GELANDANGAN

Catatan kontemplasi Cukup Wibowo

Illustrasi
Illustrasi

Dunia ini adalah bentangan yang berukuran waktu. Bila kita masih hidup, maka waktu akan selalu mengukur seluruh yang kita lakukan di dunia ini. Hanya setelah kematian menjemput yang membuat segala urusan kita dengan waktu menjadi berhenti. Tak ada lagi ukuran, kecuali jejak-jejak perbuatan dari apa yang pernah kita perbuat.

Tapi siapakah kita sesungguhnya? Apakah kita tubuh dengan berbagai atribut diri sebagai ini dan itu yang membuat kita bangga tanpa tandingan? Atau sebaliknya, tubuh dengan kenestapaan diri karena keterpurukan yang tak pernah usai? Atau kita sesungguhnya tubuh dalam rumusan yang serba tanggung: tidak kalah dan tidak juga menang, yang membuat diri kita serupa pengikut untuk peristiwa dan lakon dimana kekuasaan menempatkan kita ada di dalamnya?

Di dalam perjalanan waktu, tak ada yang permanen kecuali harapan. Dan harapan akan selalu dihadiahkan bagi siapa saja yang menginginkannya. Harapan itu rumusan yang akan memenuhi pikiran yang menghendakinya. Mau jadi apa atau tidak mau jadi apa-apa adalah contoh yang menggambarkan keinginan seseorang untuk menuju pada apa yang dikehendakinya. Nilai dan konsekwensinya jelas berbeda.

Menjadi pemenang di awal tapi kalah di akhir pastilah tak menyenangkan. Berbeda rasanya bila di awal kalah kemudian di akhir justru menang. Semaksud dengan makna tabungan, maka saldo yang dihasilkan oleh seseorang itu tergantung dari caranya membelanjakan tindakan. Banyak membelanjakan kekeliruan di masa-masa sanggupnya, tentu akan membuat seseorang memiliki sedikit saldo ketenangan hidup yang semestinya dirasakan di akhirnya. Hidup tak bisa lepas dari yang namanya neraca keseimbangan. Pepatah lama Sasak selalu mengingatkan tentang itu, solah sak tegawe solah sak tedait, lenge sak tegawe lenge sak tedait (baik yang diperbuat baik juga yang didapat, jelek yang diperbuat jelek juga yang didapat).

Nasihat itu tak hanya untuk yang mengerti, pada yang tak mengerti pun nasihat itu justru diperlukan. Karena sifat manusia itu selalu mudah keblinger oleh godaan nafsunya sendiri.

Nafsu, seperti dalam riwayat yang dikisahkan oleh Wuhaib bin Al-Warad dalam buku yang ditulis oleh Sa’ad Yusuf Abu Azis, yang berjudul “Azab-Azab Yang Disegerakan”, “Suatu saat, iblis pernah menampakkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakariya. Iblis berkata, ‘Aku ingin menasihatimu.’ Yahya berkata, ‘Omong kosong engkau akan menasihatiku. Jika mau, ceritakan saja tentang keadaan manusia yang sering kaugoda!’ Iblis berkata, ‘Manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama sangat tangguh untuk digoda, tetapi kami kadang bisa menaklukkannya. Mereka adalah orang-orang yang kami goda dengan dosa-dosa kecil. Ketika menyadari terperosok dosa, mereka segera bertobat kepada Allah. Upaya kami pun sia-sia karena tobat mereka. Ketika kami menggoda lagi, mereka bermaksiat kembali. Namun, ketika menyadari dosa kecilnya, mereka segera bertobat lagi. Kami pun tidak pernah putus asa untuk menaklukkan mereka. “‘Kelompok kedua adalah mereka yang gampang kami bujuk untuk melakukan dosa. Kami permainkan mereka seperti bola di tangan anak kecil. Kami memutar-balik mereka semau kami. Kami benar-benar telah dapat menggenggam jiwa raga mereka.

Adapun kelompok ketiga adalah orang-orang seperti dirimu. Mereka terjaga dari dosa. Kami tidak mampu sedikit pun menguasai mereka.’ Yahya berkata, ‘Baiklah. Tapi, apakah engkau pernah menggodaku?’ Iblis menjawab, ‘Hanya sekali, ketika engkau sedang makan malam. Aku berupaya membuatmu tergiur untuk menyantap makananmu dengan lahap. Karena kekenyangan, malam itu engkau tertidur pulas dan tidak bangun malam. Padahal, engkau sudah terbiasa bangun malam.’ Yahya berkata, ‘Kalau begitu, aku pastikan bahwa diriku tidak akan pernah kenyang hingga mati.’ Iblis berkata, ‘Aku pastikan juga bahwa tidak akan pernah menasihati manusia setelah ini.”

Keempat, melalui pintu tamak. Jika ketamakan telah merasuki jiwa seseorang, setan akan menjeratnya dengan berbagai kesenangan, lalu ia suka memamerkan diri dan kekayaannya serta menuhankan harta benda.

Kelima, melalui pintu ketergesaan. Ketika seseorang dilanda ketergesaan, setan segera membisiki jiwanya tentang kebaikan tergesa-gesa tanpa ia sadari. Ketergesaan datang dari setan, dan kehati-hatian datang dari Allah.

Keenam, melalui pintu fanatik terhadap satu mazhab atau seorang guru sehingga menimbulkan kedengkian satu pihak terhadap pihak yang lain.

Ketujuh, melalui pintu buruk sangka kepada orang lain. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak buruk sangka. Sesungguhnya sebagian buruk sangka adalah dosa.” (QS AI-Hujurat [49]: 12).

Kedelapan, melalui pintu kikir dan takut miskin. Sufyan Al-Tsauri berkata, “Tidak ada senjata setan yang lebih ampuh daripada takut miskin. Jika manusia diserang senjata ini, ia akan terjerumus pada kebatilan, enggan menunaikan hak, dan menjadi budak hawa nafsu. Selain itu, ia pun akan buruk sangka kepada Allah.”

Begitu kuatnya nafsu untuk terus menggoda kita. Dibuatnya diri kita bangkrut tanpa memiliki kebanggaan apa-apa. Kebangkrutan tak hanya soal harta, tapi juga soal nilai diri karena kekeliruan kita dalam membelanjakan tindakan di awal kesanggupan. Apa yang patut dibanggakan bila di akhir kehidupannya seseorang tak ubahnya gelandangan? Semoga kita senantiasa terjaga dan menjaga diri untuk menjadi lebih baik di akhir kisah hidup kita. Karena sesungguhnya yang akhir itu lebih baik dari yang permulaan.

Kopajali, Sabtu 20 Juni 2020