rp 55 Miliar Belum Ditransfer

Merespon bencana yang terjadi, Gubernur Aceh telah mengeluarkan SK Tanggap Darurat Bencana Gempa terhitung mulai 7 Desember 2016 sampai 20 Desember 2016. Setelah usai, status tanggap darurat akan dievaluasi untuk diputuskan akan diteruskan atau tidak. 

Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menambahkan, berbagai bantuan dari pemerintah untuk penanganan di masa darurat sudah disiapkan dan sedang dikirim ke lokasi bencana gempa bumi di Pidie Jaya, Aceh dari Gudang Pusat dan Regional Kementerisn Sosial Sumatera. Bantuan logistik yang dikirim antara lain tenda keluarga, tenda gulung, matras, selimut, family kit , food ware , kids ware , baju, mi instan, makanan kaleng, dan berbagai jenis sembako. Total nilai bantuan yang akan disalurkan senilai Rp2.096.880.256.

”Insyallah bantuan sampe lusa, Jum'at 9 Desember. Kementerian Sosial melalui tagana juga sudah berada di garis depan untuk membantu proses evakuasi. Selain itu, dapur umum lapangan juga sudah didirikan sebagai bagian dari aksi tanggap darurat,” paparnya. Tiap satu dupur umum lapangan ini, mampu menyajikan hingga 1000 porsi makanan bagi para pengungsi.

Selain itu, Kemensos juga telah menyiapkan dana bantuan tunai bagi korban. Masing-masing Rp15 juta untuk korban meninggal dan maksimal Rp5 juta untuk korban luka-luka.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menuturkan dua sampai tiga hari ke depan masih akan terjadi gempa susulan di sekitar pusat gempa Pidie Jaya. Namun dia meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh isu-isu yang menyesatkan.

’’Sampai tadi malam pukul 18.11 terjadi 23 kali gempa susulan. Gempa paling akhir berkekuatan 3,5 SR,’’ tuturnya. Namun dari sisi kekuatan daya guncangnya, menunjukkan tren pelemahan. Tren pelemahan ini membuat Daryono tenang. Sebab mengindikasikan tidak ada lagi potensi gempa yang lebih besar.

Menurutnya gempa susulan ini sangat wajar mengiringi gempa yang dipicu patahan. Sebab di titik patahan, akan terjadi patahan lanjutan yang berbentuk garis lurus.

Daryono menuturkan titik gempa di Pidie Jaya berada di tanah yang gembur. Sehingga memiliki dampak meningkatkan daya guncangnya. Di lapisan permukaan lokasi gempa, merupakan tanah berpasir yang lunak. Sebaliknya ketika pusat gempa berada di tanah yang mengandung batu, guncangannya akan teredam.

Menurut dugaan Daryono gempa akibat patahan di Pidie Jaya itu memanjang antara daerah Samalanga dan Sipopok. Dia menjelaskan gempa yang diakibatkan oleh patahan memiliki daya magnetudo cenderung lebih kecil ketimbang gempa dari tumbukan lempeng.

Daryono menuturkan wilayah yang berpotensi mengalami gempa akibat tumbukan lempeng ada di laut bagian barat pulau Sumatera. Sementara untuk lokasi gempa yang dipicu oleh patahan, sangat sulit untuk diprediksi.

Dia menjelaskan gempa di Pidie Jaya pagi kemarin, sama dengan kejadian gempa bumi di Jogjakarta pada 2006 lalu. Saat itu gempa mengguncang Jogjakarta dengan kekuatan 6,4 SR dengan pusat gempa di kedalaman 11 km. ’’Pusatnya sama-sama di daratan,’’ jelasnya. Namun dengan kepadatangan pemukiman di Jogjakarta, saat itu gempa memakan korban hingga enam ribu orang lebih. (mia/wan/byu/idr)