Gelapkan Mobil Rental untuk Bisnis Tokek

Dua pelaku dan barang bukti hasil penggelapannya diamankan di Polda NTB. (Dery Herjan/Radar Lombok)

MATARAM- Tim Puma Polda NTB menangkap pelaku penggelapan mobil rental berinisial PIH (52 tahun) warga Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pelaku ditangkap kemarin di salah satu di jalan Panca Usaha, Kota Mataram. Penangkapan ini dilakukan atas adanya laporan korban LP/213/VI/2020/NTB/SPKT, tanggal 28 Juni 2020.Dimana korban dalam hal ini Ahmad Tarikal melaporkan pelaku PIH atas kasus penggelapan beberapa unit mobil merek Toyota New Avanza.
Kabid Humas Polda NTB Kombes Artanto menjelaskan kronologis kejadiannya bermula saat pelaku datang ke kantor Rencary Lombok Trish pada 30 Mei 2020 untuk menyewa 1 unit mobil merek Toyota New Avanza. Pelaku menyewa selama 14 hari. Uang sewa per hari sebesar Rp 250 ribu. Lalu pelaku membayar sewa sebesar Rp 1,5 juta sebagai uang muka. Kemudian pada Minggu 31 Mei 2020, pelaku kembali menyewa 1 unit mobil merek Toyota dengan jangka waktu 14 hari juga dengan uang sewa yang sama. Selanjutnya pada Selasa 9 Juni 2020 pelaku kembali menyewa 1 unit mobil merek Toyota dengan jangka waktu selama 7 hari. Pelaku membayar sewa Rp 1 juta sebagai uang muka
Setelah pelaku menyewa 3 unit mobil, pelaku dibantu rekannya berinisial SHM (41 tahun) warga Kediri Selatan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat. “Ia juga sudah kita amankan,”ungkap Artanto.

Mobil tersebut digadai satu persatu.
Pertama pada tanggal 31 Mei 2020 kepada seseorang berinisial MTF di Batukliang, Lombok Tengah sebesar Rp 30 juta. Selanjutnya pada tanggal 30 Mei 2020, pelaku kembali menggadaikan 1 unit mobil yang disewanya kepada seseorang berinisial MA di Taman Ceria Udayana, Mataram sebesar Rp 30 juta.
Terakhir pada tanggal 10 Juni 2020 dengan orang yang sama di tempat yang sama pula.
Pelaku menggadaikannya sebesar Rp 25 juta tanpa sepengetahuan pemilik.
Seluruh uang gadai kemudian diberikan SHM kepada PIH. Oleh PIH uangnya
kemudian digunakan untuk modal bisnis jual beli tokek dan biaya hidupnya selama di Lombok.

Artanto mengatakan bahwa kedua tersangka menjalankan modus kejahatannya dengan memanfaatkan pertemanannya dengan para korban. “Karena kebetulan korban dengan tersangka berteman baik sehingga tidak ada curiga sampai STNK (surat tanda nomor kendaraan) aslinya juga diberikan,” ujarnya.

Kini kedua tersangka yang telah diamankan di Mapolda NTB masih menjalani penyidikan. Karena perbuatannya, kedua tersangka disangkakan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan. “Untuk pidana penggelapan, ancamannya 4 tahun penjara,” ucapnya.(der)