Gegara Konten Reklame, Moto Religius Terabaikan

KONTEN REKLAME: Kerap menimbulkan protes masyarakat, pihak Dewan meminta semua konten dalam reklame maupun bando yang terpasang di jalan-jalan Kota Mataram ditata ulang. (SUDIR/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Meski telah diturunkan, namun reklame dengan konten berbau pornografi yang sebelumnya terpasang di Jalan Pejanggik, masih menjadi perbincangan. Itu lantaran reklame tersebut, dinilai telah mengabaikan moto “Religius”, yang sudah puluhan tahun digagas para tokoh di Kota Mataram.

Ketua Fraksi di DPRD Kota Mataram juga menyayangkan masih adanya kejadian itu. Seperti disampaikan Ketua Fraksi PKS Hj Istianingsih, yang meminta Pemkot Mataram untuk menertibkan tayangan yang tidak pantas.

“Memangnya tidak ada ya foto dan konten yang lebih elegan, sopan dan menarik perhatian khalayak. Kita sangat sayangkan,” katanya kepada Radar Lombok, Rabu kemarin (20/7).

Baca Juga :  Broker Kamar Hotel Sulit Dikendalikan

Padahal lanjutnya, moto Religius di Kota mataram sudah berjalan hampir 20 tahun. Namun sekarang moto Religius terkesan terkikis, berganti dengan banyak tagline. “Jangan hanya untuk alasan komersial, kemudian menampilkan sesuatu yang tidak pantas. Apalagi reklame ini dipasang depan sekolahan, sehingga banyak anak-anak yang membaca. Semoga tidak kecolongan lagi,” tegasnya.

Politisi  PKS ini juga meminta Pemkot Mataram untuk menertibkan tayangan yang tidak pantas, dengan memperketat pengawasan. “Kota Mataram adalah barometer di NTB,” ujarnya.

Baca Juga :  Banjir Rob Kembali Sambangi Bintaro Ampenan

Sementara Ketua Fraksi PDI Perjuangan, Nyayu Ernawati juga menyanyangkan masih adanya konten-konten reklame yang berbau  pornografi. Terlebih ini sudah dua kali sudah terjadi di Kota Mataram. “Ini dibutuhkan pengawasan yang ketat, termasuk dalam setiap pemasangan maupun isi konten,” tuturnya.

Pihaknya juga berharap ada langkah-langkah tegas dari dinas terkait, termasuk melakukan penertiban. “Apalagi Kota Mataram juga sedang gencar melakukan sosilisasi sebagai Kota Layak Anak (KLA) sejak beberapa tahun silam,” pungkasnya. (dir)